Studi: Bakteri Ubah Plastik Jadi Parasetamol
- 04 Jul 2025 19:41 WIB
- Gorontalo
KBRN, Gorontalo: Dilansir dari News Medical, peneliti menemukan bakteri umum dapat mengubah sampah plastik jadi parasetamol. Temuan ini membuka produksi obat penghilang rasa sakit dengan emisi karbon hampir nol.
Peneliti mengembangkan metode ramah lingkungan untuk memproduksi parasetamol dari sampah plastik sehari-hari. Cara ini lebih berkelanjutan dibandingkan produksi obat konvensional.
Parasetamol secara tradisional dibuat dari bahan bakar fosil seperti minyak mentah yang persediaannya makin menipis. Ribuan ton bahan bakar digunakan setiap tahun untuk pabrik obat dan bahan kimia.
Produksi ini menyumbang emisi gas rumah kaca yang mempercepat perubahan iklim. Peneliti menilai metode baru ini dapat mengurangi emisi karbon produksi obat.
Penemuan ini menjawab kebutuhan mendesak pengelolaan limbah plastik polietilen tereftalat (PET). Plastik PET biasanya berakhir di laut atau tempat pembuangan sampah.
PET digunakan untuk botol air dan kemasan makanan, menghasilkan 350 juta ton limbah per tahun. Limbah ini memicu kerusakan lingkungan secara global.
Daur ulang PET biasanya hanya menghasilkan produk yang masih berkontribusi pada polusi plastik. Peneliti kini menawarkan solusi agar PET dapat diubah menjadi produk bermanfaat.
Tim dari Laboratorium Wallace Universitas Edinburgh menggunakan bakteri E. coli yang diprogram ulang secara genetik. Bakteri ini mengubah asam tereftalat dari PET menjadi bahan aktif parasetamol.
Metode ini memakai proses fermentasi mirip pembuatan bir untuk mempercepat konversi limbah PET. Proses ini dapat menghasilkan parasetamol dalam waktu kurang dari 24 jam.
Proses dilakukan pada suhu ruangan dengan emisi karbon hampir nol. Hal ini membuktikan parasetamol dapat diproduksi secara berkelanjutan.
Sekitar 90 persen produk hasil reaksi E. coli dari asam tereftalat menjadi parasetamol. Peneliti menyebutkan langkah ini memerlukan pengembangan lebih lanjut sebelum skala komersial.
Universitas Edinburgh menjadi pemimpin dunia dalam rekayasa biologi yang memanfaatkan prinsip rekayasa untuk menciptakan produk baru. Universitas ini memiliki kelompok peneliti terbesar dan terlengkap di Inggris.
Pendekatan ini menunjukkan kolaborasi kimia tradisional dengan rekayasa biologi dalam produksi bahan kimia ramah lingkungan. Hal ini juga mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Chemistry ini didanai oleh EPSRC CASE dan AstraZeneca. Proyek ini didukung Edinburgh Innovations (EI), layanan komersialisasi Universitas Edinburgh.
Profesor Stephen Wallace mengatakan plastik PET dapat diubah menjadi produk bernilai seperti parasetamol. Produk tersebut dapat bermanfaat untuk pengobatan penyakit.
Ian Hatch dari EI mengatakan pihaknya bekerja sama dengan AstraZeneca dan peneliti Edinburgh untuk mewujudkan penemuan ini. Rekayasa biologi membuka peluang ekonomi sirkular dengan bahan dan zat kimia berkelanjutan.
Calon mitra kolaborasi diajak terlibat untuk memperluas penerapan penemuan ini ke skala industri. Temuan ini diharapkan menjadi langkah nyata menuju produksi obat ramah lingkungan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....