Penguatan pendidikan dan lingkungan sosial bagi lansia
- 24 Mei 2026 12:41 WIB
- Gorontalo
RRI. CO. ID Gorontalo: Dalam rangka memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HALUN) yang jatuh setiap bulan Mei,upaya penguatan pendidikan dan lingkungan sosial bagi para lansia di Gorontalo terus menunjukkan perkembangan positif. Program ini menjadi angin segar bagi para oma dan opa, yang selama ini membutuhkan ruang untuk tetap aktif, produktif, dan menjaga daya pikir di usia senja.
Ketua Yayasan Putra Mandiri dan Peduli Lansia Gorontalo, Raden Sahi, mengungkapkan bahwa program pendidikan lansia saat ini telah berjalan di dua lokasi, yakni Tenggela dan Kelurahan Sipatana. Kegiatan ini tidak berfokus pada pendidikan formal, melainkan pendidikan nonformal yang dilaksanakan satu kali dalam seminggu. Menariknya, di Tenggela, konsep pembelajaran bahkan telah berkembang hingga setara dengan standar tinggi, yang disebut-sebut sebagai level “S3” dalam konteks pengembangan kapasitas lansia.
Program ini mendapat respons yang sangat baik dari para lansia, yang merasa memiliki ruang baru untuk belajar, bersosialisasi, dan mengisi waktu dengan kegiatan positif. Bahkan, program ini telah diresmikan atau dilaunching oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kualitas hidup lansia.Namun demikian, tantangan tetap ada. Menurut Irvan Tasnur, akademisi dari Fakultas Pendidikan, penguatan pendidikan lansia membutuhkan gerakan nyata dan kolaborasi lintas sektor. Ia menilai bahwa banyak lansia yang tidak memiliki aktivitas lain, sehingga program seperti ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan mental dan sosial mereka. Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi melalui program pengabdian masyarakat berbasis tematik.
Sementara itu, pemerhati lansia, Suryati Suma, menyoroti bahwa persoalan utama lansia terletak pada keseharian mereka yang cenderung pasif di rumah. Padahal, menjaga stabilitas emosi dan daya pikir sangat penting agar lansia tetap sehat secara mental. Ia juga menambahkan bahwa hingga saat ini, belum ada sistem pendidikan lansia yang menyeluruh dan terstruktur di tingkat masyarakat.
Kendala lain yang dihadapi justru datang dari lingkungan keluarga sendiri. Masih ada anggapan bahwa lansia cukup berdiam diri di rumah tanpa perlu aktivitas tambahan. Selain itu, pengurus program juga membutuhkan waktu ekstra dalam mengelola kegiatan, serta perlunya sosialisasi yang lebih luas agar program ini dapat menjangkau lebih banyak lansia.
Meski berjalan tanpa bantuan pemerintah secara langsung, Yayasan Putra Mandiri tetap konsisten menjalankan program ini dengan semangat tinggi, bahkan didukung oleh kontribusi para lansia itu sendiri. Hal ini menjadi bukti bahwa semangat belajar dan berkembang tidak mengenal usia.Ke depan, diharapkan adanya langkah konkret dari berbagai pihak, termasuk pembentukan wadah atau pusat kegiatan lansia di tingkat RT dan RW. Dengan begitu, pendidikan lansia dapat lebih merata dan menjadi bagian dari sistem sosial masyarakat.
Momentum HALUN tahun ini menjadi pengingat bahwa lansia bukanlah kelompok yang harus dipinggirkan, melainkan bagian penting dari masyarakat yang tetap memiliki potensi untuk berkembang, belajar, dan menginspirasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....