Belajar Bahasa Isyarat Wujudkan Inklusi
- 29 Sep 2026 10:02 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID Gorontalo: Di tengah keberagaman masyarakat, setiap orang memiliki hak yang sama untuk berkomunikasi, mendapatkan pendidikan, bekerja, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Namun, bagi penyandang tunarungu, keterbatasan komunikasi masih sering menjadi penghalang untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Karena itu, kemampuan memahami bahasa isyarat menjadi salah satu langkah penting untuk membangun komunikasi yang lebih setara dan inklusif.
Bahasa isyarat bukan sekadar gerakan tangan. Di dalamnya terdapat bahasa, ekspresi, dan cara menyampaikan pesan yang memungkinkan penyandang tunarungu berkomunikasi dengan lebih mudah. Sayangnya, belum semua masyarakat memahami bahasa isyarat. Kondisi ini terkadang membuat penyandang tunarungu kesulitan menyampaikan kebutuhan, mengikuti pembelajaran, mendapatkan pelayanan publik, bahkan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.
Hal inilah yang mendorong Ellen Podungge, SE, MPd, Pendiri Gerkatin Gorontalo sekaligus Ketua Yayasan Tunarungu Hellen Wimberty, untuk terus mendorong pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap penyandang tunarungu. Menurutnya, membangun lingkungan inklusif tidak cukup hanya dengan memberikan kesempatan, tetapi juga harus dibarengi dengan kemampuan masyarakat untuk berkomunikasi dan memahami kebutuhan penyandang disabilitas.
Upaya mengenalkan bahasa isyarat dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Sekolah, keluarga, instansi pemerintah, fasilitas kesehatan hingga ruang pelayanan publik dapat menjadi tempat untuk memperkenalkan komunikasi yang ramah bagi penyandang tunarungu. Bahkan, masyarakat tidak harus langsung menguasai seluruh bahasa isyarat. Mengenal dasar-dasarnya, seperti salam, memperkenalkan diri, meminta bantuan, atau menyampaikan kebutuhan sederhana, sudah menjadi langkah awal yang berarti.Sekolah juga memiliki peran penting dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif.
Guru dan tenaga kependidikan perlu memiliki pemahaman tentang cara berkomunikasi dengan peserta didik tunarungu. Begitu pula dengan teman-teman sebaya, agar perbedaan tidak menjadi alasan untuk menjauhkan atau membatasi pergaulan. Justru, lingkungan sekolah dapat menjadi ruang untuk belajar saling menghargai dan memahami bahwa setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....