Karawo Gorontalo Tampil Memikat di IFW 2026
- 31 Jul 2026 00:22 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo - Sebelum selembar Karawo berkilau di bawah lampu panggung, ada perjalanan panjang yang berlangsung dalam senyap. Serat demi serat kain diiris dan dicabut dengan penuh kehati-hatian. Setelah itu, ruang-ruang kosong yang tercipta diisi kembali melalui sulaman yang dikerjakan dengan telaten. Dari ketelitian tangan para perajin Gorontalo, lahirlah karya yang bukan sekadar indah dipandang, tetapi juga menyimpan kisah tentang tradisi, kreativitas, dan denyut ekonomi masyarakat.
Cerita itulah yang dibawa House of Abhiee, Tethuna, TIAR Handycraft, dan D’Korsase saat tampil dalam Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 di Jakarta International Convention Center, Senayan, pada 29 Juli 2026. IFW yang berlangsung hingga 2 Agustus 2026 menjadi ruang bertemunya desainer, pelaku industri, UMKM, dan pasar untuk memperkuat daya saing fesyen Indonesia sekaligus memperluas pengenalan wastra Nusantara.

Di antara deretan karya yang hadir, House of Abhiee membawa perjalanan yang dimulai oleh Abidin Ishak. Sejak 2012, ia menempatkan Karawo lebih dekat dengan gaya hidup masa kini. Sulaman khas Gorontalo hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari tunik, kemeja, jaket, setelan jas, hingga gaun malam. Namun, perjalanan House of Abhiee tidak hanya berbicara tentang rancangan busana. Di balik setiap karya, ada sekitar 50 perempuan, sebagian besar ibu rumah tangga, yang menjadi bagian dari kelompok perajin. Melalui keterampilan menyulam, mereka memperoleh peluang untuk menambah penghasilan sekaligus menjaga tradisi tetap hidup.
Perjalanan panjang juga ditempuh Mohammad Ramdhan Mopangga melalui Tethuna. Berdiri sejak 2014, jenama ini mengolah kain daerah menjadi busana modern yang tetap berakar pada identitasnya. Berbagai unggahan di akun media sosial Tethuna memperlihatkan sejumlah penyanyi nasional mengenakan rancangannya saat tampil di atas panggung. Langkah itu semakin menguat ketika Ramdhan meraih juara pertama Indonesia Young Fashion Designer Competition 2023 melalui karya bernuansa Karawo. Sebelumnya, Tethuna juga telah membawa fesyen Gorontalo ke Ankara, Turki, mempertemukan karya dari daerah dengan audiens internasional.

Di sisi lain, perjalanan TIAR Handycraft bermula dari kegelisahan Isnawati Mohamad terhadap kondisi lingkungan di sekitar Danau Limboto. Pada 2019, ia mulai mengolah eceng gondok yang selama ini dianggap mengganggu menjadi kerajinan yang memiliki nilai ekonomi. Ketika pandemi menekan usahanya, langkah itu tidak berhenti. Isnawati justru memperluas usahanya ke bidang fesyen ramah lingkungan dan pada 2021 mempertemukan warna alami ecoprint dengan sulaman Karawo. Dari proses tersebut lahirlah identitas baru, busana yang menghadirkan warisan budaya sekaligus membawa semangat keberlanjutan.
Karawo juga menemukan bentuk yang berbeda melalui D’Korsase, usaha kriya milik Ulfa Ali. Sulaman khas Gorontalo tidak hanya hadir pada kain dan busana, tetapi juga dikembangkan menjadi tas, dompet, serta berbagai aksesori yang digunakan dalam keseharian. Pendekatan ini membuat Karawo semakin dekat dengan konsumen sekaligus membuka ruang kreativitas dan pasar yang lebih luas. Karya D’Korsase pun pernah hadir sebagai aksesori pendamping dalam panggung Sustainable Muslim Fashion ISEF 2021, menunjukkan bahwa produk kriya daerah dapat menjadi bagian penting dalam keseluruhan narasi sebuah koleksi fesyen.

Di balik langkah keempat UMKM tersebut, terdapat dukungan yang terus menguat. Melalui pembinaan yang mencakup penguatan kapasitas usaha, inovasi, dan akses pasar, Pemerintah Provinsi Gorontalo, Dekranasda Provinsi Gorontalo, dan Bank Indonesia terus mendorong UMKM agar tumbuh lebih produktif dan berdaya saing.
Karena itu, kehadiran House of Abhiee, Tethuna, TIAR Handycraft, dan D’Korsase di IFW 2026 bukan sekadar tentang tampil di panggung fesyen. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Karawo, bukan hanya sebagai warisan budaya yang dijaga, tetapi juga sebagai sumber nilai tambah dan penghidupan yang terus berkembang.
Dan ketika para model melangkah di panggung IFW 2026, yang ikut berjalan bukan hanya busana dan aksesori. Di dalam setiap langkah, ada ketekunan para perajin, harapan keluarga, dan cerita Gorontalo yang terus dirajut menuju pasar nasional hingga dunia.
Versi ini mempertahankan seluruh fakta asli, tetapi mengalirkannya dengan narasi yang lebih bertutur dan lebih halus seperti gaya feature jurnalistik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....