Subuh Menyala, Jamaah Sambut Antusias

  • 19 Apr 2026 05:27 WIB
  •  Gorontalo

RRI. CO. ID Gorontalo: Kegiatan religi bertajuk Subuh Menyala kembali menghadirkan suasana penuh makna pada Sabtu, 18 April 2026. Kajian yang rutin digelar setiap pekan ini menjadi ruang muhasabah bagi masyarakat, mengajak jamaah untuk kembali menata hati dan memperkuat kecintaan kepada Allah di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia.

Pada pekan ini, tausiyah disampaikan oleh Prof. Dr. Kasim Yahidji yang mengangkat tema besar tentang muhasabah dan kecintaan kepada Allah. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan bahwa segala kenikmatan dunia baik harta, jabatan, maupun kebahagiaan tidak boleh membuat manusia lalai dari tujuan utama hidup, yakni mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

“Apapun yang kita miliki hari ini adalah titipan. Jangan sampai kita mencintai dunia lebih dari kecintaan kita kepada Allah,” ujarnya di hadapan jamaah yang hadir usai salat Subuh.

Ia juga mengingatkan bahwa salah satu bentuk nyata dari kecintaan kepada Allah adalah dengan menjaga dan mendirikan salat. Salat bukan sekadar kewajiban, melainkan sarana komunikasi langsung antara hamba dan Rabb-nya. Dari situlah ketenangan hati dan kekuatan iman akan tumbuh.

Untuk memudahkan pemahaman jamaah, Prof. Kasim memberikan analogi yang menarik dengan mengutip lirik lagu populer yang dibawakan oleh Titiek Puspa berjudul Jatuh Cinta Berjuta Rasanya. Ia menjelaskan bahwa sebagaimana cinta kepada sesama manusia bisa menghadirkan berbagai rasa bahagia, rindu, hingga pengorbanan maka kecintaan kepada Allah seharusnya jauh lebih dalam dan tulus.

“Kalau kita bisa merasakan ‘berjuta rasa’ dalam cinta kepada manusia, maka cinta kepada Allah seharusnya lebih besar lagi. Ada rasa rindu dalam doa, ada harap dalam sujud, dan ada ketenangan dalam setiap ibadah,” tambahnya.

Kegiatan Subuh Menyala ini pun menjadi pengingat bahwa di tengah kesibukan dunia, manusia perlu meluangkan waktu untuk berhenti sejenak, merenung, dan memperbaiki hubungan dengan Allah. Muhasabah bukan hanya tentang menyesali kesalahan, tetapi juga tentang memperkuat niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Dengan suasana yang khidmat dan penuh kehangatan, kajian ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran spiritual masyarakat, bahwa kebahagiaan sejati bukan hanya terletak pada apa yang dimiliki di dunia, melainkan pada seberapa dekat hati seorang hamba dengan Tuhannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....