Waruga, Jejak Tradisi Pemakaman Kuno Masyarakat Minahasa

  • 22 Sep 2026 14:19 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID ,Gorontalo - Waruga menjadi salah satu peninggalan budaya yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Minahasa memaknai kehidupan dan kematian. Makam batu khas Sulawesi Utara ini memiliki bentuk menyerupai rumah, dengan bagian bawah berupa kotak batu berongga dan bagian atas berbentuk prisma seperti atap rumah.

Waruga banyak ditemukan di wilayah Minahasa, Sulawesi Utara. Pada masa lalu, waruga digunakan sebagai tempat pemakaman sekaligus berkaitan dengan kepercayaan dan ritual masyarakat setempat. Kini, keberadaan waruga tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi juga bagian dari wisata edukasi dan budaya.

Salah satu hal yang menarik dari tradisi ini adalah posisi jenazah di dalam waruga. Jenazah ditempatkan dalam posisi menyerupai bayi yang berada di dalam kandungan.

Posisi tersebut berkaitan dengan keyakinan masyarakat Minahasa bahwa kehidupan manusia bermula dari dalam kandungan dan setelah meninggal akan kembali dalam posisi yang serupa. Filosofi ini dikenal dalam sejumlah sumber sebagai bagian dari konsep kehidupan dan kematian masyarakat Minahasa.

Waruga merupakan tradisi pemakaman kuno yang berkaitan dengan kebudayaan megalitik atau zaman batu besar. Sejumlah penelitian arkeologi menunjukkan keberadaan waruga telah berlangsung sejak masa lampau, jauh sebelum masyarakat Minahasa mengenal sistem pemakaman modern.

Dalam perkembangannya, masyarakat Minahasa mengalami perubahan dalam tata cara pemakaman. Pada masa sebelumnya, jenazah disebut dibungkus menggunakan woka, yakni daun dari tanaman palem. Kemudian, penggunaan waruga berkembang sebagai salah satu bentuk pemakaman masyarakat.

Dalam tradisi tersebut, jenazah ditempatkan dengan arah menghadap ke utara. Arah ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Minahasa mengenai asal-usul leluhur mereka yang diyakini datang dari wilayah utara.

Waruga juga memiliki karakter sebagai wadah pemakaman komunal. Artinya, satu waruga dapat digunakan untuk lebih dari satu jenazah. Pada masa lalu, waruga bahkan dapat ditemukan di sekitar rumah penduduk. Karena itu, dalam satu kawasan permukiman bisa terdapat satu atau beberapa waruga.

Namun, tradisi pemakaman menggunakan waruga kemudian mengalami perubahan. Pada masa kolonial sekitar abad ke-19, pemerintah Belanda melarang praktik tersebut, antara lain karena kekhawatiran terhadap penyebaran penyakit seperti tifus, kolera, dan pes.

Perubahan tradisi juga dipengaruhi oleh masuk dan berkembangnya agama Kristen di Minahasa. Sistem pemakaman kemudian semakin banyak menggunakan cara penguburan jenazah di dalam tanah.

Selain memiliki nilai sejarah, waruga juga menyimpan cerita melalui bentuk dan ukirannya. Makam ini umumnya dibuat dari batuan tufa atau batuan hasil aktivitas vulkanik yang dikenal masyarakat setempat dengan sejumlah istilah, termasuk tras atau domato. Material tersebut berasal dari kawasan vulkanik Sulawesi Utara.

Secara umum, waruga terdiri atas dua bagian. Bagian bawah berbentuk kotak dan memiliki ruang di dalamnya sebagai tempat jenazah. Sementara bagian atas menyerupai atap rumah atau bubungan dengan bentuk prisma.

Ukuran waruga pun beragam, mulai dari yang berukuran relatif kecil hingga berukuran lebih besar. Perbedaan ukuran tersebut menunjukkan beragamnya bentuk waruga yang ditemukan di sejumlah wilayah Minahasa.

Yang membuat waruga semakin menarik adalah keberadaan ornamen pada bagian atasnya. Ukiran-ukiran tersebut tidak sekadar berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga dapat berkaitan dengan identitas, kehidupan, maupun kepercayaan masyarakat terhadap orang yang dimakamkan.

Motifnya beragam, mulai dari manusia, tumbuhan, hewan, hingga bentuk-bentuk geometris. Ada pula gambaran aktivitas manusia, termasuk perempuan yang sedang melahirkan.

Dalam sejumlah penafsiran, motif pada waruga dapat menggambarkan profesi atau kehidupan seseorang ketika masih hidup. Misalnya, gambaran perempuan melahirkan dikaitkan dengan seseorang yang berprofesi sebagai dukun beranak. Sementara motif hewan tertentu dapat dikaitkan dengan profesi seperti pemburu.

Namun, makna setiap ornamen tidak selalu dapat diseragamkan karena penafsirannya berkaitan dengan tradisi, kepercayaan, dan konteks masyarakat setempat.

Bagi masyarakat Minahasa, waruga pada akhirnya bukan sekadar tempat menyimpan jenazah. Waruga menjadi bagian dari warisan budaya yang merekam cara masyarakat masa lalu memahami kehidupan, kematian, leluhur, hingga hubungan manusia dengan lingkungannya.

Kini, keberadaan waruga menjadi bagian penting dari warisan budaya Minahasa dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran mengenai sejarah serta kearifan lokal masyarakat Sulawesi Utara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....