Dunia Kehilangan Warna saat Kupu-Kupu Mulai Punah
- 17 Mei 2026 11:47 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID,Gorontalo - Penurunan populasi kupu-kupu kini menjadi perhatian serius dunia. Dalam dua dekade terakhir, jumlah kupu-kupu mengalami penyusutan yang cukup drastis akibat berbagai tekanan lingkungan. Sebuah penelitian mencatat bahwa selama periode 2000 hingga 2020, Amerika kehilangan sekitar 22 persen populasi kupu-kupu. Fenomena serupa juga mulai menjadi ancaman di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dilansir dari Good News From Indonesia, kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor seperti polusi udara, perubahan iklim, hilangnya habitat alami, hingga berkurangnya tanaman pakan dan tanaman inang yang dibutuhkan kupu-kupu untuk berkembang biak.
Guru Besar IPB University dari Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Noor Farikhah Haneda, menjelaskan bahwa kupu-kupu merupakan indikator penting kesehatan lingkungan karena sangat sensitif terhadap perubahan ekosistem.
“Populasi kupu-kupu berkorelasi langsung dengan ketersediaan food plant dan host plant. Jika keduanya berkurang, maka populasi kupu-kupu juga akan menurun,” jelasnya.
Menurutnya, beberapa spesies kupu-kupu masih mampu bertahan di lingkungan tercemar, namun sebagian besar mengalami penurunan populasi akibat rusaknya kualitas habitat. Kondisi ini tidak hanya mengancam keberadaan kupu-kupu, tetapi juga berdampak besar terhadap keseimbangan alam.
Sebagai salah satu polinator alami, kupu-kupu berperan penting dalam membantu proses penyerbukan tanaman. Jika jumlah mereka terus berkurang, produksi buah dan biji tanaman juga dapat menurun. Dampaknya kemudian akan merembet ke rantai makanan dan memengaruhi berbagai jenis satwa lain.
“Kupu-kupu adalah bagian dari jaring-jaring kehidupan. Hilangnya mereka akan berdampak pada burung, kelelawar, dan hewan lain yang bergantung pada kupu-kupu sebagai sumber makanan,” tegas Prof. Noor.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, sejumlah langkah jangka pendek dan jangka panjang mulai dilakukan. Salah satu solusi sementara adalah menyediakan sumber nektar buatan berupa cairan madu di wilayah yang minim tanaman berbunga. Di kawasan Kampus IPB Dramaga, misalnya, telah tersedia beberapa titik pemberian pakan buatan di sekitar Fakultas Pertanian dan Graha Widya Wisuda.
Namun, solusi yang lebih berkelanjutan adalah memperbanyak tanaman berbunga sebagai sumber nektar alami. Tanaman seperti bunga kertas, bunga matahari, serta berbagai bunga liar dinilai efektif menarik kupu-kupu kembali ke habitatnya.
Di sisi lain, pelestarian kupu-kupu juga menghadapi tantangan besar akibat pesatnya pembangunan infrastruktur, industri, dan kawasan permukiman yang kerap mengorbankan ruang hijau.
“Polusi adalah konsekuensi yang tak terhindarkan dari pembangunan. Namun, kita harus menyeimbangkannya dengan penyediaan ruang terbuka hijau,” ujar Prof. Noor.
Pemerintah sebenarnya telah memiliki aturan terkait penyediaan ruang terbuka hijau melalui Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mewajibkan setiap kota menyediakan minimal 30 persen ruang terbuka hijau. Selain itu, Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2002 juga mengatur pentingnya hutan kota sebagai bagian dari kawasan hijau perkotaan.
Meski demikian, implementasi di lapangan masih menjadi tantangan. Banyak kawasan industri dan pemukiman yang belum memenuhi kewajiban penyediaan ruang terbuka hijau. Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu memperketat pengawasan dan penegakan aturan.
Selain peran pemerintah, masyarakat juga memiliki kontribusi penting dalam menjaga populasi kupu-kupu. Langkah sederhana seperti menanam bunga di pekarangan rumah, mengurangi penggunaan pestisida, mendukung program penghijauan, hingga mengedukasi generasi muda tentang pentingnya kupu-kupu dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem.
Dengan langkah bersama antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, keberlangsungan kupu-kupu diharapkan tetap terjaga di tengah tantangan perubahan lingkungan yang semakin besar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....