Harga Bahan Baku Tekstil Naik, UMKM Fashion Mulai Waspada Tekanan Produksi
- 31 Mei 2026 08:02 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo - Pelaku UMKM sektor fashion mulai diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kenaikan biaya produksi akibat melonjaknya harga bahan baku tekstil global. Kenaikan tersebut dipicu memanasnya konflik geopolitik di kawasan Selat Hormuz yang berdampak langsung terhadap harga minyak dunia dan industri petrokimia.
Harga minyak global yang menembus kisaran USD 110 per barel mulai memengaruhi industri tekstil, khususnya bahan baku berbasis polyester yang menjadi komponen utama berbagai produk pakaian. Kondisi ini diperkirakan akan berdampak pada produsen kain, konveksi rumahan, hingga pelaku usaha pakaian skala kecil di daerah.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, menyebut harga paraxylene sebagai bahan baku utama polyester naik hingga 40 persen hanya dalam dua pekan terakhir dan kini mencapai USD 1.300 per ton.
“Kenaikan harga bahan baku ini bergerak cepat dari industri hulu hingga pakaian jadi. Dalam satu minggu sudah menyentuh produsen kain dan dua minggu berikutnya mulai berdampak ke sektor pakaian,” ucap Redma dikutip melalui ukmindonesia.id, Kamis 28 Mei 2026.
Selain paraxylene, sejumlah bahan turunan lain seperti purified terephthalic acid (PTA) dan monoethylene glycol (MEG) juga mengalami kenaikan harga. Dampaknya diperkirakan mulai dirasakan pelaku usaha fashion lokal yang bergantung pada kain berbasis polyester dan bahan sintetis lainnya.
Di tingkat konsumen, kenaikan harga pakaian diperkirakan mencapai sekitar 10 persen. Kondisi tersebut dinilai cukup sensitif bagi pasar menengah bawah yang selama ini menjadi segmen utama produk fashion lokal dan UMKM.
Sekretaris Jenderal APSyFI, Farhan Aqil Syauqi, mengatakan industri tekstil skala besar mulai melakukan penyesuaian strategi produksi dan mengalihkan fokus penjualan ke pasar domestik untuk menjaga keberlangsungan usaha.
“Kondisi ini membuat persaingan di pasar lokal akan semakin ketat. Pelaku UMKM perlu menyiapkan strategi agar tetap mampu bersaing di tengah kenaikan biaya produksi,” kata Farhan.
Selain tekanan biaya bahan baku, pelaku UMKM fashion juga dihadapkan pada potensi melemahnya daya beli masyarakat. Sejumlah sektor lain seperti otomotif, elektronik, farmasi, hingga makanan dan minuman juga mulai mengalami kenaikan biaya produksi akibat dampak konflik global tersebut.
Pelaku usaha fashion pun mulai didorong melakukan langkah antisipatif seperti audit bahan baku, negosiasi harga dengan pemasok, efisiensi produksi, hingga penyesuaian harga jual secara bertahap agar margin keuntungan tetap terjaga.
Pelaku UMKM juga disarankan memperkuat nilai tambah produk melalui kualitas desain, identitas merek, dan pelayanan pelanggan. Langkah tersebut dinilai penting agar produk lokal tetap memiliki daya saing meski terjadi tekanan harga di pasar.
Kenaikan harga bahan baku tekstil global menjadi peringatan bagi pelaku usaha fashion untuk lebih adaptif menghadapi dinamika ekonomi internasional. Kemampuan membaca situasi dan mengambil keputusan cepat dinilai menjadi faktor penting menjaga keberlangsungan usaha di tengah tekanan pasar saat ini.
Pewarta: Anwar Perambahan
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....