Garam Gunung Krayan, Keunikan Produksi Garam dari Pegunungan Kalimantan

  • 23 Agt 2026 14:12 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID ,Gorontalo - Garam selama ini identik dengan kawasan pesisir. Hamparan tambak garam, panas matahari, dan air laut yang menguap menjadi gambaran umum proses produksi komoditas tersebut. Di Indonesia, sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara dikenal sebagai wilayah penghasil garam karena memiliki kondisi alam yang mendukung, termasuk tingkat salinitas air laut yang tinggi.

Namun, proses produksi garam tidak selalu berlangsung di tepi pantai. Di bagian utara Pulau Kalimantan, tepatnya di dataran tinggi Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, terdapat sebuah tradisi unik yang telah diwariskan masyarakat secara turun-temurun. Di wilayah yang dikelilingi kawasan pegunungan tersebut, masyarakat justru menghasilkan garam dari sumber air asin alami yang muncul dari dalam tanah.

Produk khas itu dikenal dengan nama garam gunung Krayan. Dalam bahasa masyarakat Dayak Lundayeh, garam tersebut disebut tusu' atau tusu' abuh. Keberadaannya menjadi sesuatu yang menarik karena berbeda dengan garam pada umumnya yang berasal dari penguapan air laut di kawasan pesisir.

Masyarakat Krayan memanfaatkan air asin yang berasal dari sumur-sumur garam alami. Air tersebut kemudian diolah melalui proses tradisional hingga menghasilkan garam yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari maupun menjadi produk khas daerah.

Keunikan garam gunung Krayan tidak hanya terletak pada lokasi produksinya yang berada di kawasan pegunungan. Air asin yang menjadi bahan bakunya dipercaya berasal dari lapisan air laut purba yang terperangkap jauh di bawah permukaan tanah akibat proses geologi yang berlangsung jutaan tahun lalu. Seiring perjalanan waktu, sumber air asin tersebut muncul dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai bahan baku pembuatan garam.

Tradisi pengolahan garam ini menjadi bukti bagaimana masyarakat mampu memanfaatkan potensi alam di sekitarnya dengan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola produksi, cara tradisional tersebut tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Krayan.

Proses pembuatan garam gunung pun membutuhkan kesabaran. Air asin dari sumber alami dikumpulkan dan diolah secara bertahap hingga menghasilkan endapan garam. Tidak seperti produksi garam di tambak yang sangat bergantung pada panas matahari untuk menguapkan air laut, pengolahan garam gunung dilakukan dengan metode tersendiri yang telah lama dikenal masyarakat setempat.

Keberadaan garam gunung Krayan juga memperlihatkan bahwa potensi alam Indonesia tidak hanya terbatas pada sumber daya yang berada di wilayah pesisir atau laut. Kawasan pegunungan pun menyimpan berbagai kekayaan yang unik, termasuk sumber air asin alami yang kemudian menjadi bagian dari tradisi dan identitas masyarakat.

Selain memiliki nilai ekonomi, garam gunung Krayan juga mengandung nilai budaya yang kuat. Pengetahuan mengenai lokasi sumber air asin, teknik pengolahan, hingga pemanfaatan garam menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Dayak Lundayeh. Karena itu, keberlangsungan produksi garam gunung tidak hanya berkaitan dengan menjaga sebuah komoditas, tetapi juga mempertahankan warisan pengetahuan dan tradisi masyarakat setempat.

Di tengah semakin beragamnya produk garam yang beredar di pasaran, garam gunung Krayan menawarkan cerita yang berbeda. Produk ini lahir bukan dari tepian laut, melainkan dari dataran tinggi yang dikelilingi pegunungan. Dari sumber air asin yang tersembunyi di dalam tanah, masyarakat Krayan telah membuktikan bahwa alam dapat menyimpan kejutan yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Keunikan tersebut menjadikan garam gunung Krayan sebagai salah satu kekayaan lokal Indonesia yang menarik untuk terus diperkenalkan. Bukan hanya karena rasanya sebagai bahan penyedap makanan, tetapi juga karena perjalanan panjang di balik setiap butir garamnya, yang merekam hubungan antara alam, sejarah geologi, dan kearifan masyarakat yang terus menjaga tradisi hingga saat ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....