Kulit Pisang Bisa Tekan Biaya Pakan Ternak
- 27 Feb 2026 13:20 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo - Biaya pakan dalam usaha peternakan rakyat bukan sekadar pengeluaran rutin, melainkan fondasi utama struktur biaya produksi. Pada usaha ayam broiler maupun penggemukan ruminansia, pakan menyumbang sekitar 60–70 persen dari total biaya. Kenaikan harga bahan baku, terutama jagung sebagai sumber energi utama ransum, langsung menekan margin keuntungan peternak kecil dan menengah.
Data statistik nasional menunjukkan harga jagung produsen mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir. Laporan komoditas pertanian pemerintah juga menegaskan jagung masih menjadi komponen dominan dalam formulasi pakan nasional. Ketika harga jagung naik 10 persen, biaya pakan ikut terdorong naik, sementara harga jual ternak sering kali tidak bergerak secepat itu.
Dalam simulasi usaha ayam broiler skala 1.000 ekor, biaya pakan per siklus bisa mencapai Rp25 juta. Kenaikan 10 persen berarti tambahan Rp2,5 juta per siklus atau sekitar Rp15 juta dalam enam siklus setahun. Jika laba bersih awal hanya Rp5 juta per siklus, maka hampir separuh keuntungan tergerus. Pada usaha kambing 40 ekor, kenaikan 10 persen setara tambahan Rp3,6 juta per tahun—angka yang cukup signifikan untuk usaha rakyat.
Ketergantungan tinggi pada satu komoditas membuat struktur biaya sangat sensitif terhadap gangguan pasokan, musim, distribusi, hingga kebijakan perdagangan. Dalam manajemen risiko usaha, diversifikasi bahan campuran ransum menjadi pendekatan realistis untuk mengurangi dominasi satu komponen tanpa mengorbankan keseimbangan nutrisi.
Salah satu alternatif yang mulai dilirik adalah limbah kulit pisang. Indonesia merupakan produsen pisang terbesar ketiga dunia setelah India dan China. Laporan riset yang dirangkum CNBC Indonesia pada 2025 menyebut produksi pisang nasional menembus lebih dari 9 juta ton per tahun. Besarnya produksi berarti limbah kulit pisang juga melimpah.
Menurut Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, pisang tumbuh optimal di wilayah tropis dengan curah hujan cukup—kondisi yang banyak ditemukan di Indonesia. Secara komposisi, kulit pisang mengandung karbohidrat, serat kasar, serta mineral seperti kalium dan kalsium. Kandungan proteinnya memang rendah sehingga tidak bisa menjadi pakan tunggal, tetapi dalam proporsi tertentu dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran ransum.
Sejumlah penelitian menunjukkan fermentasi mampu meningkatkan kecernaan kulit pisang dibandingkan kondisi segar. Dengan formulasi terukur, pemanfaatannya dapat membantu menekan biaya pakan tanpa mengganggu performa ternak. Namun proporsi penggunaannya tetap harus dikendalikan agar tidak menurunkan kualitas nutrisi secara keseluruhan.
Praktik ini telah diterapkan, salah satunya oleh kelompok peternak binaan BAZNAS Kabupaten Ciamis di Jawa Barat. Mereka memanfaatkan limbah kulit pisang sebagai campuran pakan domba dalam program pemberdayaan ekonomi. Skala penerapannya memang terbatas, tetapi menunjukkan bahwa pendekatan ini bukan sekadar wacana akademik.
Dalam simulasi usaha kambing 40 ekor, substitusi parsial kulit pisang mampu menekan biaya Rp350 ribu per bulan. Jika biaya angkut dan fermentasi Rp250 ribu, penghematan bersih sekitar Rp100 ribu per bulan atau Rp1,2 juta per tahun. Dalam lima tahun, nilainya mencapai Rp6 juta—cukup untuk menambah indukan atau memperbaiki kandang. Bagi usaha rakyat, efisiensi kecil yang konsisten dapat menjadi penentu keberlanjutan jangka panjang.
Pewarta: Anwar Perambahan