Keterbatasan Listrik Masih Jadi Kendala Guru di Sekolah Wilayah 3T
- 06 Okt 2026 13:44 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo — Keterbatasan infrastruktur masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran di sekolah wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T.
Salah satu persoalan yang masih dirasakan adalah keterbatasan akses listrik. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi aktivitas sekolah, tetapi juga membuat sejumlah sarana pembelajaran berbasis teknologi belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Guru SDN 10 Kabila Bone, Hasan Djamaini, mengatakan ketersediaan listrik menjadi kendala utama dalam menunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah yang berada di wilayah terpencil.
“Kendala utama dalam mengajar di daerah terpencil yang pertama dengan listriknya dulu,” ujar Hasan.
Menurut Hasan, dari sisi sarana dan prasarana, sekolah sebenarnya telah mendapatkan sejumlah dukungan. Namun, fasilitas yang diterima belum sepenuhnya dapat digunakan karena tidak tersedianya sumber listrik yang memadai.
Ia menjelaskan, sekolah sebelumnya telah menerima PID untuk mendukung kebutuhan sarana dan prasarana. Akan tetapi, fasilitas tersebut hingga kini belum dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya akibat persoalan listrik.
“Kami sendiri dalam masalah sarana-prasarana dari kemarin sudah menerima PID. Namun sampai sekarang kami tidak pernah gunakan karena tidak ada listrik,” katanya.
Kondisi serupa juga terjadi pada pemanfaatan perangkat teknologi untuk menunjang proses pembelajaran. Sekolah pernah memperoleh dukungan melalui BOS Kinerja dan BOS Afirmasi yang kemudian diupayakan untuk pengadaan beberapa unit laptop.
Pengadaan perangkat tersebut diharapkan dapat membantu guru dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih variatif dan menyesuaikan perkembangan teknologi. Namun, keterbatasan listrik kembali menjadi kendala dalam penggunaannya.
“Kami juga pernah menerima BOS Kinerja dengan BOS Afirmasi yang kami upayakan untuk membeli beberapa buah laptop, tetapi terkendala listrik yang ada di sana,” ungkap Hasan.
Meski menghadapi keterbatasan fasilitas, guru tetap berupaya memastikan proses pembelajaran berjalan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyesuaikan materi dan metode pembelajaran dengan kondisi lingkungan sekitar.
Pendekatan pembelajaran secara kontekstual menjadi pilihan agar peserta didik tetap mendapatkan pengalaman belajar yang sesuai dengan kondisi di wilayah tempat mereka tinggal.
“Makanya kami selalu memaksimalkan bagaimana pembelajaran-pembelajaran yang secara kontekstual menyesuaikan dengan lingkungan yang ada,” jelasnya.
Hasan menilai ketersediaan infrastruktur dasar menjadi bagian penting dalam mendukung pemanfaatan berbagai bantuan dan fasilitas pendidikan yang telah diberikan kepada sekolah.
Dengan dukungan listrik yang memadai, sarana seperti laptop dan fasilitas pembelajaran lainnya diharapkan tidak hanya tersedia, tetapi juga dapat digunakan secara optimal untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.
Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan di wilayah 3T tidak hanya membutuhkan dukungan perangkat pembelajaran, tetapi juga infrastruktur dasar yang memungkinkan fasilitas tersebut dapat digunakan secara berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....