Kelompok Usaha Kain Tenun Ikat Tanimbar AWA ERAS

  • 17 Jul 2024 08:48 WIB
  •  Tual

KBRN, Langgur: Di Tanimbar sanggar-sanggar tenun sudah jarang memintal dari bahan kapas untuk pembuatan kain tenun. Mereka lebih banyak memakai benang yang sudah dijual dipasaran untuk menenun karena lebih praktis. Sehingga kain yang dibuat lebih cepat selesai dan cepat bisa dijual atau untuk dipakai sendiri atau untuk keperluan adat. Kain tenun pada masyarakat Tanimbar terdapat hampir pada semua desa dengan motif yang berbeda antara desa satu dengan desa lainnya. Sebagian besar penenun adalah perempuan. Sejak dulu, saat anak perempuan sudah beranjak dewasa maka dia akan diajari menenun. Jika belum bisa menenun, maka perempuan belum dianggap dewasa dan belum siap untuk menikah.

Dahulu, mereka membuat kain tenun dengan tiga warna yakni hitam, kuning dan merah. Warna hitam didapatkan dari daun taru. Sementara warna kuning didapatkan dari pohon mengkudu atau nengwe. Sedangkan untuk warna merah, mereka menggunakan kulit pohon mangrove yang disebut dengan tongke/mange-mange. Saat ini penenun jarang menggunakan benang yang terbuat dari kapas karena menenun membutuhkan waktu lebih lama, kain agak berat sehingga kurang diminati pembeli lokal. Mereka lebih suka menggunakan benang pabrik dengan pewarna kain pabrikan. Para penenun yang sebagian besar perempuan akan mengerjakan satu helai kain selama tiga hari jika dikerjakan dari pagi sampai sore. Namun jika dikerjakan di antara pekerjaan rumah tangga lainnya, satu lembar kain akan diselesaikan dalam waktu 7 hari. Pada umumnya penenun di Tanimbar akan mengerjakan kain tenun seorang diri mulai dari awal pembuatan motif hingga selesai. Motif biasanya akan dibuat terlebih dahulu di sehelai kertas. Pada umumnya motif kain tenun baik klasik maupun modern tak berbeda jauh. Cerita yang sama disampaikan ketua kelompok usaha kain tenun ikat tanimbar diberi nama ‘‘Awa Eras’’ yang artinya kelompok ‘Yang Baik’ dari desa Fursui kecamatan selaru, kecamatan tanimbar selatan, kabupaten kepulauan tanimbar. Kelompok ini menenun khusus tenun ikat motif khas Selaru dengan nama Abu-abu Naik dan Tais Matan yang menjadi andalannya, dikatakannya kelompok usaha ini telah berdiri sejak kurang lebih sepuluh tahun silam hingga sekarang masih produktif dan telah menjadikan mata pencaharian bagi pelaku kerajinan kain tenun pada anggota usaha kelompok tersebut.

Ibu Silas mengakui dirinya beserta anggota kelompok lain berjumla 8 orang, rata-rata berasal dari desa yang sama yakni desa Fursui kecamatan Selaru, dengan sistem pemasaran dipajang langsung di lapak masing-masing anggota, karena kelompok usahanya dianggap sudah cukup terkenal sehingga masyarakat di kota saumlaki dan sekitarnya mudah untuk menjangkaunya. Dikatakan pula bagi anggota yang memproduksi kain tenun yang banyak, maka dia akan mendapatkan hasil yang banyak pula. Namun diakuinya selama ini rata-rata dirinya bersama anggota hampir semua memproduksi sama banyak hasilnya, dan penjualan semakin meningkat dari tahun ketahun.

Saat ditanya berapa banyak jumlah potong kain yang terjual selama kurun waktu satu bulan, ia menjawab antara lima hingga enam potong kain tergantung kebutuhan konsumen, Ibu silas menambahkan kainnya bisa laku keras disaat even-even tertentu seperti pagelaran seni budaya dan juga pada saat kunjungan pejabat negara seperti kunjungan Presiden RI dan Menteri Sosial pada beberapa waktu lalu, yang di order langsung dari dinas terkait. Ibu silas juga menjelaskan perbandingan pembuatan bahan dasar kain tenun pada tahun tujuh puluhan yang dinilai sangat sulit sehingga hasil produktivitasnya sangatlah minim karena diproses dari bahan alami yang memakan waktu berminggu-minggu untuk mendapatkan satu potong kain dan lebih mirisnya lagi hanya bisa membuat dua warna saja, yakni warna hijau dan merah, jika dibandingkan zaman sekarang, bahan dasarnya sangat mudah dijangkau karena dijual secara instan di pasaran atau di toko-toko. Dengan begitu mereka lebih efisien menghasilkan sepotong kain hanya membutuhkan waktu dua sampai tiga hari saja.

Ibu silas berharap kepada pemerintah desa dan pemerintah daerah, untuk memberikan dukungan moril maupun finansial kepada kelompok usahanya tersebut, agar lebih sejahtera dan terus berkreasi demi kemajuan daerah dengan nilai-nilai budaya,adat dan istiadat yang ada di Bumi yang bertajuk Duan Lolat ini, teristimewa yang menjadi ikon ciri khas adat daerah Tanimbar adalah Kain Tenun Ikat Tanimbar sudah tersohor secara nasional maupun internasional.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....