Beras masih menjadi makanan pokok

  • 05 Mei 2026 20:42 WIB
  •  Gorontalo

RRI. CO. ID Gorontalo : Gorontalo terus memperkuat ketahanan pangannya dengan memastikan ketersediaan beras tetap aman di tengah berbagai tantangan global. Upaya ini menjadi penting mengingat beras masih menjadi makanan pokok utama masyarakat. Dengan jumlah penduduk yang mencapai sekitar 1,2 juta jiwa, kebutuhan beras di Provinsi Gorontalo diperkirakan berada pada kisaran 30 hingga 50 ribu ton per tahun.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Gorontalo, Mulyadi Mario, dalam program “Tamu Kita” RRI Gorontalo, Senin (4/5/2026), menyampaikan bahwa kondisi produksi beras di daerah tersebut saat ini menunjukkan tren positif. Produksi pertanian bahkan mengalami peningkatan hingga 20 persen, yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga berpotensi menyuplai ke daerah lain sebagai bagian dari kontribusi terhadap ketahanan pangan nasional.

Menurut Mulyadi, menjaga kecukupan beras bukan sekadar persoalan produksi, tetapi juga menyangkut kebiasaan konsumsi masyarakat. Meski secara teori beras dapat digantikan oleh sumber karbohidrat lain, kenyataannya sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk di Gorontalo, masih merasa belum “makan” jika belum mengonsumsi nasi. Hal ini menjadikan beras tetap memiliki posisi strategis dalam pola konsumsi sehari-hari.

Ia juga mengingatkan pengalaman saat pandemi COVID-19, ketika sejumlah negara membatasi ekspor beras demi menjaga stok dalam negeri. Kondisi tersebut menjadi pelajaran penting bahwa kemandirian pangan harus terus diperkuat, terlebih di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu saat ini. Ketergantungan terhadap pasokan luar dinilai berisiko jika tidak diimbangi dengan produksi dalam negeri yang memadai.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi Gorontalo terus mendorong langkah intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Intensifikasi dilakukan dengan meningkatkan produktivitas lahan yang sudah ada, sementara ekstensifikasi difokuskan pada penambahan luas area tanam serta optimalisasi lahan. Lahan yang sebelumnya hanya ditanami sekali dalam setahun kini didorong untuk bisa ditingkatkan frekuensi tanamnya, sehingga produksi beras dapat terus meningkat dan ketahanan pangan daerah semakin kokoh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....