Hilirisasi Gula Aren Masih Terkendala

  • 05 Agt 2026 10:36 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Besarnya potensi gula aren di Provinsi Gorontalo belum sepenuhnya diikuti dengan pengembangan industri hilir yang kuat. Sejumlah tantangan masih menjadi penghambat sehingga komoditas lokal tersebut belum mampu memenuhi permintaan pasar modern maupun peluang ekspor secara optimal.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Peternakan dan Perkebunan Provinsi Gorontalo, Rina Agustina Thayeb, saat menjadi narasumber dalam program tamu kita, senin 3 agustus 2026, mengatakan produksi gula aren di Gorontalo masih didominasi pola pengolahan tradisional. Kondisi tersebut menyebabkan kualitas produk belum seragam, produktivitas relatif rendah, dan kapasitas produksi masih terbatas sehingga sulit memenuhi kebutuhan pasar dalam jumlah besar.

Selain itu, standarisasi dan sertifikasi produk juga masih menjadi tantangan. Baru sebagian kecil pelaku usaha yang telah memiliki sertifikat halal, PIRT, BPOM maupun sertifikasi mutu lainnya. Di sisi lain, kemasan dan branding produk gula aren juga dinilai belum kompetitif karena sebagian besar masih menggunakan kemasan tradisional.

Keterbatasan industri pengolahan turut memengaruhi proses hilirisasi. Penguatan kelembagaan petani, pengrajin, dan pelaku usaha gula aren juga dinilai masih perlu ditingkatkan agar mampu membangun rantai usaha yang lebih efisien dan berdaya saing. Kolaborasi antarpetani menjadi faktor penting untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam skala besar.

Rina menjelaskan bahwa tantangan terbesar petani saat ini justru berada pada sektor budidaya. Sebagian besar pohon aren yang dimanfaatkan masih tumbuh alami sehingga waktu panen tidak seragam dan produktivitas sulit diprediksi. Oleh sebab itu, penyediaan bibit unggul menjadi kebutuhan utama agar produksi dapat meningkat secara berkelanjutan.

Di tengah keterbatasan anggaran pemerintah daerah, pengembangan budidaya aren membutuhkan sinergi lintas sektor. Mengingat pengelolaan pohon aren berkaitan dengan sektor kehutanan, sedangkan pengolahan niranya menjadi kewenangan sektor perkebunan, kolaborasi kedua sektor tersebut diperlukan agar bantuan bibit, pendampingan, hingga sarana produksi dapat berjalan lebih optimal.

Pemerintah juga mendorong keterlibatan generasi muda dalam pengembangan usaha gula aren melalui pelatihan budidaya, teknik penyadapan nira, pengolahan produk berkualitas, pengemasan modern, pemasaran digital, hingga akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Penguatan promosi melalui pameran, festival, marketplace, dan peluang ekspor juga menjadi bagian dari strategi memperluas pasar.

Dengan langkah tersebut, gula aren diharapkan tidak hanya dikenal sebagai produk tradisional, tetapi berkembang menjadi komoditas unggulan yang memiliki nilai tambah tinggi. Pemerintah optimistis pengembangan hilirisasi akan meningkatkan kesejahteraan petani, membuka lapangan kerja, sekaligus memperkuat daya saing produk lokal Gorontalo di tingkat nasional maupun internasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....