Berlari Mengejar Cita-cita dengan Satu Kaki

  • 03 Des 2023 13:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

SEPAK bola amputasi adalah olahraga yang semua pemainnya disabilitas. Pada Hari Disabilitas Internasional 3 Desember ini menjadi momen pas untuk berkenalan dengan Agung Rizki Satria.

Namanya memang tidak setenar Elkan Baggott, Ramadhan Sananta, atau Pratama Arhan. Namun status mereka dengan Agung itu sama, sama-sama pemain Timnas Indonesia.

Bedanya Agung adalah pemain Timnas Indonesia Amputasi. Kesebelasan nasional sepak bola amputasi yang anggota badan pemain tidak lengkap, bisa tangan atau kaki.

Indonesia pernah lolos ke Piala Dunia Amputasi 2022 di Turki. Nah, Agung merupakan satu di antara pemain Indonesia yang bermain.

Lolos ke Piala Dunia Amputasi adalah prestasi yang mengesankan. Kendati di penyisihan grup kalah bersaing dengan Argentina, Amerika Serikat, dan Inggris.

Agung Rizki Satria saat bermain menghadapi Jerman dalam play-off perebutan peringkat 21-24 Piala Dunia Amputasi 2022 di Turki (Foto: Istimewa)

Buat Agung penampilan di Turki memberi kesan tersendiri. Sebab, ia menjadi pencetak gol terbanyak saat kualifikasi Piala Dunia Amputasi 2022.

“Di kualifikasi waktu itu cetak 5 gol. Indonesia finis di peringkat kedua kualifikasi dan lolos ke Turki,” ujar Agung.

Saat ini Agung merupakan anggota Parsaj alias Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Jakarta. Bersama Parsaj belum lama ini mengikuti Piala Menpora 2023 pada 25-27 November.

“Kemarin di Piala Menpora kalah. Namun saya masih bisa tampil sebagai topscorer,” ucap Agung.

Selanjutnya, “Awal Sepak Bola Amputasi”

ADA cerita khas di balik Agung menekuni sepak bola amputasi. Semua itu berawal dari menonton teman-teman yang normal bermain sepak bola.

Hampir tiap sore Agung hanya bisa melihat teman-temannya bermain sepak bola. Di salah sudut kota Palembang itu ia hanya duduk di sebelah kruk yang setia menemani.

Lama kelamaan Agung tidak tahan. Ia memberanikan diri minta orang tuanya dibelikan bola.

Waktu terus berlalu hingga Agung beranjak besar. Lulus SMA ia merantau ke Depok, tinggal di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Faqih Mandiri (PPM AFM).

Namun ia belum lupa dengan olahraga kegemarannya. Agung mulai mencari wadah atau perkumpulan penyandang catat untuk bermain sepak bola.

Akhirnya ia menemukan Parsaj. Pada November 2018 ia mencoba mendaftar untuk bergabung.

Agung Rizki Satria mengenakan nomor 55 di Timnas Indonesia Amputasi saat Piala Dunia 2022 (Foto: Istimewa)

Dari situ Agung beradaptasi dengan cara bermain sepak bola amputasi. Mulai tongkat khusus, regulasi, waktu latihan, dan lain-lain.

“Sempat mau menyerah karena tidak kuat. Tapi terus bertahan dan sekarang bisa mewakili negara untuk bermain di luar negeri,” kata Agung, mengungkapkan.

Saat ini Agung baru saja lulus sarjana di Universitas Gunadarma. Selain mencari pekerjaan ia bertekad terus mengembangkan kemampuan bermain sepak bola.

“Entah ajang nasional atau internasional, saya selalu ingin menjadi pemain terbaik atau topscorer. Saya ingin jadi pemenang,” ucap Agung.

Selanjutnya, “Tidak Tahu Kehilangan Kaki”

KEHILANGAN salah satu anggota tubuh tentu memberi perasaan yang berat. Lantas bagaimana Agung menerima kenyataan itu?

Kisah dimulai ketika mudik Lebaran saat Agung masih kecil. Ayah dan ibunya mengajak mudik menggunakan sepeda motor.

Posisi Agung ada di depan, duduk di tangki sepeda motor sport. Di tengah perjalanan kecelakaan terjadi.

“Karena saya tidur jadi tidak tahu bagaimana kronologinya. Namun orang tua bilang terserempet mobil yang melaju kencang,” kata Agung.

“Tiba-tiba saya sudah terlempar ke atas mobil. Kaki saya ini sudah tidak ada sejak usia 7 tahun, sekitar 2007,” ia menambahkan.

RRI bersama Agung Rizki Satria (kanan) (Foto: Istimewa)

Kali pertama sadar kaki kanannya tidak ada, Agung mengaku belum mengerti banyak hal. Ia malah sempat berpikir yang bagi orang dewasa mungkin terasa miris, “Saya pikir kaki itu bisa tumbuh lagi.”

Namun seiring bertambahnya usia, Agung menerima keterbatasan yang ada. Takdir sudah menetapkan begitu, ia hanya perlu menjalani dengan sepenuh hati.

“Saat sadar punya kekuatan dan kemampuan untuk bergerak, misalnya sepak bola itu, saya merasa bisa bangkit. Orang tua dan teman-teman terus memberi dukungan,” ujar Agung.

Kini Agung dengan segenap cita-cita yang dimiliki tetap optimis menjalani kehidupan. Ia pun mengajak para penyandang disabilitas untuk tidak menyerah, karena masa depan ada di tangan sendiri.

(Artikel ini ditulis Melati Gita Permatasari, mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, peserta program magang di RRI Pusat Pemberitaan)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....