Akbar Faisal, Mantan Politisi yang Terjun ke Podcast
- 03 Nov 2023 13:14 WIB
- Pusat Pemberitaan
DALAM beberapa tahun terakhir banyak muncul tokoh politik, pejabat publik atau mantan pejabat bahkan guru besar dari perguruan tinggi yang berbicara tentang politik di media sosial. Mereka yang memenuhi media sosial tidak hanya anak muda, kaum milenial dan gen Z, tetapi juga yang berusia di atas 50 tahun.
Mereka mengunggah percakapan politik, memberi komentar tentang apa yang sedang terjadi di jagat politik Tanah Air dalam bentuk podcast atau siniar. Mungkin karena saat ini menjelang Pemilu, maka isu politik makin banyak dicari netizen.
Di sini tidak perlu menyebut siapa saja tokoh yang meramaikan media sosial dengan konten politik. Yang jelas, ada satu konten siniar politik yang bisa disebut di sini yaitu “Akbar Faisal Uncensored” yang dikenal dengan singkatan AFU.
Podcast AFU adalah salah satu yang bisa kita temui di media sosial. Podcast ini diunggah di YouTube dan menyajikan perbincangan politik yang dalam dan menarik.
“Politik adalah bidang yang saya pahami. Karena saya memang orang politik, pernah menjadi anggota partai dan anggota DPR. Saya tidak akan berbicara topik yang tidak saya kuasai,” kata Akbar Faisal dalam percakapan melalui Zoom dengan kepala bidang pemberitaan LPP RRI seluruh Indonesia, Kamis (2/11/2023).
Pengalaman politik laki-laki kelahiran Makasar itu memang cukup panjang. Akbar adalah salah satu pendiri Partai Demokrat, bahkan pernah menjadi Ketua Umum Pemuda Partai Demokrat.
Namun, ketika menjadi anggota DPR RI, Akbar Faisal berada dalam dua partai yang berbeda. Ia menjadi anggota DPR RI dari Partai Nasdem (2014-2019) dan sebelumnya ia adalah aggota DPR RI dari Fraksi Hanura periode 2009-20014.
Sebagai anggota legislatif, namanya sempat berkibar ketika duduk sebagai anggota Panitia Khusus Hak Angket Bank Century. Atas kerja kerasnya itu Akbar Faizal dinobatkan sebagai anggota DPR RI paling berpengaruh oleh Charta Politika Indonesia.
Dalam percakapan dengan para wartawan RRI pagi itu, Akbar mengatakan sebenarnya tidak pernah membayangkan untuk bisa mengelola sebuah acara seperti Podcast AFU. “Sebagai politisi, saya ini narasumber yang biasa ditanya, bukan bertanya. Tapi karena latar belakang saya juga sebagai wartawan, ya akhirya bisa nyambung,” kata Akbar.
Sebelum terjun ke panggung politik, Akbar Faizal adalah wartawan yang pernah bekerja di harian Haluan, Makasar, Jawa Pos, Nusa. Ia juga pernah sebagai redaktur di majalah SWA.
Pengalaman sebagai wartawan itulah yang menuntunnya untuk bisa menggali pertanyaan narasumber dengan baik. Akbar menyadari ada kebiasaan di kalangan wartawan yang sering bertanya sesuatu yang sulit bagi narasumber.
Ada anggapan di kalangan wartawan bahwa semakin sulit pertanyaan untuk dijawab oleh narasumber, maka pertanyaan itu semakin dianggap bagus. Mengenai hal ini Akbar Faizal memiliki sikap yang lain.
“Saya tidak akan pernah mempermalukan tamu karena ia telah menghormati dengan hadir di acara saya. Oleh karena itu saya tidak akan bertanya sesuatu yang tidak bisa dijawab oleh tamu,” katanya.
Ini adalah salah satu prinsip etika yang dipegang oleh Akbar Faisal dalam mengelola komunikasi di Podcast AFU. Oleh karena itu, jika kita menyaksikan AFU, kita tidak akan menemui pertanyaan yang memojokkan atau menyudutkan narasumber.
Dalam konteks ini, host AFU akan tampak sangat santun. Jika toh sebuah pertanyaan diperkirakan sulit, Akbar menyampaikan pelan dengan intonasi suara rendah. Cara bertanya seperti ini jauh dari sikap yang provokatif, apalagi agresif.
Ini tidak berarti pertanyaan Akbar hanya normatif belaka atau sekadar basa-basi di warung kopi. Akbar bertanya dengan mendalam dan tajam.
Oleh karena itu ia memberi kesempatan kepada narasumber untuk menjawab dengan mendalam dan tajam pula. “Saya berusaha agar ruang publik kita isi dengan sesuatu yang bersifat edukasi, bukan pertengkaran. Saya tidak mau bertengkar, saya mau berdiskusi,” kata Akbar.
Kedalaman diskusi dalam AFU bisa dimunculkan karena pertanyaan tidak sekadar berdasarkan atau dikembangkan dari asumsi belaka, melainkan dari data berdasarkan riset. Data yang ada digelar secara terbuka dalam sebuah layar yang lebar di AFU.
Dari data itulah pertanyaan-pertanyaan dari host dan jawaban dari narasumber berkembang. Data yang disajikan AFU diambil dari hasil riset “Nagara Institute” sebuah lembaga kajian yang didirikan oleh Akbar Faisal. Kata “nagara” diambil dari buku Negara Kertagama, karangan Empu Prapanca.
Jika kita perhatikan sejumlah episode di AFU, memang tidak muncul perdebatan atau pertengkaran antara para narasumber atau antara host, dalam hal ini Akbar sendiri dengan narasumber.
Itu karena AFU berorientasi kepada kedalaman diskusi, dan Akbar bisa mengembangkan kemampuan mengendalikan diskusi. Kapan harus bertanya soal A dan kapan bertanya soal B.
Bahkan ketika narasumber merembet membahas Z, Akbar segera mencegah dengan alasan topik Z belum akan dibahas segera. Kemampuan seperti ini tidak banyak dimiliki oleh banyak host podcast.
Akibatnya banyak podcast yang berbicara ngalor-ngidul tidak fokus kepada topik. Sebab, host terbawa arus narasumber.
Pernah suatu ketika AFU mengundang pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy pada awal September 2021. Situasi pertengkaran tidak terelakkan.
Namun Akbar bisa mengendalikan dengan baik. Episode itu diberi judul: “Diajak Diskusi Kok Malah Ngajak Berantem? Debat Abis Adu Data. AFU Featuring Ichanuddin Noorsy.” Tayangan itu hingga kini telah disaksikan lebih dari 3 juta kali.
Hal ini agak berbeda dengan kecenderungan di media sosial atau di media penyiaran kita saat acara talkshow bisanya menghadirkaan perdebatan yang keras, karena pertanyaan yang memojokan. Semakin keras dianggap semakin menarik.
“Mungkin ini karena masa muda saya suka berkelahi. Jadi sekarang tidak tertarik dengan kekerasan,” kata Akbar.

Dengan mengambil sikap demikian Akbar menyadari apa yang dilakukan itu mungkin tidak cukup untuk menggenjot popularitas AFU. Para YouTuber atau media televisi biasanya mendorong memancing pertengkaran dan membawa narasumber untuk “dikuliti” dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit oleh host. Ini semua tidak akan terjadi di AFU.
Podcast AFU memang banyak menyajikan diskusi yang mendalam bukan pertengkaraan. Diskusi yang terjadi di dalam Podcast AFU memang seringkali dianggap terlalu serius dan sulit dipahami oleh orang yang awam atau yang tidak mengikuti perkembangan politik. Akbar menyadari dengan segmen spesifik itu ada kemungkinan tidak disukai netizen.
Namun faktanya, beberapa isu yang digulirkan oleh AFU mendapat sambutan yang luas di tengah masyarakat. Sebagai contoh isu soala “Gaji Anggota DPR” (narasumber Krisdayanti), “Hutang Anies Baswedan kepada Sandiaga Uno” (Narasumber Sandiaga Uno) adalah beberapa contoh Podcast AFU yang sempat viral.
Namun diskusi itu tidak dilakukan dengan suatu iklim diskusi yang profokatif. Isu itu bisa viral justru karena diskusi yang mendalam.
Yang mengejutkan adalah bahwa penonton Podacst AFU sebagian besar adalah anak muda yang berusia antara 21 s.d 45 tahun. Oleh karena itu, Akbar terkadang mencoba menggunakan jargon anak muda agar bisa lebih akrab. “Kata ‘bro’ sering saya pakai agar akrab dengan penonton saya,” katanya.
Dari berbagai ciri khas Podcast AFU tersebut, podcast ini berhasil meraup pelanggan 937 ribu subscribers dan setiap episode di saksikan ratusan ribu kali. “Menjelang pelanggan 1 juta pergerakanya memang terasa makin lambat,” kata Akbar.
Dalam edisi terbaru “Langsung dari IKN: Digarap 10 Ribu Pekerja Siang Malam, Maukah Presiden Baru Meneruskan?”, edisi ini dalam dua hari, telah ditonton 255 ribu orang.
Selanjutnya, “Non Partisan”
SIKAP lain yang ditempuh oleh AFU. Jika kita perhatikan dari berbagai episode yang telah di tayangkan adalah sikap non-partisan yang tampaknya dipegang teguh oleh Akbar.
Hal ini berbeda dengan sejumlah podcast politik yang lazim beredar di dunia maya dalam beberapa tahun terakhir saat podcast yang anti-pemerintah cenderung mengundang kalangan oposisi. Sementara podcast pendukung pemerintah akan mengundang narasumber yang pro pemerintah.
AFU pernah mengundang tokoh kontroversial, Amien Rais, yang ditayangkan 18 Oktober 2021. “Pak Amien kan tahu, saya pendukung Pemerintah. Saya pendukung Pak Jokowi. Tetapi saya memilih untuk menggunakan forum saya ini untuk berbicara dengan semua orang,” kata Akbar kepada Amien Rais. Ketua Umum Partai Ummat itu manggut-manggut mendengar uraian Akbar.
Mengundang Amies Rais rupanya bukan basa-basi bagi Akbar, karena AFU kembali mengundang Amien Rais pada 24 Februari 2023. Kali ini topik yang dibahas adalah soal politik identitas.
Sikap non-partisan AFU, juga bisa dilihat dari tayangan terbaru dengan narasumber mantan Gubernur Lemhanas Agus Wijayanto yang sudah tayang baru-baru ini. Saya tidak akan mengulasnya karena lebih baik anda saksikan sendiri. Selamat menyaksikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....