Barus, Kisah Masyhur Kilometer Nol Peradaban Islam Nusantara
- 03 Nov 2023 00:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Barus: Jalanan berliku dan menanjak mengantarkan kami sampai di mulut pintu gerbang Makam Mahligai. Ini adalah kompleks pemakaman muslim yang merupakan rombongan pertama dari penyebar Islam di nusantara.
Terletak di Desa Aek Dakka, Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, Makam Mahligai tampak sepi pada Sabtu (28/10/2023), jelang asar itu. Tempat yang berada di perbukitan ini biasanya baru ramai peziarah pada Minggu atau hari libur.
Di Makam Mahligai terdapat sekitar 215 kuburan orang-orang saleh. Konon, paling tua adalah makam Syaikh Rukunuddin yang wafat pada 672 Masehi.
Di batu nisan Syekh Rukunuddin terdapat tulisan dalam aksara Arab. Dijelaskan ia sosok yang berasal dari dataran Arab dan merupakan salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw.
Selain Syekh Rukunuddin, orang-orang alim lain yang dimakamkan di Mahligai antara lain Syekh Ushuluddin, Syekh Zainal Abidin Ilyas, Syekh Ilyas, Syekh Imam Khotib Mu’azzamsyah Biktiba’i, Syekh Syamsuddin. Ada lagi Tuanku Ambar, Tuan Kepala Ujung, Tuan Sirampak, Tuan Tembang, Tuanku Kayu Manang, dan Tuanku Makdum.
Azril Siambaton, penjaga Makam Mahligai yang giliran tugas pada hari itu, menerangkan lokasi ini menjadi bukti Islam kali pertama masuk ke nusantara dari Barus. Misi syekh dan para pengikutnya adalah menyebarkan agama Islam dan mencari kapur barus atau kamper.
“Di sinilah para aulia pertama kali menyebarkan agama Islam. Dalam Al-Qur’an kita juga tahu ada kata-kata ‘Kafur’ yang merujuk kepada kapur, air minum surga,” kata Azril.
Fachruddin Daulay, dosen sejarah Universitas Sumatra Utara (USU), dalam artikelnya berjudul ‘Bandar Barus dalam Catatan Sejarah’ mengungkapkan tempat ini memang sudah masyhur berlampau-lampau lamanya. Kamper dari Barus kondang mendunia karena memiliki kualitas terbaik.
“Banyak keterangan yang menyebut kapur barus dari Indonesia pernah digunakan untuk pengawet mumi. Dan, yang biasa diawetkan adalah raja-raja Mesir atau Firaun,” begitu ulasan dari Fachrudin.
Azril membenarkan kisah tentang kapur barus dari lokasi ini dahulu kala pernah jadi bahan pengawet jenazah Firaun. “Dari cerita turun-temurun memang begitu kisahnya,” ucap Azril.
Di Makam Mahligai juga ada pohon barus yang usianya belum terlalu lama. Baru beberapa tahun terakhir ini dan penampakkannya memang masih sangat muda.
Kapur barus berasal dari pohon kamper atau kayu kamper. Nama ilmiahnya Cinnamomum Camphora yang termasuk suku tumbuhan alpukat dan kayu manis.
Selain di Makam Mahligai, jejak Islam pertama nusantara juga terlihat dengan keberadaan perkuburan muslim lainnya. Tepatnya Makam Papan Tinggi di puncak bukit Desa Penanggahan, Kecamatan Barus Utara.
Bila ingin mencapai puncak Makam Papan Tinggi, kita harus menapaki anak tangga yang jumlahnya ratusan. Dari cerita yang ada, anak tangga untuk mencapai puncak jumlahnya sampai 708, sehingga tempat ini juga dikenal dengan nama Makam 1.000 Tangga.
Di Makam Papan Tinggi terdapat peristirahatan abadi Syaikh Mahmud. Ia merupakan orang alim dari Yaman yang berlayar ke Barus pada abad ketujuh, dan tujuannya menyebarkan Islam serta berdagang kapur barus.
Selanjutnya, "Titik Nol Barus"
HUJAN gerimis turun menyambut petang di Titik Nol Barus. Suasana terhitung masih ramai untuk ukuran daerah setingkat kecamatan.
Banyak pengendara sepeda motor berlalu lalang, pergi sesuai kebutuhannya masing-masing. Lagu berbahasa Melayu terdengar kencang dari pengeras suara deretan toko di tepi jalan.
Lokasi itu sekarang dijadikan monumen peringatan. Persisnya bernama “Kilometer 0 Peradaban Islam Nusantara”.
Tentu saja yang dimaksud kilometer nol adalah Islam pertama kali datang ke Indonesia dari Barus. Fakta itu sama seperti cerita dari Azril, penjaga Makam Mahligai.
Tugu kilometer nol diresmikan Presiden Jokowi pada 24 Maret 2017. Paling kentara dari tugu itu adalah keberadaan globe yang disokong tiga pilar dan menghadap Samudra Hindia.
Berdasarkan cerita yang berkembang, tempat itu dahulunya adalah pelabuhan. Kendati tidak terlalu besar, Pelabuhan Barus pada zaman dahulu sangat terkenal di dunia.
Lokasinya yang langsung menghadap ke Samudra Hindia membuat para pelaut lebih mudah bersandar. Apalagi di lokasi ini banyak terdapat kamper yang memiliki nilai tinggi.
Tidak jauh dari titik nol juga terdapat Masjid Raya Barus. Masjid ini memang bukan peninggalan alim ulama generasi awal Islam masuk ke Barus, tetapi cukup memberi sentuhan Islam yang kental di wilayah ini.

Yusuf Sinaga, warga Barus, coba menceritakan sejarah lokasi titik nol. Termasuk Barus secara umum hingga disebut sebagai titik nol peradaban Islam nusantara.
“Kalau dari cerita turun temurun, penyebar Islam kali pertama menjejakkan kaki di Barus itu di Labo Tua. Tempatnya tidak jauh dari perbukitan Makam Mahligai, tetapi kalau sekarang sudah tidak ada bekasnya,” kata Usup, panggilan akrabnya.
“Sementara lokasi titik nol ini adalah pantai yang ada benteng kecil dan musala, tetapi sudah hilang karena abrasi. Orang-orang dahulu pun bisa masuk ke Barus dari sini,” kata Usup.
Buat generasi muda Barus seperti Usup, kisah penting tempatnya berasal tentu memberi kebanggaan tersendiri. Bahkan buat anak-anak yang tidak lahir di Barus, tetapi orang tua atau kakek-neneknya berasal dari sini.
Mungkin saat ini Barus memang tidak lagi seterkenal zaman dahulu. Namun, jejak-jejak kemasyhurannya seperti tidak akan lapuk ditelan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....