Asal Mula Kerupuk Emping Hingga Proses Pembuatannya
- 04 Feb 2024 14:02 WIB
- Lhokseumawe
KBRN, Pidie: Menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS) Pidie, September 2017, luasan tanam pohon Melinjo mencapai 33,075 ribu Hektare. Dengan luas tanam lebih dari 33 ribu Hektare itu, menjadikan Kabupaten Pidie sebagai surganya Mulieng (Melinjo).

Bahkan BPS menyebutkan, Mulieng tidak hanya sekedar panen lalu dijual, tetapi beberapa wilayah di Pidie mengolahnya menjadi Kerupuk Emping dari buah Melinjo. Salah satu wilayah penghasil Kerupuk Mulieng ialah Mukim Beureueh.
Mukim Beureueh yang berada di Kecamatan Mutiara, bahkan telah memiliki industri rumah tangga Kerupuk Mulieng. Dilakoni warga di 4 Gampong, yaitu Gampong Blang, Gampong Dayah, Gampong Sagoe, dan Gampong Pante.
Kerupuk Mulieng, merupakan salah satu Komoditi pengolahan hasil pertanian yang memiliki nilai tinggi, baik karena rasa yang enak, dan harga jual yang relatif mahal. Kerajinan Kerupuk Mulieng kini telah menjadi pekerjaan utama para ibu-ibu rumah tangga, dan para remaja di Kemukiman Beureueh, sebuah wilayah yang terkenal dengan tokoh sejarah Tgk. Muhammad Daud Beureueh.
Nama tokoh Kusuma Bangsa itu juga diabadikan kini menjadi sebuah Masjid dipusat Kota Beureunuen, juga menjadi nama jalan penghubung Kabupaten antara Kota Beureunuen dengan Kecamatan Kembang Tanjong.
Dinas Pendidikan, dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pidie, mulai awal Januari 2024 telah memulai penelitian dengan membentuk tim pencari fakta jejak sejarah Mulieng Pidie. Penelitian sekaligus dalam rangka menjadikan Mulieng Pidie sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Tim pencari fakti kini tengah bekerja mengumpulkan beragam data, termasuk mewawancarai sesepuh yang telah memproduksi Kerupik Mulieng secara turun temurun. Menurut keterangan yang disampaikan Ibu Syamsiah (61 tahun), pada awalnya biji Melinjo tidak diperjual belikan.
Biji Melinjo yang masih muda digunakan sebagai bahan sayur-sayuran, dan yang sudah tua digonseng untuk dimakan oleh anak-anak, terutama sekali pada musim hujan. Kemudian pada pertengahan tahun 1960-an, biji Melinjo yang sudah tua mulai diproses menjadi Emping Melinjo (Kerupuk Mulieng).
“Pada awalnya tidak diperjual belikan, melainkan untuk Konsumsi rumah tangga pengrajin terutama di waktu harga ikan mahal dipasar”, ungkap Ketua Tim lapangan penelitian Mulieng Pidie, Nasairullah kepada RRI, Minggu (4/2/2024).
Tim peneliti juga bertanggung jawab kepada Pj Bupati Pidie, Wahyudi Adisiswanto, Kepala Dinas (Kadis) Dikbud, Yusmadi, dan Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disdikbud, Mahdiana.
Masih menurut Nasairullah, sampai dengan awal tahun 1960-an, sebagian kaum wanita mukim Beureueh bekerja sebagai pedagang “Breuh Silapeh” ke Kota Beureunuen dan kota-kota lainnya di Kabupaten Pidie. “Breuh Silapeh” ialah beras yang ditumbuk dengan “Jeungki” (Penumbuk Padi), dan beras itu seakan-akan tampak seperti dikupas kulitnya.
Kemudian pada pertengahan tahun 1960-an berdiri pabrik penggilangan padi di desa-desa walaupun dalam jumlah terbatas, namun membuat “Breuh Silapeh” tidak dapat bersaing dipasaran. Sejak saat itu, kaum wanita dalam wilayah Beureuh, mengalihkan usahanya kepada kerajinan Emping Melinjo sebagai pekerjaan bagi mereka.
Hasil produksinya itu dipasarkan ke Kota Beureunuen. Kemudian oleh pedagang-pedagang di Kota Beureunuen memasarkannya ke kota-kota lain di Aceh, bahkan ke provinsi Sumatera Utara.
Lama kelamaan, Emping Melinjo mulai dikonsumsi oleh banyak orang, dan permintaannya pun terus meningkat di pasaran. Pada mulanya, pengrajin kerupuk Mulieng di kemukiman Beureueh, memperoleh bahan baku (Biji Melinjo) dari kampungnya sendiri.
Tetapi karena permintaan pasar yang terus meningkat, dan bertambahnya jumlah pengrajin, Mukim Beureueh pun kekurangan bahan baku. Sehingga pengrajin saat itu mencari dan membeli bahan baku (Biji Melinjo) ke kampung-kampung tetangga bahkan hingga keluar Kecamatan Mutiara.
Tetapi, sekarang untuk memperoleh bahan baku, pengrajin tidak harus mencari sendiri lagi ke kampung-kampung, karena sudah bermunculan para Muge-muge atau para pedagang pengumpul buah Melinjo.
“Namun sekarang ini Melinjo Pidie memiliki pesaing berat Melinjo Medan, dan Palembang. Tetapi berbeda rasa, kualitas, dan kandungan Lemak. Masih unggul punya Pidie”, ungkapnya lagi.

Ditambahkan Nasairullah, semua fakta-fakta yang telah diteliti tersebut nantinya diajukan ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceh, untuk dijadikan sebagai bahan penguat rencana Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) ke Kemendikbud Ristek Dikti) RI. Selain itu juga akan dijadikan sebagai penguat Tugu Mulieng yang baru dibangun di Ibukota Pidie, Kota Sigli.
Baca Juga: Pidie Teliti Mulieng, Rencana WBTB, dan Perkuat Narasi Tugu
Kepada RRI, Tim Peneliti Mulieng Pidie juga memaparkan proses pembuatan Emping Melinjo.
Proses pembuatannya melalui beberapa tahapan, yaitu:
- Siapkan Buah Melinjo berwarna Merah (Matang)
- Kupas Kulit hingga bersih
- Buah Melinjo disimpan 1 hari
- Siapkan Wajan dan Pasir untuk proses Sangrai
- Melinjo di Sangrai selama 1 s/d 3 Menit
- Jika sudah Matang, Biji Melinjo akan berwarna Coklat Kehitaman
- Pecahkan kulit keras luar dari Biji Melinjo sampai tersisa Biji bagian dalam warna putih
- Kemudian letakkan diatas Telanan, lalu pukul menggunakan Palu sampai memipih
- Kemudian Melinjo yang sudah menipis di Scrap untuk dipindahkan ke atas Nampan (Bleut).
- Terakhir, di jemur sampai kering.

Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....