BAYA BULILO, Pakaian Adat Gorontalo Sarat Makna dalam Tradisi Kedukaan

  • 17 Jul 2026 19:40 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID Gorontalo: Pada tradisi BAYA BULILO, penggunaan warna pakaian disesuaikan dengan tahapan pelaksanaan doa arwah.

Pada upacara pemakaman, doa arwah hari ke-7, dan hari ke-20, masyarakat mengenakan pakaian berwarna putih. Warna putih melambangkan ketulusan, keikhlasan, serta kesucian hati para pelayat dalam mendoakan almarhum atau almarhumah. Selain itu, putih juga menjadi pengingat bahwa pada akhirnya setiap manusia akan kembali kepada Sang Pencipta dengan dibalut kain kafan berwarna putih.

Memasuki doa arwah hari ke-40, digunakan warna biru tua maupun biru muda. Warna biru melambangkan kesabaran bagi keluarga yang ditinggalkan. Filosofi ini diibaratkan seperti langit dan lautan yang tampak dekat namun sesungguhnya jauh dan dalam. Makna tersebut menggambarkan bahwa ruh orang yang telah meninggal terasa dekat dalam kenangan, tetapi sejatinya telah berada di alam yang berbeda.

Selanjutnya, pada doa arwah hari ke-100, dikenakan pakaian berwarna hitam. Warna hitam mengandung makna agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengikhlaskan dan perlahan melupakan musibah yang menimpa. Di sisi lain, warna hitam juga melambangkan bahwa sosok yang telah berpulang memang telah jauh, namun kenangan dan jasa-jasanya masih tetap terasa dan dikenang.

Sebagai pelengkap busana perempuan dalam prosesi BAYA BULILO, digunakan Bate Tunggohu. Kelengkapan busana ini memiliki pesan adat yang dikenal dalam ungkapan Gorontalo "Wulo-wuloto Bate Tunggohu", yang mengajarkan agar seseorang tidak banyak bergerak, tidak banyak melihat, dan tidak banyak berbicara (Du'o-du'oto).

Nilai tersebut mencerminkan sikap santun, penghormatan, serta pengendalian diri selama mengikuti prosesi adat kedukaan.

BAYA BULILO bukan sekadar pakaian adat, tetapi merupakan simbol penghormatan kepada mereka yang telah berpulang sekaligus pengingat akan nilai-nilai kehidupan, kesabaran, keikhlasan, dan penghormatan terhadap adat istiadat Gorontalo yang tetap lestari hingga kini.

Beberapa informasi tentang tradisi lainnya Di Gorontalo bisa di dapatkan pada Sumber: Buku Sosialisasi Adat Gorontalo (2002),Buku Seminar Adat Gorontalo (2007) dan Buku Tata Upacara Adat Gorontalo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....