Sejarah dan Makna Tradisi Hari Ketupat Gorontalo
- 27 Mar 2026 11:35 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo - GORONTALO – Hari Ketupat di Gorontalo adalah tradisi unik yang dirayakan masyarakat setempat setiap seminggu setelah Idul Fitri, tepatnya pada 7–8 Syawal menurut penanggalan Islam. Perayaan ini tidak hanya sekadar makan ketupat, tetapi telah menjadi bagian dari budaya lokal yang penuh makna sosial dan religius.
Tradisi Lebaran Ketupat di Gorontalo awalnya dibawa oleh komunitas Jawa-Tondano (Jaton) yang bermigrasi ke daerah ini sejak awal abad ke‑20. Komunitas ini menetap di beberapa wilayah, seperti Desa Yosonegoro dan Desa Reksonegoro di Kabupaten Gorontalo. Mereka membawa kebiasaan menyelenggarakan perayaan setelah Idul Fitri yang dikenal sebagai Hari Ketupat atau “Lebaran Ketupat”.
Makna perayaan ini berkaitan erat dengan rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa Ramadan dan puasa sunah Syawal, sekaligus menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antar keluarga, tetangga, dan sesama warga. Pada hari ketupat, masyarakat biasanya menyiapkan berbagai hidangan khas seperti ketupat, nasi bulu, dodol, dan lauk tradisional yang kemudian dinikmati bersama siapa pun yang datang tanpa harus saling mengenal secara pribadi.
Selain makan bersama, perayaan ini juga kerap diramaikan dengan kegiatan hiburan rakyat seperti lomba pacuan kuda dan karapan sapi. Tradisi ini kini bukan hanya dirayakan oleh warga Jaton saja, tetapi juga telah menjadi bagian dari budaya Gorontalo yang inklusif — masyarakat asli dan pendatang merayakannya bersama‑sama sebagai simbol kebersamaan dan kegembiraan pasca Lebaran.
Hari Ketupat di Gorontalo mengingatkan bahwa tradisi kuliner seperti ketupat bukan hanya soal makanan, tetapi juga simbol persaudaraan, rasa syukur, dan harmonisasi sosial yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....