Radiasi Earphone Nirkabel, Fakta atau Mitos?
- 05 Okt 2025 20:44 WIB
- Gorontalo
KBRN, Gorontalo : Baru-baru ini beredar klaim bahwa earphone nirkabel menghasilkan radiasi elektromagnetik 150 kali lebih tinggi dibandingkan earphone berkabel, dan bisa merusak otak pengguna intensif. Klaim ini menyebar luas di media sosial dan memicu gelombang kekhawatiran. Tapi, apakah klaim itu benar
Teknologi Bluetooth dan perangkat nirkabel bekerja dengan gelombang radiofrekuensi (RF) jenis radiasi non-ionisasi. Karena frekuensinya rendah, radiasi non-ionisasi umumnya tidak memiliki energi cukup untuk merusak DNA atau sel secara langsung. Bahkan, lembaga seperti FDA dan CDC menyatakan bahwa paparan rutin terhadap radiasi non-ionisasi dalam batas tertentu dianggap relatif aman.
Tahun 2024, sebuah penelitian dari Zhou et al. menemukan korelasi antara durasi penggunaan harian headset Bluetooth dan peningkatan risiko munculnya nodus tiroid (benjolan). Penelitian tersebut menggunakan model XGBoost dan analisis SHAP, yang menunjukkan bahwa usia dan lama penggunaan harian menjadi faktor signifikan. Namun, studi ini bersifat asosiasi, belum membuktikan sebab-akibat.
Dalam uji eksperimental terhadap 12 pasien, peneliti memeriksa efek medan elektromagnetik Bluetooth terhadap saraf auditori (nerve cochlear). Hasilnya: tidak ditemukan perubahan signifikan pada amplitudo atau latensi respons saraf dibanding kondisi kontrol.
Sementara itu, paparan dari ponsel diketahui dapat memengaruhi parameter tersebut, menunjukkan bahwa medan dari ponsel lebih kuat dibanding Bluetooth dalam konteks uji tersebut.
Menurut sumber populer dan analisis teknis, radiasi yang dipancarkan perangkat Bluetooth jauh lebih rendah dibanding radar atau ponsel. Beberapa laporan menyebut bahwa radiasi Bluetooth berkisar 10–400 kali lebih rendah daripada ponsel. Dalam pengaturan perangkat wearables, perangkat diwajibkan memenuhi batas paparan RF dari regulasi seperti dari FCC (Amerika) atau standar internasional lainnya, sehingga paparan pada pengguna cenderung berada jauh di bawah batas aman.
Sebagian pihak mencatat bahwa meski banyak studi menyatakan “tidak ada bahaya jelas”, masih terdapat celah penelitian jangka panjang. Beberapa pakar seperti Dr. Joel Moskowitz mendorong pembatasan paparan dan penggunaan desain yang lebih aman. Contoh riset teknis terkini menunjukkan bahwa antena wearable (misalnya di frekuensi 2,4 GHz) memiliki efisiensi radiasi rendah dan penyerapan ke jaringan (SAR) di bawah batas yang ditetapkan. Namun, penelitian yang khusus memeriksa efek jangka panjang radiasi Bluetooth di otak manusia masih terbatas, sehingga potensi efek kecil jangka panjang belum bisa disepakati.
Walau bukti bahaya besar belum konklusif, ada langkah pencegahan sederhana yang bisa diambil:
● Batasi durasi penggunaan earphone nirkabel, terutama jika sering digunakan berjam-jam sehari.
● Gunakan mode kabel ketika memungkinkan (misalnya saat mendengarkan musik di rumah).
● Hindari mendekatkan perangkat pemancar (ponsel atau router) terlalu dekat ke kepala saat menggunakan earphone.
● Pastikan perangkat nirkabel (earphone/ponsel) dalam kondisi baik, dan matikan fungsi nirkabel saat tidak digunakan (misalnya Bluetooth off).
● Ikuti rekomendasi volume dan durasi agar tidak merusak pendengaran (misalnya aturan “60/60”: volume maksimum 60% selama maksimal 60 menit).