Pengusaha Soroti Biaya Pengiriman Jadi Kendala Ekspor
- 17 Feb 2025 15:33 WIB
- Gorontalo
KBRN, Gorontalo : Persoalan utama dalam dunia ekspor di Provinsi Gorontalo bukanlah terkait dengan kualitas barang atau komoditas, melainkan lebih pada tingginya biaya pengiriman. Hal ini disampaikan Sartono Nusi, warga Bone Bolango kepada RRI pada program Gorontalo pagi ini, Selasa (18/02/25).
Menurutnya, pengalaman ekspor yang telah ia dijalani beberapa tahun terkahir ini, terutama terkait dengan kelapa, menunjukkan biaya pengiriman menjadi kendala serius. Ia menjelaskan, pengiriman komoditi dari Gorontalo harus melalui pelabuhan Surabaya atau Jakarta, sehingga hal ini mempengaruhi biaya dan waktu pengiriman yang sangat tinggi.
“Saya sudah banyak pengalaman dalam melakukan ekspor, terutama kelapa. Pada tahun 2019, kami bahkan mengimpor kelapa muda ke Australia. Namun, biaya yang kami keluarkan sangat besar,” ujar Sartono.
“Harapan kami adalah tidak hanya bisa mengirim barang melalui Gorontalo. Selama ini, kami harus melalui pelabuhan di Surabaya atau Jakarta. Bagaimana Kantor Bea dan Cukai serta Karantina bisa mendatangkan kontainer untuk semua komoditi ekspor dari Gorontalo? Ini menjadi masalah besar bagi kami,” tegasnya.
Sartono juga menyoroti, hingga saat ini, Gorontalo belum memiliki fasilitas kontainer ekspor sendiri, sehingga barang harus dikirim terlebih dahulu ke Surabaya atau Jakarta sebelum dapat di ekspor ke negera tujuan. Ia berharap agar masalah ini mendapat perhatian serius dari pemerintah provinsi Gorontalo. Salah satu solusi yaitu memberikan keringanan biaya pengiriman sehingg dapat mendukung pelaku UMKM dan eksportir agar dapat lebih berkembang tanpa dibebani dengan biaya yang sangat tinggi.
"Kontainer ekspor di Gorontalo ini belum ada. Jadi, kami harus kirim dulu barang ke Surabaya atau Jakarta,” jelasnya.
“Semoga persoalan ini bisa menjadi perhatian serius dari pemerintah provinsi Gorontalo, termasuk memberikan keringanan bagi pelaku UMKM dan kami sebagai eksportir untuk biaya pengiriman. Jangan kami dibebani dengan biaya yang sangat tinggi,” harap Sartono.
Sartono menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa Gorontalo memiliki potensi besar dalam sektor ekspor, mengingat adanya beberapa Pelabuhan yang ada di Provinsi Gorontalo. Harapan besar dari Sartono dan para pelaku ekspor lainnya adalah agar fasilitas dan infrastruktur ekspor di Gorontalo dapat lebih ditingkatkan, sehingga mempermudah akses ke pasar internasional tanpa harus bergantung pada pelabuhan-pelabuhan di luar daerah.
"Kita memiliki pelabuhan di Kota Gorontalo, Pelabuhan Anggrek, dan apa gunanya pemda membangun pelabuhan ini jika tidak dimanfaatkan untuk mempermudah ekspor,” ucapnya nya. (RA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....