Migas Gerbang Menggapai Asa,Tenun Tanimbar Merengsek Tembus Pasar Dunia
- 27 Nov 2023 15:30 WIB
- Saumlaki
KBRN, Saumlaki: Migas, Gerbang Menggapai Asa,Tenun Tanimbar Merengsek Tembus pasar Dunia.
Saya tak ingat, ketika untuk yang pertama kalinya, gas Abadi Blok Masela muncul ke permukaan. Tetapi yang pasti, beberapa tahun berselang, masyarakat Kepulauan Tanimbar dihebohkan dengan lapangan Gas Abadi Masela, yang telah menyita perhatian dunia.
Tak lama kemudian, muncul Inpex Masela, yang konon khabarnya akan menjadi operator pengoperasian Gas Abadi tersebut.
Meski belum beroperasi karena masih harus menyelesaikan beberapa tahapan yang belum rampung, namun Inpex Masela telah banyak merealisasikan program-program pemberdayaan masyarakat, yang salah satunya adalah kain tenun Tanimbar.
Kain Tenun Tanimbar, merupakan warisan asli leluhur asal Tanimbar sejak berabad-abad silam, yang terus dikembangkan dari generasi ke generasi.
Semula, kain tenun Tanimbar, dibuat dengan menggunakan bahan asli kapas, diolah secara tradisional melalui beberapa tahap untuk menghasilkan benang selama berhari-hari, kemudian benang diatur dengan menggunakan peralatan sederhana yang dalam bahasa lokal Selaru-Tanimbar, dikenal dengan nama "larlar"
Pada "larlar" tersebut, beberapa benang akan diikat dengan menggunakan pucuk daun lontar yang sudah dihaluskan, untuk membentuk motif-motif bunga khas Tanimbar.
Untuk memunculkan motif ini hasil ikatan dimasukkan ke dalam rendaman daun berwarna hitam, di mana seluruh benang menjadi hitam kecuali pada ikatan-ikatan motif, yang saat dibuka akan menghasilkan mitif-motif yang unik dan khas.
Benang celupan dijemur hingga mengering, dan siap ditenun dengan akat tradisional untuk menghasilkan selembar kain, sesuai kebutuhannya. Biasanya lebih banyak dimanfaatkan untuk kain sarung, penutup meja dan syal (selendang).
Meski proses pengolahannya cukup ruwet dan menguras tenaga, namun kain tenun Tanimbar peninggalan para leluhur itu terus berkembang, karena diolah tangan-tangan ulat dan berpengalaman.
Seiring kemajuan, tradisi menenun dengan bahan asli kapas pun hilang, seiring munculnya produk-produk benang yang cocok dijadikan bahan tenun, dan pewarna berupa wantex, sehingga hasil tenunan pun menjadi lebih baik dan cepat pengelolaannya.
Semula penggunaan wantex dinilai mengecewakan karena hasil tenunan menjadi luntur, namun berkat pengetahuan yang makin maju, tenunan diwantex dengan menggunakan sedikit larutan garam, dicuci, dijemur, sebelum bahan tersebut siap ditenun, dan alhasil, bahan kain yang dihasilkan tidak lagi pudar, meskipun dicuci berulang-ulang.
Kemajuan demi kemajuan terus terjadi pada proses pembuatan kain tenun, yang kemudian menghasilkan motif Kristik, selain tenun ikat setelah di tahap ini, kain tenun sudah bisa dipakai untuk pakaian jenis jas, kain sarung, penutup meja, syal (selendang), dasi, dompet, sepatu, tas, dan banyak lagi produk lainnya.
Di tengah-tengah kesibukan menenun dengan berbagai motif yang menawan tersebut, Inpex Masela akhirnya meluncurkan berbagai program pemberdayaan seperti pembangunan bak air dan distribusi air bersih, pelatihan bahasa inggris, bantuan bagi masyarakat yang terdampak gempa bumi, pemberdayaan jurnalis dan juga Tenun Ikat, dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang tidak pernah digunakan sebelumnya.
Pemberdayaan tenun tersebut dipusatkan di dua titik berbeda, masing-masing Kelompok kain tenun Larsasam yang beralamat di Kampung Kolam, Kelurahan Saumlaki Selatan, Kecamatan Tanimbar Selatan Kabupaten Kepulauan Tanimbar, sementara lokasi lainnya merupakan kelompok tenun yang beralamat di desa Amdasa, Kecamatan Wertamrian Kabupaten Kepulauan Tanimbar (berjarak kurang lebih 50 km, sebelah Utara kota Saumlaki.
Ibu Liur, Pimpinan Kelompok tenun Larsasam saat ditemui menyampaikan terima kasih dan apresiasinya kepada Inpex Masela yang begitu peduli dengan Kain Tenun tradisional yang terus dikembangkan dari waktu ke waktu.
"Luar biasa perhatian Inpex soal tenun tradisional." Katanya.
"Apa saja yang dilakukan Inpex Masela terhadap tenun ikat tersebut?" Tanyaku menyelidiki.
"Sangat banyak terutama peralatan berupa ATBM dan bahan-bahan baku lainnya untuk menghasilkan lembaran-lembaran kain yang dihasilkan ATBM tersebut." Jawabnya lagi.
Dalam percakapan itu, banyak dibeberkan terkait antusiasme kelompok dalam pengembangan kain hasil ATBM, di mana ada kemajuan yang dihasilkan kelompok tenun "Larsasam bahkan hasil tenunan ATBM, tak kalah saing dengan tenunan yang dihasilkan secara manual.
"Ini luar biasa karena sangat bersaing dengan produk yang selama ini, di mana standar harga kain untuk tenunan hasil ATBM berkisar Rpm500.000,- (Lima Ratus Ribu Rupiah) setiap lembarnya." Kata Ibu liur lagi.
Sayang sekali, usaha kain tenun "Larsasam" mulai meredup, pasca bencana non alam Covid 19.
Pergerakan kelompok ini terlihat Lesu, dan sepertinya tak ada keinginan untuk pengembangannya dari kelompok tenun, namun Ibu Liur tetap optimis untuk mengembangkannya.
"Sangat disayangkan, pasca Covid 19 itu usaha kami mulai meredup. Namun saya tetap bangkit untuk memajukannya walaupun itu juga tak mudah." Kata ibu liur penuh optimis.
Perwakilan Inpex di Saumlaki Aron Kelitadan saat ditemui mengakui kondisi yang dialami kelompk Tanun Ikat "Larsasam"
"Cerita Ibu Liur itu benar adanya, dan hal itu tidak bisa terbantahkan. Inpex sudah punya niat baik untuk itu namun kembali pada kelompok tenun tersebut." Jelas Kelitadan.
"Lah.... Terus kelompok tenun Amdasa?" Tanyaku singkat.
Yang saya lihat justru jauh lebih terpuruk, dan bahkan beberapa ATBM yang kita berikan sepertinya mulai berkarat dan tidak bisa dioperasikan lagi. Niat kita mau tambahkan lagi peralatan ATBM, tetapi bagaimana dengan niat para kelompok tenun ini demi usahanya ke depan. Jelasnya lagi.
Entah dari mana datangnya, ada yang bersedia support kelompok tenun ikat "Larsasam" Karena rasa optimisme dan keinginan tinggi untuk mengembangkan tenun Ikat dengan ATBM milik kelompok "Larsasam"
Sempat kaget, saat berkunjung ke Wisata Kuliner Dapur Tanimbar, performa yang ditampilkan, bagi saya cukup unik, karena selain tersedia makanan tradisional seperti bakar batu dan berbagai jenis menu khas Tanimbar lainnya, ada alunan musik khas Tanimbar serta berbagai souvenir khas daerah Tanimbar seperti patung kayu Tanimbar, kain tenun Tanimbar tais matan yang diproduksi secara manual dan kain jenis Ulerati (Seratus Ulat) berupa hasil produksi ATBM .
Di sini saya tertarik untuk berbincang-bincang dengan Ervin Kelitadan, Pemilik Dapur Tanimbar, terkait kain yang dipajang di Dapur Tanimbar itu, dan sempat membahas kelompok tenun "Larsasam" yang nyaris macet itu.
"Apa Produk unggulan Wisata Kuliner Dapur Tanimbar?" Tanyaku membuka obrolan.
"Macam-macam menu khas Tanimbar termasuk bakar batu yang hanya tersedia setiap hari kamis, selain itu ada juga tersedia menu umum lainnya." Jawabnya mantap
"Untuk memperoleh Souvenir seperti kain tenun dan yang lainnya?" Tanyaku lagi.
"Kalau souvenir itu di jual. Bagi pengunjung yang datang dari luar Tanimbar yang ingin membawa souvenir, bisa diperoleh di sini dengan harga yang wajar. Jelasnya.
"Ini ada kain tenun berupa tais matan yang diproduksi secara manual, ada juga kain produksi ATBM, dengan motif Ulerati (seratus ulat). Bagaimana proses mempromosikannya, kalau produksinya tidak ada lagi, mengingat produksi ATBM sudah nyaris macet?." Tanyaku lagi.
Semua di luar dugaan. Ternyata Dapur Tanimbar menyatakan siap men-support produksi ATBM oleh kelompok tenun Larsasam dengan memberi bantuan sesuai kebutuhannya.
"Kalau untuk kekuatiran tersebut kita siap support, dengan memberi bantuan sebagaimana dibutuhkan, jika kelompok tenun Larsasam nyatakan optimis untuk mengembangkannya, termasuk kelompok lain yang memproduksi kain tenun dengan pengolahan tradisional maupun dengan menggunakan ATBM." Jawabnya sedikit merincikan.
Klop....
Ternyata ada korelasi baik yang ingin dibangun antara Wisata Kuliner Dapur Tanimbar dan Kelompok tenun yang nyaris macet tersebut.
Inilah gerbang yang bakal dilalui demi menggapai asa, sebagaimana diharapkan Inpex Masela meskipun hingga saat ini belum beroperasi di Kepulauan Tanimbar.
Jika mengawali kegiatan operasionalnya saja sudah banyak melakukan kegiatan pemberdayaan, bagaimana ke depannya setelah beroperasi?
Menjadi perenungan tersendiri bagi masyarakat di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, jika hadirnya hulu migas sangat penting artinya bagi kesejahteraan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....