Menjaga Fitrah Anak, Menjaga Masa Depan Generasi
- 10 Jul 2026 10:52 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID Gorontalo– Menjaga fitrah anak menjadi tanggung jawab besar setiap orang tua. Pendidikan karakter, nilai agama, serta adat istiadat yang diwariskan sejak dini dinilai menjadi benteng utama agar anak tumbuh sesuai dengan jati dirinya dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai perubahan nilai di tengah perkembangan zaman.
Hal tersebut disampaikan narasumber Religi Pagi, Ishak Bakari, dalam siaran Program Religi Pagi RRI Gorontalo, Jumat, 10 Juli 2026. Menurutnya, setiap anak lahir dalam keadaan suci atau fitrah. Karena itu, keluarga memiliki peran yang sangat menentukan dalam membentuk kepribadian, akhlak, dan keyakinan anak.
Ishak Bakari mengutip ajaran Islam yang menyebutkan bahwa setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Pesan tersebut, katanya, menegaskan bahwa lingkungan keluarga merupakan sekolah pertama sekaligus tempat utama pembentukan karakter seorang anak.
"Orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan materi anak. Yang jauh lebih penting adalah menanamkan akidah, akhlak, adab, dan memberikan teladan yang baik setiap hari. Anak belajar bukan hanya dari apa yang didengar, tetapi juga dari apa yang dilihat dalam kehidupan orang tuanya," jelasnya.
Menurut Ishak, tantangan yang dihadapi keluarga saat ini semakin kompleks. Arus informasi yang sangat cepat melalui media digital membuat anak-anak mudah terpapar berbagai gaya hidup dan pemikiran yang belum tentu sejalan dengan nilai agama maupun budaya lokal. Apabila tidak didampingi dengan baik, anak dapat kehilangan arah dan menjauh dari fitrah yang telah Allah berikan.
Ia menambahkan, fenomena penyimpangan perilaku sosial di kalangan generasi muda perlu menjadi perhatian bersama. Karena itu, orang tua kini tidak hanya berkewajiban menjaga anak perempuan, tetapi juga harus memberikan pengawasan yang sama kepada anak laki-laki. Keduanya sama-sama membutuhkan perhatian, kasih sayang, pendidikan agama, serta pendampingan yang intensif agar tidak terjerumus pada perilaku yang menyimpang.
Dalam kesempatan tersebut, Ishak juga menyoroti pentingnya sinergi antara keluarga, sekolah, tokoh agama, dan masyarakat dalam menjaga generasi muda. Menurutnya, upaya mempertahankan fitrah manusia tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja, melainkan memerlukan kepedulian seluruh elemen masyarakat.
Ia juga mengapresiasi adanya perhatian pemerintah terhadap penguatan nilai-nilai moral melalui penyusunan regulasi daerah yang mengedepankan nilai agama dan adat Gorontalo. Menurutnya, langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat pendidikan karakter serta menjaga identitas masyarakat Gorontalo yang selama ini dikenal menjunjung tinggi falsafah "Adati Hula-Hulaa to Syara', Syara' Hula-Hulaa to Kitabullah", yaitu adat yang bersendikan syariat, dan syariat yang bersendikan Al-Qur'an.
Ishak mengingatkan bahwa mempertahankan fitrah manusia bukan berarti menolak perkembangan zaman, melainkan membekali anak dengan iman, ilmu, dan akhlak agar mampu menyaring setiap pengaruh yang datang. Dengan fondasi tersebut, generasi muda diharapkan tetap tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, menghormati adat, serta mampu memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.
Melalui momentum Religi Pagi, masyarakat diajak untuk kembali menyadari bahwa menjaga fitrah anak bukan hanya tugas seorang ibu atau ayah, tetapi merupakan amanah bersama. Sebab, keluarga yang kuat akan melahirkan generasi yang kuat, dan generasi yang kuat menjadi fondasi bagi masa depan bangsa yang bermartabat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....