Sambut 1 Muharram: Menelusuri Jejak Tradisi Tahun Baru Islam Dulu Hingga Kini
- 13 Jun 2026 09:30 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo— Umat Muslim di berbagai belahan dunia kembali menyambut datangnya 1 Muharram yang menandai pergantian Tahun Baru Islam. Berbeda dengan perayaan tahun baru Masehi yang karib dengan pesta kembang api dan selebrasi meriah, pergantian tahun Hijriah menyimpan narasi sejarah yang mendalam—sebuah perjalanan panjang yang merekam transformasi spiritual dan kultural dari zaman kenabian hingga era kecerdasan buatan saat ini.
Jika dirunut ke belakang, esensi perayaan yang kita kenal hari ini telah melewati metamorfosis yang luar biasa sepanjang sejarah peradaban Islam.
Era Kenabian: Fondasi Nilai Tanpa Kalender Baku
Banyak masyarakat modern yang belum mengetahui bahwa pada masa hidup Rasulullah SAW, sistem penanggalan Hijriah belum terbentuk. Masyarakat Arab kala itu masih menggunakan sistem penanggalan berdasarkan peristiwa besar yang terjadi pada tahun tersebut, seperti "Tahun Gajah" yang merujuk pada tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Meski belum ada perayaan "Tahun Baru" secara formal, bulan Muharram sendiri telah mendapatkan tempat istimewa sebagai salah satu dari empat Asyhurul Hurum (bulan-bulan yang disucikan). Dokumen sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat menyambut bulan ini bukan dengan pesta, melainkan dengan memperbanyak amal ibadah. Tradisi utama yang diajarkan Nabi pada bulan ini adalah melaksanakan Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram, sebagai bentuk rasa syukur atas diselamatkannya Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Firaun.
Era Sahabat: Lahirnya Kalender Hijriah sebagai Solusi Administrasi
Titik balik formalisasi Tahun Baru Islam baru terjadi sekitar enam tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW, tepatnya pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab.
Kebutuhan akan kalender resmi muncul ketika roda birokrasi kekhalifahan Islam yang semakin luas mengalami kendala. Gubernur Abu Musa al-Asy'ari sempat mengeluhkan surat-surat dinas dari pusat yang tidak memiliki keterangan tahun, sehingga membingungkan proses pengarsipan dan penentuan skala prioritas kebijakan.
Menanggapi hal tersebut, Khalifah Umar mengumpulkan para sahabat terkemuka untuk bermusyawarah. Sempat muncul usulan untuk memulai hitungan tahun dari tahun kelahiran Nabi atau tahun wafatnya beliau. Namun, mengacu pada usulan Ali bin Abi Thalib, disepakati bahwa peristiwa Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi dijadikan sebagai titik awal (tahun pertama) penanggalan Islam. Sejak saat itulah tanggal 1 Muharram resmi ditetapkan sebagai hari pertama dalam kalender Hijriah.
Akulturasi Nusantara: Dari Keraton Mataram hingga "Lebaran Anak Yatim"
Seiring meluasnya syiar Islam ke Nusantara, tradisi menyambut 1 Muharram mulai berasimilasi dengan kebudayaan lokal. Salah satu tonggak sejarah terbesar di Indonesia terjadi pada abad ke-17 di masa Kesultanan Mataram.
Sultan Agung melakukan inovasi besar dengan memadukan Kalender Saka (Hindu) dan Kalender Hijriah (Islam) menjadi Kalender Jawa. Dampaknya, perayaan 1 Muharram jatuh bersamaan dengan 1 Suro. Di era ini, perayaan dikemas dalam ritual berwajah ganda: spiritualitas Islam (doa bersama dan zikir) berpadu erat dengan tradisi keraton (kirab pusaka dan sedekah bumi) yang masih lestari hingga kini di Yogyakarta dan Surakarta.
Selain itu, bulan Muharram juga berkembang secara kultural di masyarakat Indonesia sebagai "Lebaran Anak Yatim". Tradisi mengusap kepala dan menyantuni anak yatim pada tanggal 10 Muharram menjadi pemandangan karib yang mengakar kuat di berbagai daerah sebagai bentuk pengejawantahan kepedulian sosial yang diajarkan agama.
Zaman Kini: Muhasabah Kreatif dan Syiar Digital
Memasuki zaman modern, potret perayaan Tahun Baru Islam kian dinamis. Esensi utama 1 Muharram kini bertumpu pada konsep muhasabah (introspeksi diri) dan reposisi makna "hijrah"—yaitu komitmen untuk berpindah dari kebiasaan buruk menuju pribadi yang lebih bertakwa.
Secara tradisi fisik, masyarakat Indonesia masih mempertahankan ritual doa akhir tahun dan awal tahun secara berjamaah di masjid-masjid menjelang waktu Magrib. Di perkampungan dan kota-kota satelit, pawai obor yang digerakkan oleh remaja masjid dan santri TPA tetap menjadi magnet visual yang menghidupkan malam pergantian tahun.
Namun, yang paling membedakan zaman kini dengan era sebelumnya adalah masifnya syiar di ruang digital. Generasi muda Muslim saat ini merayakan 1 Muharram dengan membanjiri media sosial lewat konten kreatif, mulai dari video pendek bertema refleksi diri, visualisasi ucapan selamat, hingga ajakan penggalangan dana digital untuk aksi kemanusiaan.
Perjalanan panjang dari zaman Rasulullah hingga era modern ini membuktikan bahwa perayaan Tahun Baru Islam adalah tradisi yang hidup. Kemasannya boleh terus berubah mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, namun esensinya tetap kokoh: sebuah alarm tahunan bagi umat Muslim untuk berhenti sejenak, mengevaluasi masa lalu, dan melangkah maju dengan jiwa yang baru.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....