Bahasa Isyarat Dorong Anak Tunarungu Aktif Berkomunikasi

  • 29 Sep 2026 10:02 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.IDGorontalo: Bahasa isyarat menjadi salah satu cara penting untuk membantu anak tunarungu berkomunikasi dan lebih aktif berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. Kemampuan menggunakan bahasa isyarat tidak hanya membantu anak menyampaikan kebutuhan dan pikirannya, tetapi juga membuka ruang bagi mereka untuk mengikuti proses pembelajaran dengan lebih baik.

Juru Bahasa Isyarat, Ihsan Maseke, mengatakan, kemampuan komunikasi anak tunarungu sangat dipengaruhi oleh kesempatan mereka memperoleh pembelajaran bahasa sejak usia dini. Menurutnya, masih ditemukan anak yang mampu menggunakan beberapa bahasa isyarat, namun mengalami kesulitan dalam menulis karena sejak usia dini tidak mendapatkan pembelajaran yang berkelanjutan.

Ihsan menjelaskan, sebagian anak tunarungu memang pernah bersekolah, tetapi kemudian tidak melanjutkan pendidikan. Kondisi tersebut dapat membuat perkembangan kemampuan bahasa dan komunikasinya menjadi terbatas. Karena itu, pengenalan bahasa isyarat sebaiknya dilakukan sedini mungkin dan dimulai dari hal-hal yang sederhana.

“Untuk memulai belajar bahasa isyarat, paling dasar kita harus mengenal abjad. Dari abjad itu anak bisa belajar mengenali huruf, kemudian berkembang menjadi kata dan komunikasi,” jelas Ihsan dalam acara Tamu Kita Sabtu 26 September 2026

Ia menyebutkan, terdapat beberapa sistem bahasa isyarat yang dikenal dan digunakan di Indonesia, di antaranya BISINDO atau Bahasa Isyarat Indonesia dan SIBI atau Sistem Isyarat Bahasa Indonesia. Keduanya dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran, dengan penyesuaian terhadap kebutuhan dan kemampuan masing-masing anak.

Namun, tantangan terbesar muncul ketika anak belum mampu mengenali abjad sekaligus belum memahami bahasa isyarat. Dalam kondisi seperti ini, komunikasi tidak bisa hanya mengandalkan satu metode. Juru bahasa atau pendamping perlu memperhatikan gestur, ekspresi wajah, serta gerakan tubuh anak untuk memahami maksud yang ingin disampaikan.

Menurut Ihsan, kemampuan setiap anak tunarungu berbeda-beda. Karena itu, lingkungan keluarga dan sekolah perlu memberikan kesempatan yang cukup kepada anak untuk berkomunikasi, tanpa membuat mereka merasa terbatas karena kekurangan yang dimiliki. Semakin sering anak mendapatkan kesempatan berinteraksi, semakin terbuka pula peluang bagi mereka untuk aktif menyampaikan pikiran dan kebutuhannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....