Makan Pedas, Rahasia Umur Panjang?

  • 25 Jan 2026 16:14 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Makanan pedas telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner masyarakat Indonesia, termasuk di Gorontalo. Di balik sensasi “terbakar” yang ditimbulkan cabai, sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa konsumsi makanan pedas dalam jumlah wajar justru berpotensi memberikan manfaat kesehatan jangka panjang.

Salah satu senyawa aktif utama dalam cabai adalah capsaicin, zat yang memberi rasa pedas sekaligus memiliki efek biologis pada tubuh. Penelitian yang dipublikasikan oleh Harvard T.H. Chan School of Public Health menyebutkan bahwa orang yang rutin mengonsumsi makanan pedas memiliki risiko kematian 14 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsi makanan pedas.

Studi tersebut menganalisis data puluhan ribu responden selama bertahun-tahun dan menemukan hubungan antara konsumsi cabai dengan penurunan risiko kematian akibat penyakit jantung, kanker, serta gangguan pernapasan. Efek ini dikaitkan dengan kemampuan capsaicin dalam meningkatkan metabolisme, memperbaiki fungsi pembuluh darah, serta mengurangi peradangan kronis.

Selain itu, capsaicin diketahui mampu merangsang pelepasan endorfin, hormon yang berperan dalam meningkatkan suasana hati dan mengurangi stres. Kondisi mental yang lebih baik secara tidak langsung turut berkontribusi pada kesehatan tubuh secara keseluruhan, terutama dalam jangka panjang.

Penelitian lain yang dimuat dalam British Medical Journal (BMJ) juga menyatakan bahwa konsumsi cabai secara rutin berhubungan dengan penurunan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular. Cabai dinilai membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) serta meningkatkan sensitivitas insulin dalam tubuh.

Meski demikian, para ahli menekankan bahwa manfaat makanan pedas hanya dapat diperoleh jika dikonsumsi secara seimbang dan tidak berlebihan. Konsumsi cabai berlebihan justru berisiko menimbulkan gangguan lambung, iritasi saluran cerna, hingga memperparah kondisi tertentu seperti maag atau refluks asam lambung.

Pakar gizi dari World Health Organization (WHO) juga mengingatkan bahwa pola makan sehat tidak ditentukan oleh satu jenis makanan saja. Makanan pedas sebaiknya dikombinasikan dengan asupan bergizi seimbang, seperti sayur, buah, protein, dan cukup air putih agar manfaat kesehatannya optimal.

Bagi masyarakat Gorontalo yang akrab dengan hidangan bercita rasa pedas, temuan ini dapat menjadi pengingat bahwa kearifan lokal dalam pola makan tradisional memiliki nilai kesehatan, asalkan dijalani dengan bijak dan sesuai kebutuhan tubuh masing-masing.

Rekomendasi Berita