Mengenal Pasola Tradisi Unik Masyarakat Sumba yang Mendunia
- 13 Jun 2026 11:40 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID,Gorontalo - Tradisi Pasola merupakan salah satu warisan budaya paling terkenal dari Pulau Sumba yang hingga kini masih terus dilestarikan oleh masyarakat setempat. Tradisi yang menampilkan dua kelompok penunggang kuda saling melempar tombak kayu di arena terbuka ini tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga memiliki makna adat, budaya, dan spiritual yang mendalam.
Pasola merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Sumba, khususnya para penganut kepercayaan Marapu. Tradisi ini biasanya diselenggarakan menjelang musim tanam, sekitar bulan Februari hingga Maret, sebagai bentuk permohonan kepada leluhur agar diberikan kesuburan tanah serta hasil panen yang melimpah.
Secara etimologis, istilah Pasola berasal dari bahasa Sumba, yakni "pa" yang berarti permainan dan "sola" atau "hola" yang berarti tombak atau lembing. Dengan demikian, Pasola dapat diartikan sebagai permainan atau pertarungan menggunakan tombak yang dilakukan di atas kuda.
Meski sering disebut sebagai perang adat, Pasola sejatinya mengandung nilai-nilai kebersamaan, keberanian, sportivitas, serta penghormatan terhadap tradisi leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurut cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Sumba, Pasola berawal dari kisah seorang perempuan cantik bernama Rabu Kaba. Kisah tersebut melibatkan dua kelompok masyarakat, yakni suku Waiwuang dan suku Kodi, yang berselisih akibat perebutan Rabu Kaba.
Perselisihan yang berpotensi memicu konflik berkepanjangan kemudian diselesaikan melalui musyawarah para tetua adat. Sebagai jalan damai, kedua kelompok sepakat melaksanakan ritual Nyale yang kemudian dilanjutkan dengan Pasola.
Sejak saat itu, Pasola berkembang menjadi simbol keberanian sekaligus lambang persatuan dan penyelesaian konflik secara adat. Tradisi ini pun terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Sumba.
Pelaksanaan Pasola selalu diawali dengan tradisi Nyale, yaitu kegiatan mencari cacing laut di pesisir pantai yang dipimpin oleh para tetua adat. Kemunculan nyale dipercaya sebagai pertanda datangnya musim tanam serta menjadi petunjuk mengenai kondisi hasil panen pada tahun tersebut.
Bagi masyarakat Sumba, Nyale dan Pasola merupakan dua tradisi yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Keduanya diyakini sebagai warisan leluhur yang memiliki makna spiritual dan sosial yang sangat penting.
Selain rangkaian ritual, Pasola juga diiringi berbagai aturan dan pantangan yang harus dipatuhi masyarakat. Beberapa di antaranya adalah larangan mengenakan pakaian berwarna merah, memakai giring-giring, membunyikan gong, menyanyikan lagu daerah saat mengerjakan sawah, melintasi lokasi yang dianggap pamali, menumbuk padi pada malam hari, menyalakan api atau membakar ladang, hingga membakar ayam.
Masyarakat percaya bahwa kepatuhan terhadap berbagai pantangan tersebut akan menjaga kesakralan dan kelancaran pelaksanaan Pasola.
Tradisi Pasola dilaksanakan melalui beberapa tahapan penting. Tahap pertama diawali dengan musyawarah para rato atau tetua adat untuk menentukan waktu pelaksanaan berdasarkan tanda-tanda alam, khususnya kemunculan nyale. Pada tahap ini masyarakat juga mempersiapkan tombak kayu, kuda Sumba, serta perlengkapan adat lainnya.
Selanjutnya dilakukan tradisi pencarian Nyale yang menjadi penanda dimulainya rangkaian upacara adat. Setelah itu, masyarakat menggelar Pajurra, yakni tradisi bergulat di atas pasir sebagai bagian dari perayaan menjelang puncak acara.
Puncak Pasola ditandai dengan pertemuan dua kelompok penunggang kuda yang saling melempar tombak kayu di arena terbuka. Atraksi ini menjadi momen yang paling ditunggu sekaligus menarik perhatian wisatawan yang datang ke Sumba.
Rangkaian upacara kemudian ditutup dengan prosesi ketua adat memasuki arena sambil menunggang kuda dan mengelilingi lokasi sebagai tanda berakhirnya Pasola. Setelah itu, masyarakat menggelar ritual syukur dan memberikan persembahan kepada leluhur sebagai ungkapan terima kasih atas kelancaran pelaksanaan tradisi.
Hingga kini, Pasola tetap menjadi simbol kekayaan budaya Indonesia yang menunjukkan kuatnya hubungan masyarakat Sumba dengan tradisi, alam, dan nilai-nilai leluhur yang terus dijaga di tengah perkembangan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....