Kuku Kucing, Ancaman yang Terlupakan
- 29 Jun 2026 22:08 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID,Gorontalo - Memotong kuku merupakan salah satu perawatan dasar yang penting bagi kucing peliharaan. Sayangnya, masih banyak pemilik yang mengabaikan kebiasaan ini karena menganggap kuku akan terawat dengan sendirinya. Padahal, kuku yang dibiarkan tumbuh terlalu panjang dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan pada kucing sekaligus menyulitkan pemilik dalam kehidupan sehari-hari.
Dikutip dari dokterpet.com, kuku kucing yang jarang dipotong bukan hanya memengaruhi penampilan, tetapi juga dapat menjadi penyebab rasa sakit, stres, hingga meningkatkan risiko infeksi. Kondisi tersebut bahkan dapat berdampak pada aktivitas dan kualitas hidup kucing.
Salah satu masalah yang paling sering terjadi adalah kuku yang tumbuh memanjang lalu melengkung ke dalam hingga menusuk bantalan kaki. Kondisi ini menyebabkan kucing merasa kesakitan saat berjalan, bahkan dapat membuatnya pincang atau berjalan dengan posisi jinjit. Jika tidak segera ditangani, luka pada bantalan kaki dapat berkembang menjadi infeksi yang memerlukan perawatan medis.
Selain itu, kuku yang terlalu panjang dan tajam juga meningkatkan risiko luka akibat cakaran pada tubuh kucing sendiri. Saat membersihkan tubuh atau menggaruk bagian yang terasa gatal, kuku dapat melukai kulit sehingga menjadi pintu masuk bakteri penyebab infeksi. Luka tersebut dapat membuat kucing terus merasa gatal, gelisah, dan tidak nyaman.
Kuku yang panjang juga dapat mengganggu kebiasaan grooming atau membersihkan tubuh, yang merupakan naluri alami kucing. Kuku yang tersangkut pada bulu atau melukai kulit membuat aktivitas grooming menjadi tidak nyaman. Akibatnya, kucing menjadi malas membersihkan tubuhnya sehingga bulu tampak kusam, berbau, dan berisiko mengalami gangguan kulit.
Ketidaknyamanan akibat kuku yang terlalu panjang juga dapat memengaruhi kondisi psikologis kucing. Hewan ini menjadi lebih sulit memanjat, melompat, maupun menggaruk media yang tersedia. Aktivitas yang terbatas dapat memicu stres, mengurangi nafsu makan, serta membuat kucing menjadi lebih pendiam atau kurang aktif.
Dalam jangka panjang, rasa sakit saat bergerak membuat kucing lebih banyak berdiam diri. Kurangnya aktivitas fisik meningkatkan risiko obesitas yang dapat memicu gangguan pada persendian maupun organ tubuh lainnya.
Bukan hanya kucing yang merasakan dampaknya, pemilik juga dapat mengalami berbagai masalah akibat kuku yang tidak dirawat. Bermain bersama kucing menjadi lebih berisiko karena kuku yang tajam dapat menyebabkan luka cakaran. Jika kuku dalam kondisi kotor, luka tersebut berpotensi mengalami infeksi akibat bakteri yang menempel pada kuku.
Selain itu, naluri alami kucing untuk mengasah kuku membuat furnitur rumah seperti sofa, kursi, gorden, hingga karpet lebih rentan mengalami kerusakan apabila kuku dibiarkan terlalu panjang. Kondisi ini dapat diminimalkan dengan pemotongan kuku secara rutin serta menyediakan scratching post sebagai media menggaruk.
Bagi keluarga yang memiliki anak kecil, perhatian ekstra juga diperlukan. Anak-anak yang belum memahami cara berinteraksi dengan hewan dapat secara tidak sengaja memicu reaksi refleks kucing. Jika kuku masih panjang dan tajam, risiko terjadinya luka cakaran menjadi lebih besar.
Kuku yang panjang juga dapat menyulitkan saat kucing dibawa ke dokter hewan atau tempat grooming. Ketika merasa takut atau stres, kucing lebih mudah mencakar pemilik maupun petugas, sehingga proses pemeriksaan dan perawatan menjadi lebih sulit dilakukan.
Karena itu, pemilik disarankan untuk memotong kuku kucing secara berkala, umumnya setiap dua hingga empat minggu sesuai kecepatan pertumbuhan kuku. Pemeriksaan rutin pada bantalan kaki, menjaga kebersihan kuku, serta menyediakan tempat khusus untuk menggaruk juga menjadi langkah sederhana yang dapat menjaga kesehatan kucing sekaligus menciptakan lingkungan rumah yang lebih aman dan nyaman bagi seluruh anggota keluarga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....