Anak Tantrum, Harus Dipeluk atau Dibiarkan?
- 26 Agt 2026 10:21 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo - Anak tiba-tiba menangis, berteriak, berguling di lantai, atau marah hanya karena keinginannya tidak terpenuhi? Jangan buru-buru menganggapnya sebagai anak nakal. Tantrum merupakan bagian dari proses anak belajar mengenali dan mengendalikan emosinya. Lantas, memahami penyebab tantrum dan cara orang tua menghadapinya dengan tepat menjadi hal penting agar anak dapat belajar mengelola emosinya dengan lebih baik.
Tantrum merupakan bagian dari perkembangan emosi anak, terutama pada usia balita. Anak belum selalu mampu memahami, mengendalikan, dan menyampaikan perasaannya dengan kata-kata. Karena itu, rasa kecewa, lelah, lapar, mengantuk, atau keinginannya yang tidak terpenuhi bisa muncul dalam bentuk tangisan dan amukan.
Beberapa penyebab yang umum keinginannya tidak terpenuhi, lapar atau haus, mengantuk atau kelelahan, ingin mendapatkan perhatian, sulit mengungkapkan perasaan, dan belajar menguji batas artinya anak mulai memahami bahwa menangis atau berteriak bisa mendapatkan respons dari orang dewasa.
Lalu, apakah anak yang sedang tantrum sebaiknya dipeluk? Jawabannya tidak selalu sama. Jika anak masih mau disentuh dan menerima pelukan, orang tua dapat memberikan pelukan atau sentuhan lembut untuk membuatnya merasa aman. Tidak perlu banyak bicara. Kalimat sederhana seperti, “Mama di sini, kamu aman,” bisa membantu anak merasa didampingi.
Namun, jika anak sedang menolak disentuh, jangan memaksakan pelukan. Berikan ruang sambil tetap berada di dekatnya dan memastikan ia tidak melukai diri sendiri maupun orang lain. Orang tua bisa mengatakan, “Mama tunggu di sini. Kalau sudah siap, Mama temani.”
Hal yang juga penting, hindari langsung memarahi, membentak, atau memenuhi semua keinginan anak hanya agar tantrumnya berhenti. Anak perlu belajar bahwa emosinya boleh dirasakan, tetapi perilaku yang membahayakan tetap tidak boleh dilakukan.
Setelah anak mulai tenang, barulah ajak berbicara dengan bahasa sederhana. Misalnya, “Tadi kamu marah karena mainannya diambil, ya?” Dengan begitu, anak perlahan belajar mengenali emosinya dan menemukan cara yang lebih baik untuk mengungkapkannya.
Jadi, anak tantrum tidak selalu harus dipeluk dan tidak pula harus ditinggalkan begitu saja. Yang terpenting adalah melihat kondisi anak, tetap hadir, menjaga keamanan, dan membantu anak melewati emosinya tanpa mempermalukannya.
Tantrum memang melelahkan bagi orang tua, tetapi bagi anak, itu bisa menjadi salah satu proses belajar mengenal dan mengendalikan emosinya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....