Perairan Botubarani Dipantau dengan Teknologi Deteksi Kualitas Air

  • 30 Sep 2026 16:37 WIB
  •  Gorontalo
Poin Utama
  • kualitas air di perairan Botubarani kini dapat dipantu dengan teknologi deteksi kualitas air

RRI.CO.ID, Gorontalo - Kawasan wisata bahari Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, mulai dipantau menggunakan teknologi deteksi kualitas air dan objek untuk merekam kondisi perairan secara berkelanjutan.

Dua perangkat tersebut dipasang pada 23 September 2026 sebagai bagian dari riset yang didanai melalui skema RIIM BRIN-LPDP multiyears dengan melibatkan Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bone Bolango.

Perangkat akan mengumpulkan data kondisi perairan selama satu tahun dalam bentuk time series. Data tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai perubahan kondisi lingkungan laut sekaligus aktivitas yang berlangsung di kawasan wisata Botubarani.

Peneliti Universitas Negeri Gorontalo, Dr. Mohamad Hidayat Koniyo, mengatakan teknologi deteksi objek memungkinkan berbagai objek dan aktivitas yang terlihat di perairan direkam dan diolah menjadi dataset.

“Berdasarkan deteksi objek, seperti warna air laut, binatang yang bergerak dan terlihat, aktivitas wisatawan, dan lainnya, akan menghasilkan dataset yang bisa dikembangkan untuk penelitian klasifikasi hingga prediksi,” ujar Hidayat.

Menurutnya, pengumpulan data secara terus-menerus selama satu tahun akan membantu peneliti melihat pola perubahan kondisi perairan dan berbagai objek yang muncul dari waktu ke waktu.

Data tersebut juga dapat digunakan untuk mempelajari pola kemunculan hiu paus yang menjadi daya tarik utama wisata Botubarani, termasuk kemungkinan keterkaitannya dengan kondisi lingkungan perairan.

Selain hiu paus, sistem deteksi berpotensi membantu mengidentifikasi kemunculan organisme lain seperti ubur-ubur yang pada kondisi tertentu dapat mengganggu kenyamanan wisatawan.

Tidak hanya kehidupan laut, teknologi tersebut juga dapat merekam aktivitas manusia di kawasan perairan, termasuk kepadatan perahu wisata, aktivitas pengunjung, serta keberadaan sampah plastik dan material yang terbawa dari aktivitas di daratan.

Hidayat menjelaskan, dataset yang terkumpul nantinya dapat dikembangkan untuk membangun model klasifikasi maupun prediksi.

“Melalui pengembangan lebih lanjut, data tersebut dapat diarahkan untuk membangun model klasifikasi maupun prediksi, termasuk mempelajari hubungan antara kondisi lingkungan laut dengan kemunculan hiu paus, ubur-ubur, maupun objek dan aktivitas lain di kawasan perairan Botubarani,” jelasnya.

Hasil riset ini diharapkan menjadi basis data bagi pengelolaan wisata bahari Botubarani. Informasi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk membantu pengelola dan pemangku kepentingan memantau kondisi perairan serta aktivitas wisata secara lebih terukur.

Dengan demikian, pengembangan wisata interaksi hiu paus di Botubarani tidak hanya mengandalkan pengamatan langsung, tetapi juga mulai didukung oleh data kondisi lingkungan dan aktivitas perairan yang dikumpulkan secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....