Krokot, Superfood Mahal di Eropa
- 04 Feb 2026 08:18 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo – Tanaman krokot atau Portulaca oleracea selama ini kerap dianggap sebagai gulma liar yang tumbuh di pekarangan, kebun, hingga sela-sela jalan. Namun, siapa sangka tanaman sederhana ini justru masuk kategori superfood bernilai tinggi di sejumlah negara Eropa karena kandungan gizinya yang melimpah dan manfaat kesehatannya yang beragam.
Krokot dikenal luas di Eropa dengan nama purslane dan banyak digunakan sebagai bahan salad, sup, hingga campuran hidangan sehat. Di negara seperti Prancis, Italia, dan Yunani, tanaman ini dijual dengan harga relatif mahal di pasar organik karena dianggap sebagai sayuran fungsional yang kaya nutrisi.
Menurut data dari Food and Agriculture Organization (FAO), kerokot mengandung asam lemak omega-3 nabati dalam jumlah tinggi, bahkan lebih tinggi dibandingkan sebagian besar sayuran hijau lainnya. Kandungan ini berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung, mengurangi peradangan, serta mendukung fungsi otak.
Selain omega-3, krokot juga kaya vitamin A, C, dan E, serta mineral penting seperti magnesium, kalsium, zat besi, dan kalium. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Ethnopharmacology menyebutkan bahwa krokot memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi yang berpotensi membantu mencegah penyakit kronis.
Di Eropa, tren gaya hidup sehat dan konsumsi pangan alami membuat permintaan terhadap kerokot terus meningkat. European Food Safety Authority (EFSA) mencatat bahwa tanaman ini aman dikonsumsi dan berpotensi menjadi sumber pangan alternatif berkelanjutan di tengah tantangan krisis pangan global.
Berbanding terbalik dengan kondisi tersebut di Indonesia, krokot masih sering dipandang sebagai tanaman liar yang tidak bernilai ekonomi. Padahal, di beberapa daerah, kerokot sebenarnya sudah lama dimanfaatkan sebagai sayur tradisional dan bahan lalapan oleh masyarakat lokal.
Pakar pangan lokal menilai, minimnya literasi gizi dan informasi membuat potensi krokot belum tergarap optimal. Jika dibudidayakan dan diolah dengan standar yang baik, krokot berpeluang menjadi komoditas pangan lokal bernilai tambah sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat.
Pengembangan krokot sebagai pangan fungsional juga sejalan dengan upaya diversifikasi konsumsi pangan dan pemanfaatan sumber daya lokal. Selain mudah tumbuh, tanaman ini relatif tahan terhadap kondisi kering dan tidak memerlukan perawatan intensif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....