Ketika Disiplin Menjadi Dilema Guru

  • 21 Sep 2026 08:30 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID Gorontalo : Menjadi guru bukan hanya tentang mengajar membaca, menulis atau menyampaikan materi pelajaran. Di balik ruang kelas, guru juga memiliki tanggung jawab besar membentuk karakter, menanamkan nilai tanggung jawab dan membiasakan anak untuk disiplin. Namun, di tengah tuntutan tersebut, guru juga menghadapi tantangan ketika upaya menegur atau mendisiplinkan peserta didik justru berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Gorontalo, Husin Ali Sabtu 19 September 2026 mengungkapkan, pernah terdapat kasus yang dialami seorang tenaga guru di Kota Gorontalo akibat selisih paham dalam upaya mendisiplinkan anak. Kasus tersebut menjadi gambaran bahwa proses mendidik tidak hanya membutuhkan ketegasan, tetapi juga komunikasi yang baik antara guru, peserta didik dan orang tua. " Kami Sudah pernah kejadian , ada satu guru kami yang ditahan selama sebulan dikarenakan selisih mendisiplinkan anak , "

Menurut Husin Ali, Disiplin merupakan bagian dari pendidikan karakter agar peserta didik mampu memahami batasan, menghargai aturan dan bertanggung jawab atas perilakunya. Karena itu, pendekatan yang dilakukan guru perlu disesuaikan dengan kondisi anak dan tetap mengedepankan nilai-nilai pendidikan.

Bagi peserta didik, teguran dari guru semestinya dapat dipahami sebagai bagian dari proses belajar. Tidak semua teguran berarti kemarahan, apalagi bentuk permusuhan. Ada kalanya seorang guru menegur karena ingin mengingatkan, membimbing dan membantu anak menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab. Di sinilah pentingnya anak belajar memahami bahwa disiplin bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan kebiasaan yang akan membantu mereka dalam kehidupan.

Di sisi lain, rumah menjadi fondasi utama dalam membangun kedisiplinan. Orang tua perlu membiasakan anak mengenal aturan, menghargai waktu dan bertanggung jawab sejak dari keluarga. Ketika nilai-nilai yang diajarkan di rumah sejalan dengan pembiasaan di sekolah, anak akan lebih mudah memahami bahwa orang tua dan guru memiliki tujuan yang sama, yakni membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang baik dan mandiri.

Membangun disiplin anak membutuhkan kesepahaman antara rumah, sekolah dan peserta didik. Guru membutuhkan ruang untuk mendidik dan memberikan teguran yang bersifat membangun, orang tua membutuhkan komunikasi terbuka dengan sekolah, sementara anak perlu diberikan pemahaman bahwa setiap aturan memiliki tujuan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....