Kasubi Kembali Didorong Jadi Pangan Unggulan

  • 10 Jun 2026 14:39 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo, Prof. Dr. Mohamad Ikbal Bahua, S.P., M.Si., menilai komoditas ubi kayu atau kasubi yang dahulu menjadi salah satu pangan utama masyarakat Gorontalo perlu kembali dikembangkan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan daerah. Hal tersebut disampaikannya dalam program Dialog Tamu Kita, Senin (8/6/2026).

Menurut Prof. Ikbal Bahua, Gorontalo memiliki sejarah panjang dalam pemanfaatan ubi kayu sebagai sumber pangan masyarakat. Pada masa lalu, kasubi menjadi komoditas yang banyak diperjualbelikan, bahkan diangkut menggunakan gerobak dari wilayah Telaga menuju Kota Gorontalo. Selain dikonsumsi langsung, ubi kayu juga menjadi bahan baku berbagai makanan dan kue tradisional yang hingga kini masih dikenal masyarakat.

Namun, seiring perkembangan sektor pertanian dan masuknya era revolusi hijau, pola budidaya masyarakat mulai berubah. Kehadiran teknologi pertanian modern serta berkembangnya komoditas jagung sebagai unggulan daerah setelah Gorontalo menjadi provinsi baru mendorong petani lebih fokus pada tanaman yang dianggap memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan pasar yang lebih jelas.

Ia menjelaskan, ubi kayu dan ubi jalar sebenarnya memiliki peran penting sebagai pangan substitusi karena kaya karbohidrat dan dapat menjadi alternatif sumber energi selain beras maupun jagung. Sayangnya, pola tanam masyarakat saat ini cenderung didominasi oleh padi dan jagung, sementara tanaman palawija dan umbi-umbian semakin jarang dibudidayakan.

Dari sisi diversifikasi pertanian, Prof. Ikbal menilai petani perlu didorong untuk menerapkan pola tanam yang lebih beragam. Setelah panen jagung, misalnya, lahan dapat dimanfaatkan untuk menanam ubi kayu atau ubi jalar sehingga produktivitas lahan tetap terjaga. Menurutnya, petani bukan tidak ingin menanam umbi-umbian, tetapi selama ini telah terikat pada sistem agribisnis jagung yang didukung ketersediaan benih, pupuk, pestisida, hingga jaringan pemasaran yang lebih mapan.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa anggapan ubi kayu dan ubi jalar sebagai tanaman tradisional yang ketinggalan zaman perlu diubah. Saat ini, berbagai negara memanfaatkan hasil olahan singkong sebagai bahan baku industri pangan, kosmetik, pati industri, hingga bioetanol yang mendukung pengembangan energi terbarukan. FAO juga mencatat bahwa singkong merupakan komoditas strategis abad ke-21 karena memiliki banyak manfaat pangan maupun industri.

Selain memiliki nilai ekonomi, singkong dikenal sebagai tanaman yang relatif tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem dan mampu tumbuh di lahan marginal. Berbagai kajian FAO menyebutkan bahwa singkong merupakan tanaman yang adaptif terhadap perubahan iklim dan berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat, terutama saat terjadi gangguan produksi pangan utama.

Karena itu, Prof. Ikbal mendorong pemerintah untuk memperkuat program diversifikasi pangan melalui edukasi masyarakat, dukungan teknologi budidaya, serta pengembangan sistem tumpang sari antara jagung, ubi kayu, dan ubi jalar. Langkah tersebut dinilai penting agar Gorontalo tidak hanya bergantung pada satu komoditas, tetapi juga memiliki cadangan pangan lokal yang berkelanjutan dan bernilai ekonomi tinggi. Upaya ini sejalan dengan kebijakan nasional yang mendorong pengembangan pangan lokal, termasuk ubi jalar dan umbi-umbian, sebagai bagian dari penguatan sistem pangan Indonesia.

Selain itu, Prof. Ikbal Bahua juga menekankan pentingnya penerapan konsep perwilayahan komoditas pangan lokal berbasis potensi lahan dan karakteristik wilayah. Menurutnya, pemerintah daerah perlu menetapkan kawasan-kawasan khusus pengembangan tanaman umbi-umbian agar budidayanya lebih terarah dan berkelanjutan.

Sebagai contoh, satu wilayah dapat difokuskan sebagai sentra produksi ubi kayu (kasubi), sementara wilayah lainnya dikembangkan sebagai sentra ubi jalar (atetela). Dengan pola perwilayahan tersebut, pengelolaan budidaya, penyediaan bibit unggul, pendampingan teknologi, hingga pemasaran hasil panen akan lebih efektif dan mampu menciptakan rantai pasok yang kuat bagi pengembangan pangan lokal di Gorontalo.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....