Mengenal Gozilla El Nino, Anomali Cuaca Ekstrem

  • 31 Mar 2026 09:19 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo - Fenomena cuaca ekstrem yang dijuluki “Godzilla El Nino” mulai ramai diperbincangkan dan diprediksi akan berdampak pada kondisi iklim di Indonesia dalam waktu dekat. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan fenomena El Nino dengan intensitas yang jauh lebih kuat dari biasanya. El Nino sendiri merupakan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang dapat memengaruhi pola cuaca secara global, termasuk di Indonesia.

Ketika fenomena ini menguat, pola pembentukan awan dan curah hujan ikut berubah. Awan cenderung terkonsentrasi di wilayah Samudra Pasifik, sehingga Indonesia mengalami pengurangan pembentukan awan. Kondisi ini berdampak langsung pada menurunnya curah hujan, yang kemudian memicu musim kemarau menjadi lebih panjang, kering, dan disertai peningkatan suhu udara di berbagai wilayah.

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Erma Yulihastin, menyebutkan bahwa fenomena ini berpotensi meningkatkan suhu udara hingga sekitar 1,5 hingga 2 derajat Celsius secara bertahap. Selain itu, kondisi ini diperkirakan akan terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yaitu fenomena pendinginan suhu permukaan laut di wilayah barat Indonesia seperti Sumatra dan Jawa, yang semakin mengurangi pembentukan awan dan memperparah kondisi kekeringan.

Berdasarkan informasi yang disampaikan, tanda-tanda kemunculan fenomena ini diperkirakan mulai terlihat pada April 2026. Meski demikian, hujan masih berpotensi terjadi hingga akhir Maret sebelum intensitasnya menurun secara bertahap. Memasuki April, kondisi cuaca diprediksi akan mulai didominasi oleh udara panas dan kering, menandai awal musim kemarau yang lebih ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dampak fenomena ini tidak akan dirasakan secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Daerah di selatan ekuator seperti Pulau Jawa dan sebagian Sumatra berpotensi mengalami kekeringan, suhu udara yang lebih panas, serta peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan. Sementara itu, wilayah utara ekuator seperti sebagian Kalimantan dan Sumatra bagian utara justru berpeluang mengalami hujan dengan intensitas tinggi yang dapat memicu banjir, sehingga masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang terjadi.

Penulis: Gede Divta

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....