Budaya Ngupi di Kota 1001 Warung Kopi

  • 12 Mei 2024 23:46 WIB
  •  Sungailiat

KBRN, Belitung Timur : Kota 1001 Warung Kopi. Julukan itu tersemat pada kota Manggar, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Belitung Timur.

Tak mengherankan memang dijuluki Kota 1001 Warung Kopi, karena hampir di setiap lejuk (sudut) kota kecil di Timur Pulau Belitung itu pasti ada warung kopi, jaraknya berdekatan, berdampingan, dan saling berhadapan.

Menikmati secangkir kopi di warkop-warkop sekitar Manggar dijamin tak menguras isi dompet. Pengunjung cukup merogoh kocek Rp5 ribu/gelas untuk dapat mencicipi nikmatnya Kupi (Kopi) Manggar.

Selain menjamur warung kopi, bisa dibilang kebiasaan minum kopi di warung kopi sudah menjadi 'budaya' keseharian masyarakat Manggar. Penggambaran kuatnya budaya ngopi di warkop masyarakat Manggar pun divisualisasikan Pemerintah Kabupaten Belitung Timur dengan membangun Tugu 1001 Warung Kopi di persimpangan ruas Jalan Lipat Kajang, Desa Baru, Manggar, yang diresmikan pada Minggu (5/5/2013) silam, yang kini telah menjadi salah satu ikon kota Manggar.

Kopi itu pahit tapi tetap bisa dinikmati. Kenikmatan minum kopi di warkop bagi penikmatnya memang bisa menghadirkan sensasi tak terkira. Menyeruput kopi di warkop tidak lah sama rasanya dengan minum di rumah. Ada suasana berbeda yang bisa dirasakan. Warkop menghadirkan nuansa dan iklim yang berbeda, karena mampu memberikan warna dan menghadirkan persaudaraan, saling mengenal, dapat berinteraksi, dan juga menjadi baik karena ada tren positif yaitu silaturahmi.

Setiap kerumunan di warung kopi itu ada banyak cerita, ada banyak pelangi, atau bahkan harta karun yang terungkap. Mereka para penikmat kopi saling berdiskusi untuk satu visi dan misi diselingi manis pahitnya secangkir kopi yang menghias setiap meja di warkop itu.

Devi, warga Manggar mengaku dalam sehari bisa sampai 3 waktu nongkrong di warkop langganannya di sekitar Pasar Lipat Kajang Manggar.

"Biasanya sih pagi, lalu siang atau jelang petang, dan malam hari. Ya sama teman-teman, ngumpul, diskusi banyak hal lah, senang aja ngopi atau ngupi di warkop ini, rame," kata Devi, Minggu (12/5/2024).

Sama halnya dengan warga Desa Padang, Bryan. Tapi Bryan menyebut dia agak selektif dalam memilih warkop.

"Sering sih (nongkrong di warkop-red), cuma ya memang saya agak selektif, cari yang cocok suasana dan rasanya juga," ucap Bryan.

Pengunjung warkop lain, Wahyu juga begitu. Bagi Wahyu, tidak ke warkop barang sehari saja seperti ada 'sesuatu yang hilang'. Karena itu dia setiap hari hampir bisa dipastikan meluangkan waktu untuk minum-minum di warkop.

"Rasanya lain aja Bang kalau nggak ke warkop, ada yang aneh, jadi ya walaupun sebentar tetap luangkan waktu ke warkop," ujar Wahyu.

Bisa jadi apa yang tadi diungkapkan Devi, Bryan, dan Wahyu menggambarkan sebagian besar warga Manggar. Dan menjadi sebuah inspiratif manakala perbedaan dan keragaman bangsa ini yang telah terkontaminasi perlu media ngopi bareng sebagai ruang pemersatu.

Kuatnya budaya ngopi di warkop masyarakat Manggar juga disadari Pemerintah Kabupaten Belitung Timur, salah satunya dengan membangun Tugu 1001 Warung Kopi di daerah Pasar Lipat Kajang, yang bisa disebut sebagai ikon budaya ngopi masyarakat Belitung Timur.

Hidup ini seperti secangkir kopi di mana pahit dan manis bertemu dalam kehangatan. Kopi identik sebagai minuman yang membangkitkan energi dan semangat. Banyak pola pikir dan ide menarik tercipta dari seseorang yang mendapatkan kekuatan dari meneguk kopi. Hal ini karena memang kopi mampu meningkatkan sistem kerja otak agar bisa terus bekerja tanpa diselingi dengan rasa kantuk yang mengganggu.


"Salam Ngupi"



Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....