Kampung Adat Bena: Megalitik yang Hidup di Zaman Modern

  • 28 Agt 2024 21:00 WIB
  •  Ende

KBRN, Ende: Terletak di Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, Kampung Adat Bena tidak hanya menawarkan keindahan alam dan arsitektur yang unik, tetapi juga menyimpan sejarah panjang yang telah berdiri kokoh selama lebih dari 1.200 tahun. Kampung ini menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang paling diminati di Flores, menarik wisatawan domestik dan mancanegara dengan pesona khasnya.

Kampung Bena, yang berada sekitar 22 kilometer dari Kota Bajawa, merupakan salah satu contoh nyata dari warisan budaya zaman megalitikum yang masih lestari. Di tengah kemajuan zaman, Kampung Bena tetap mempertahankan keaslian budaya dan tradisi leluhur mereka. Kampung ini berada di puncak bukit, dikelilingi oleh keindahan alam pegunungan, dengan Gunung Inerie berdiri megah di sebelah timurnya.

Kehidupan di Kampung Bena memiliki keunikan tersendiri. Kampung ini hanya memiliki satu pintu gerbang sebagai akses masuk dan keluar. Di tengah kampung, terdapat dua bangunan simbolik yang disebut Bhaga dan Ngadhu. Ngadhu merupakan representasi nenek moyang laki-laki, sementara Bhaga melambangkan nenek moyang perempuan. Bangunan ini menjadi pusat kegiatan adat dan ritual masyarakat Bena, yang hingga kini masih dijalankan dengan khidmat.

Keunikan dan kekayaan budaya Kampung Bena tidak hanya diakui oleh wisatawan, tetapi juga oleh pemerintah dan pihak-pihak yang berkompeten dalam sektor pariwisata. Pada 14 Agustus 2024, Direktur Tata Kelola Destinasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Florida Pardosi, bersama dewan juri Anugerah Desa Wisata Indonesia, mengunjungi Kampung Bena untuk menilai langsung keunikan dan potensi yang dimiliki kampung ini. Dari 16.016 desa wisata yang ada di Indonesia, Kampung Bena berhasil masuk dalam 50 besar nominasi Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024.

Kehadiran dewan juri, termasuk Joko Winarno dan Medaline Shopie Atik Wulandari, merupakan bagian dari proses penjurian yang melibatkan verifikasi secara eviden terhadap dokumen dan legalitas yang diajukan melalui jaringan Desa Wisata. Joko Winarno menjelaskan bahwa penilaian ini mencakup lima kategori utama: daya tarik wisata, amenitas seperti sarana pendukung, digitalisasi, lembaga dan sumber daya manusia, serta pengelolaan sampah dan mitigasi risiko bencana.

Kampung Adat Bena, dengan segala pesonanya, menjadi salah satu bukti bahwa kebudayaan megalitikum masih bisa hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi. Sebagai salah satu desa terbaik di Indonesia, Kampung Bena bukan hanya menawarkan wisata budaya, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana sebuah komunitas bisa mempertahankan tradisi dan nilai-nilai leluhur di tengah dunia yang terus berubah.

Dengan masuknya Kampung Bena dalam 50 besar nominasi Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024, tidak hanya menjadi kebanggaan bagi masyarakat setempat, tetapi juga memperkuat posisi Flores sebagai salah satu destinasi wisata budaya terbaik di Indonesia. Kampung ini menjadi contoh inspiratif bagi desa-desa lainnya untuk terus menjaga dan melestarikan warisan budaya yang mereka miliki.


Rekomendasi Berita