Belajar Toleransi Sejak di Sekolah
- 20 Jul 2026 10:20 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID Gorontalo : Pendidikan tidak hanya bertugas mencerdaskan peserta didik secara akademik, tetapi juga membentuk karakter yang mampu hidup berdampingan dalam keberagaman. Nilai inilah yang terus ditanamkan di SMA Negeri 1 Kota Gorontalo melalui praktik nyata moderasi beragama di lingkungan sekolah.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMA Negeri 1 Kota Gorontalo, Salhan Astuti Ibrahim, menjelaskan bahwa sekolah memberikan ruang yang sama bagi seluruh peserta didik untuk menjalankan keyakinannya masing-masing. Saat siswa Muslim melaksanakan Salat Zuhur berjamaah di masjid, siswa Kristen mengikuti pembinaan dan pendalaman iman yang dipandu oleh pendeta. Demikian pula peserta didik dari agama lain memperoleh pembinaan sesuai ajaran agama masing-masing.
"Setiap hari Jumat kami memiliki kegiatan Spiritual Day. Siswa Muslim melaksanakan Salat Dhuha bersama, sementara di ruang lain pendeta memimpin ibadah pagi bagi siswa Kristen. Jadi bukan hanya Islam yang diperhatikan, tetapi semua agama mendapat porsi pelayanan yang sama sesuai kebutuhan peserta didik di sekolah," ujar Salhan saat menjadi narasumber dalam program Tamu Kita, Sabtu (18/7/2026).
Semangat toleransi juga tampak dalam berbagai kegiatan keagamaan. Ketika bulan Ramadan, misalnya, siswa Muslim berbagi takjil, sementara siswa non-Muslim turut berpartisipasi dengan memberikan dukungan dalam bentuk sumbangan dana. Kebersamaan tersebut menjadi bukti bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk saling membantu dan menghargai.
Menjawab pertanyaan pendengar mengenai tantangan media sosial terhadap kehidupan beragama, Salhan menegaskan pentingnya membangun budaya literasi digital di kalangan pelajar. Ia mengingatkan siswa untuk selalu "saring sebelum sharing", sehingga tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya maupun konten yang dapat memicu perpecahan.
Nilai moderasi beragama juga diintegrasikan melalui pembelajaran Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Dalam proyek tersebut, peserta didik dikenalkan dengan berbagai tradisi keagamaan dan budaya, seperti tradisi Dikili dalam Islam, Tulude atau ucapan syukur dalam tradisi Kristen, serta Barongsai yang diperkenalkan sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat. Melalui kegiatan ini, siswa diajak mengenal, memahami, dan menghormati keberagaman sebagai identitas bangsa Indonesia.
Sementara itu, Guru SMA Negeri 1 Kota Gorontalo, Rahim, menekankan bahwa pendidikan toleransi tidak cukup hanya disampaikan melalui teori di ruang kelas. Menurutnya, keterlibatan keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik agar mampu menghormati pemeluk agama lain. "Guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membangun sinergi dengan keluarga agar nilai-nilai toleransi tumbuh dalam kehidupan sehari-hari," ungkapnya.
Melalui pembiasaan tersebut, SMA Negeri 1 Kota Gorontalo menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan sekadar konsep, melainkan budaya sekolah yang diwujudkan dalam sikap saling menghormati, bekerja sama, dan hidup berdampingan secara damai. Pendidikan seperti inilah yang diharapkan mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter Pancasila, serta menjaga persatuan Indonesia di tengah keberagaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....