Thailand Temukan Dinosaurus Raksasa Baru

  • 17 Mei 2026 15:56 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID,Gorontalo -

Dunia paleontologi kembali dibuat takjub setelah para ilmuwan dari Thailand dan Inggris berhasil mengumumkan penemuan spesies baru dinosaurus raksasa berleher panjang bernama Nagatitan Chaiyaphumensis. Dinosaurus ini disebut sebagai dinosaurus terbesar yang pernah ditemukan di Thailand bahkan di kawasan Asia Tenggara.

Fosil dinosaurus tersebut ditemukan di desa Ban Phanang Suea, distrik Nong Bua Rawe, provinsi Chaiyaphum, wilayah timur laut Thailand. Penemuan ini menjadi salah satu temuan paleontologi terbesar di Asia dalam beberapa tahun terakhir karena ukuran tubuh dinosaurus yang luar biasa besar dan kondisi fosil yang cukup lengkap.

Penelitian terhadap fosil tersebut dilakukan oleh tim ilmuwan dari Mahasarakham University bekerja sama dengan University College London atau UCL. Hasil riset mereka kemudian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Scientific Reports.

Dikutip dari tekno.sindonews.com dan berbagai sumber ilmiah internasional, para peneliti menyebut Nagatitan Chaiyaphumensis termasuk dalam keluarga Titanosauridae, kelompok dinosaurus sauropoda herbivora yang dikenal memiliki tubuh raksasa dengan leher dan ekor panjang.

Sauropoda sendiri merupakan kelompok dinosaurus pemakan tumbuhan yang pernah mendominasi Bumi pada era Mesozoikum. Kelompok ini terkenal sebagai hewan darat terbesar yang pernah hidup dalam sejarah planet Bumi.

Menurut hasil penelitian, Nagatitan Chaiyaphumensis diperkirakan memiliki panjang tubuh sekitar 27 hingga 30 meter dengan berat lebih dari 26 ton. Berat tersebut setara dengan sekitar sembilan gajah Asia dewasa.

Ukuran fosil yang ditemukan menunjukkan betapa masifnya dinosaurus ini. Tungkai depan kanan memiliki panjang mencapai 1,78 meter, sementara tulang paha belakangnya berukuran lebih dari dua meter. Para ilmuwan meyakini hewan purba ini memiliki tubuh yang sangat kuat untuk menopang bobot raksasanya.

Nama “Nagatitan” dipilih dengan menggabungkan unsur budaya Asia Tenggara dan mitologi Yunani. Kata “Naga” berasal dari makhluk ular mitologis yang sangat dikenal dalam budaya Asia Tenggara, sedangkan “Titan” terinspirasi dari para dewa raksasa dalam mitologi Yunani. Sementara nama “Chaiyaphumensis” diambil dari provinsi Chaiyaphum, lokasi ditemukannya fosil dinosaurus tersebut.

Para peneliti memperkirakan Nagatitan Chaiyaphumensis hidup sekitar 100 hingga 120 juta tahun lalu pada periode Cretaceous. Artinya, dinosaurus raksasa ini hidup sekitar 40 juta tahun lebih awal dibandingkan Tyrannosaurus rex yang jauh lebih populer di dunia.

Ketua tim penelitian, Thitiwut Sethapanichsakul, yang merupakan mahasiswa doktoral asal Thailand di UCL, mengatakan tim peneliti memberi julukan dinosaurus tersebut sebagai “Titan Terakhir Thailand”.

Julukan itu diberikan karena fosil-fosil Nagatitan ditemukan di lapisan batuan termuda yang masih menyimpan jejak dinosaurus di Thailand. Menurut Thitiwut, pada akhir era dinosaurus, wilayah tersebut perlahan mulai tertutup laut dangkal sehingga keberadaan fosil dinosaurus pada lapisan batuan yang lebih muda menjadi semakin langka.

“Daerah ini secara bertahap berubah menjadi laut dangkal menjelang akhir era dinosaurus, sehingga fosil dinosaurus dari periode tersebut sangat jarang ditemukan,” ujarnya.

Sementara itu, paleontolog dari Mahasarakham University, Sita Manitkul, menjelaskan bahwa Nagatitan Chaiyaphumensis menjadi spesies dinosaurus ke-14 yang secara resmi diberi nama di Thailand.

Ia juga menilai Thailand merupakan salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman fosil dinosaurus tertinggi di Asia. Menurutnya, wilayah timur laut Thailand menyimpan banyak lapisan batuan purba yang kaya akan fosil hewan prasejarah.

“Thailand memiliki potensi paleontologi yang sangat besar dan masih banyak fosil yang belum diteliti sepenuhnya,” katanya.

Penelitian terhadap Nagatitan juga memberikan gambaran tentang kondisi Bumi pada masa lalu. Menurut tim ilmuwan, dinosaurus ini hidup pada periode dengan kadar karbon dioksida yang sangat tinggi di atmosfer, ditambah kondisi pemanasan global yang terjadi secara alami pada masa itu.

Profesor Paul Upchurch dari UCL menjelaskan bahwa tingginya kadar karbon dioksida kemungkinan besar memengaruhi pertumbuhan flora atau tumbuhan yang menjadi sumber makanan utama sauropoda raksasa tersebut.

Menurutnya, lingkungan dengan tumbuhan melimpah dapat membantu menjelaskan bagaimana dinosaurus herbivora seperti Nagatitan mampu berevolusi menjadi hewan darat terbesar di Bumi.

“Perubahan iklim purba mungkin menciptakan kondisi lingkungan yang mendukung pertumbuhan tanaman dalam jumlah besar sehingga mampu menopang hewan-hewan raksasa,” jelasnya.

Para paleontolog menegaskan bahwa penemuan fosil memiliki arti penting bagi ilmu pengetahuan. Fosil tidak hanya membantu mengungkap keberadaan hewan purba, tetapi juga menjadi bukti mengenai kondisi geografi, lingkungan, hingga keanekaragaman hayati pada masa lampau.

Fosil juga dianggap sebagai catatan sejarah Bumi sebelum manusia muncul. Dari fosil, para ilmuwan dapat mempelajari evolusi kehidupan, perubahan iklim, hingga perkembangan lingkungan selama jutaan tahun.

Selain memiliki nilai ilmiah tinggi, fosil-fosil dinosaurus juga menjadi warisan alam penting yang harus dijaga dan dilestarikan. Penemuan Nagatitan Chaiyaphumensis diharapkan dapat meningkatkan perhatian dunia terhadap kekayaan paleontologi di Asia Tenggara, khususnya Thailand.

Penemuan dinosaurus raksasa ini sekaligus membuktikan bahwa wilayah Asia Tenggara pada masa prasejarah pernah menjadi habitat berbagai hewan raksasa yang hidup jutaan tahun lalu. Dengan ukuran tubuh yang luar biasa besar dan usia yang mencapai lebih dari 100 juta tahun, Nagatitan Chaiyaphumensis kini menjadi salah satu simbol penting dalam sejarah penelitian dinosaurus dunia.






google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....