Air Kencing Ular Bisa Obati Batu Ginjal?
- 22 Nov 2025 15:01 WIB
- Gorontalo
KBRN, Gorontalo: Para ilmuwan meneliti air kencing ular untuk memahami trik reptil mengelola asam urat tanpa terkena batu ginjal. Penemuan ini memicu harapan baru karena air kencing ular menunjukkan mekanisme unik yang mencegah penumpukan kristal asam urat berbahaya.
Para peneliti menemukan bahwa air kencing ular menyimpan struktur kristal unik yang bisa membantu menjelaskan cara mencegah batu ginjal pada manusia. Penemuan itu dilaporkan dalam Journal of the American Chemical Society 2025, setelah tim meneliti sampel kotoran padat dari lebih 20 spesies reptil.
Dalam studi tersebut, para ilmuwan mengidentifikasi bola-bola mikroskopis berukuran 1–10 mikrometer yang tersusun dari kristal asam urat dan air. Bola kristal ini berfungsi sebagai cara reptil mengubah limbah nitrogen menjadi padatan aman, sehingga tidak merusak organ tubuh.
Penulis studi, Jennifer Swift, menjelaskan motivasi riset itu untuk memahami bagaimana reptil mampu mengeluarkan asam urat dalam bentuk kristal tanpa risiko kesehatan. “Penelitian ini benar-benar terinspirasi oleh keinginan untuk memahami cara reptil mengeluarkan zat ini dengan aman,” kata Swift dalam rilis penelitian.
Dalam jurnal tersebut, kristal pada air kencing ular digambarkan tersusun dari uric acid monohydrate nanocrystals, yang ukurannya hanya puluhan nanometer. Struktur kecil itu tampak jelas pada citra mikroskop elektron di halaman kedua jurnal, memperlihatkan tekstur granular yang teratur dan padat.
Ilmuwan juga menemukan bahwa kristal tersebut dapat “menjebak” amonia, zat beracun yang dihasilkan saat reptil memetabolisme protein. Fitur ini membuat reptil mampu mengubah amonia menjadi bentuk padat aman sebelum dikeluarkan melalui kloaka.
Pada manusia, kondisi yang sama justru dapat memicu penumpukan kristal asam urat yang menyebabkan asam urat dan batu ginjal. Perbedaan ini menjadikan mekanisme reptil menarik untuk diteliti sebagai inspirasi pencegahan penyakit terkait penumpukan kristal.
Walau hasilnya menjanjikan, para ilmuwan mengingatkan bahwa riset ini masih berada pada tahap awal dan belum bisa diterapkan sebagai terapi. Jurnal JACS tersebut menegaskan bahwa penelitian lanjutan diperlukan sebelum temuan ini dapat dihubungkan dengan pengobatan klinis manusia.
Meski begitu, para peneliti percaya bahwa memahami cara reptil mengelola kristal asam urat dapat membantu dokter menemukan metode baru pencegahan batu ginjal. Jika mekanisme ini dapat ditiru, terapi masa depan mungkin mampu menghentikan pembentukan kristal sejak tahap paling awal.