Aroma Parfum yang Tak Pernah Hilang dari Ingatan Anak Achmad Yani
- 02 Okt 2026 20:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kenangan parfum menjadi salah satu memori paling kuat Amelia Yani Putri tentang Jenderal Achmad Yani sebelum kepergiannya
- Keluarga Achmad Yani sempat mengungsi dan menunggu kabar karena percaya sang ayah masih dirawat di istana bersama Bung Karno
- Untung Mufreni Yani hanya memiliki lima tahun kebersamaan dengan ayahnya, tetapi menyimpan berbagai kenangan kecil tentang sosok sang ayah
ADA satu aroma yang seolah menolak hilang dari ingatan Amelia Yani Putri, meski puluhan tahun telah berlalu sejak terakhir kali ia bersama sang ayah. Aroma itu berasal dari minyak wangi yang tumpah, lalu diusapkan Jenderal Achmad Yani kepada Amelia dan saudara-saudaranya ketika mereka masih anak-anak.
Bagi Amelia, kenangan itu bukan sekadar tentang keharuman parfum, melainkan potongan kecil dari masa ketika ayahnya masih berada di tengah keluarga. “Kalau ada yang nanya, ‘Wanginya dari mana?’, bilang ya dari Bapak,” kenang Amelia, mengulang pesan sederhana sang ayah yang hingga kini tetap lekat dalam ingatannya. Kepada RRI.CO.ID, Amelia menuturkan kenangan itu usai menghadiri Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Lapangan Monumen Pancasila Sakti, Jakarta Timur, Kamis, 1 Oktober 2026.
Dari begitu banyak kenangan masa kecil bersama Achmad Yani, momen pada 30 September menjadi salah satu yang paling melekat dalam ingatan Amelia. Bahkan setelah waktu berjalan begitu panjang, ia masih mengingat aroma yang melekat dari minyak wangi pemberian sang ayah tersebut.
Tidak ada yang menyangka momen sederhana itu akan menjadi salah satu kenangan terakhir Amelia bersama ayahnya. Sehari setelahnya, rumah yang sebelumnya dipenuhi kehidupan anak-anak berubah menjadi tempat yang menyimpan peristiwa yang tidak pernah bisa dilupakan keluarga.
Pada 1 Oktober 1965, Amelia yang saat itu berusia 16 tahun masih berada di rumah bersama tujuh saudara lainnya. Sekitar pukul empat pagi, mereka terbangun ketika suasana rumah tiba-tiba berubah dan orang-orang datang ke kediaman keluarga.
Dalam keadaan yang masih diliputi kebingungan, Amelia dan saudara-saudaranya melihat sang ayah dibawa keluar dari rumah. “Saya lihat Bapak sudah merem sih matanya, depan saya waktu lewat,” kenang Amelia ketika mengingat pemandangan yang masih tersimpan dalam ingatannya.
Achmad Yani kemudian dibawa keluar menuju jalan sebelum akhirnya dibawa menggunakan truk. Bagi Amelia, pagi itu bukan sekadar sebuah peristiwa yang ia saksikan sebagai anak, tetapi pengalaman yang meninggalkan bekas panjang dalam hidupnya.
Suasana pagi tersebut terasa begitu kacau bagi keluarga yang baru saja terbangun dari tidur. Amelia menggambarkan keadaan itu seperti sebuah kejutan besar yang datang tiba-tiba dan mengubah kehidupan mereka dalam sekejap.
Sekitar pukul sembilan pagi, Amelia bersama keluarganya kemudian diungsikan menuju kawasan Pasar Minggu. Di tempat itu, mereka hanya bisa menunggu sambil berharap kabar mengenai keadaan Achmad Yani segera datang.

Kabar yang diterima keluarga ketika itu justru membuat mereka percaya bahwa sang ayah masih hidup. Mereka mendapat informasi bahwa Achmad Yani sedang dirawat di istana bersama Bung Karno sehingga harapan tersebut terus mereka pegang.
“Di situ (rumah pengungsian) diem saja, nggak ngapain-ngapain, cuma nunggu berita, cuma berita yang kami terima kan Bapak sedang dirawat. Di istana bersama Bung Karno, kita percaya, kita nggak tahu, jadi kita tenang,” kenang Amalia.
Hari-hari berikutnya menjadi penantian yang penuh ketidakpastian bagi keluarga Amelia. Tanpa mereka ketahui, Achmad Yani sebenarnya telah berada di sebuah sumur di kawasan Lubang Buaya.
Kenyataan itu baru mulai terbuka ketika sumur tersebut ditemukan dan proses penggalian dilakukan masyarakat pada Minggu malam. Bagi keluarga yang selama berhari-hari menunggu kabar, malam tersebut menjadi titik ketika harapan perlahan berhadapan dengan kenyataan.
Di tengah penantian itu, terjadi sebuah momen yang hingga kini masih begitu jelas dalam ingatan Amelia. Ibunya yang sebelumnya sedang tertidur tiba-tiba terbangun, keluar dari kamar, kemudian meminta kebaya hitam.
Amelia kemudian mengetahui bahwa sang ibu merasa baru saja didatangi sosok suami tercinta Achmad Yani. Dalam mimpi tersebut, sang suami berpamitan dan hanya meninggalkan satu pesan sederhana untuk keluarganya.
“Bapakmu wes ra ono (sudah nggak ada), barusan pamitan,” kata ibu Amelia sebagaimana dikenangnya. Pesan yang dibawa dari mimpi itu pun begitu singkat, tetapi kelak menjadi salah satu kalimat yang terus hidup dalam ingatan keluarga.
“Jaga anak-anak,” menjadi pesan terakhir yang dikenang Amelia dari cerita sang ibu tentang mimpi tersebut. Tidak lama setelah itu, keluarga kembali dihadapkan pada kenyataan yang semakin sulit untuk mereka terima.
Sehari kemudian, Soebardi yang akrab disapa Om Bardi oleh keluarga Ahmad Yani datang bersama Pak Sukitman ke tempat keluarga mengungsi. Amelia masih mengingat tubuh Om Bardi yang datang dengan berkeringat, matanya merah, serta sepatu boots yang kotor oleh lumpur.
“Om, Bapak udah ketemu? Sudah, dia bilang. Om Bardi lusuh, keringetan, matanya merah. Sepatu bootsnya kotor lumpur, terus dia masuk ke kamar Ibu,” kenang Amelia, seolah kembali melihat sosok Om Bardi yang datang dengan kabar berat itu.
Ketika keluarga bertanya apakah Achmad Yani sudah ditemukan, jawaban yang mereka dengar akhirnya menjadi kepastian yang selama ini mereka tunggu. Setelah itu, Om Bardi masuk ke kamar ibu Amelia dan berbicara secara tertutup selama sekitar 20 hingga 30 menit.
Ketika pintu kamar akhirnya terbuka dan keluarga dipanggil masuk, Amelia melihat Om Bardi menangis dengan kepala tertunduk. Suasana itu menjadi pertanda bahwa kabar yang selama ini mereka tunggu ternyata membawa kenyataan paling berat bagi keluarga.
“Sekarang bapakmu benar-benar sudah tidak ada, yang ada hanya tinggal Ibu sama kamu semua,” kenang Amelia mengulang perkataan ibunya. Kalimat tersebut menjadi kenyataan pahit yang harus diterima Amelia dan saudara-saudaranya setelah berhari-hari menunggu kabar sang ayah.
Sejak saat itu, keluarga perlahan belajar menerima kehidupan yang tidak lagi memiliki Achmad Yani di tengah mereka. Sang ibu meminta anak-anaknya menerima kenyataan dan mendoakan ayah mereka agar dapat beristirahat dengan tenang.
“Kita kan nggak bisa menerima, kita kan nangis, ya. Wes (udah), jangan nangis terus kata Ibu. Sekarang berdoa buat Bapak, biar dia tenang, berdoa,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca mengingat hari itu.
Bagi Amelia, kehilangan itu tidak berhenti pada hari ketika keluarganya menerima kabar tentang sang ayah. Peristiwa tersebut meninggalkan trauma panjang yang membuat ingatan tentang pagi itu tetap hadir bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.
Amelia masih mengingat bagaimana sang ayah berjalan dari kamar menuju pintu sebelum akhirnya peristiwa itu terjadi. Namun, di antara kenangan yang menyakitkan tersebut, ada pula kenangan hangat yang selalu kembali ketika ia mengingat sosok ayahnya.
“Momen hangat tuh banyak ya, Kita kan masih anak-anak ya,” ujar Amelia. Dari begitu banyak momen masa kecil tersebut, aroma parfum pada 30 September kembali menjadi kenangan yang paling kuat baginya.
“Kalau ada yang nanya wanginya dari mana, bilang ya dari bapak, ah itu wanginya sampai hari ini kan,” kata Amelia. Aroma tersebut menjadi bagian kecil dari masa lalu yang masih terasa dekat setiap kali Amelia mengingat sang ayah.
Bertahun-tahun setelah kepergian Achmad Yani, Amelia memilih menjaga cerita tentang ayahnya melalui tulisan dan rekaman. Ia mengatakan telah menerbitkan delapan buku dan membuat banyak podcast agar kisah tentang sang ayah tetap dikenal anak-anak dan generasi berikutnya.
Bagi Amelia, cerita tentang ayahnya bukan hanya bagian dari masa lalu yang seharusnya selesai diceritakan. Ia ingin meninggalkan catatan agar kisah yang diwarisi keluarganya tetap memiliki tempat dan tidak hilang bersama waktu.
Ada pula satu kalimat dari sang Jenderal yang terus dibawa Amelia ketika mengingat sosok ayahnya. “Disiplin adalah nafasku, kesetiaan adalah jiwaku, kehormatan adalah segala-galanya,” kata Amelia mengulang ucapan Ayahnya.
Kalimat tersebut menjadi salah satu cara Amelia mengenang ayahnya melalui nilai yang ia ingat dari sosok Achmad Yani. Di balik sejarah besar yang melekat pada namanya, Amelia tetap menyimpan ingatan tentang seorang ayah yang pernah hadir dalam kesehariannya.
Kenangan Amelia tentang ayahnya mungkin berbeda dengan saudara-saudaranya, tetapi semuanya bermuara pada kehilangan yang sama. Bagi Untung Mufreni Yani, kehilangan itu datang ketika usianya masih sangat muda dan kebersamaannya dengan sang ayah hanya berlangsung lima tahun.
Lima tahun mungkin terasa singkat bagi seorang anak untuk mengenal sosok ayahnya, tetapi waktu sesingkat itu tetap meninggalkan kenangan. “Saya kenal baik Bapak saya, itu cuman 5 tahun, setelah 5 tahun, saya kelas 5 SD, sudah nggak ada lagi,” ujar Untung sembari mengenang singkatnya waktu bersama sang ayah.
Bagi Untung, yang hilang ketika itu bukan hanya sosok ayah yang ada di rumah, tetapi juga figur yang begitu menyayangi anak-anaknya. “Kita sudah kehilangan figur seorang bapak, seorang ayah yang begitu sayangnya sama kita, sama anak-anaknya,” kata Untung.
Setelah kepergian Achmad Yani, kehidupan keluarga kemudian berlanjut bersama sang ibu. Sosok ibu menjadi tempat anak-anak bertumbuh sekaligus figur yang mengambil peran besar ketika keluarga harus menjalani hari-hari tanpa seorang ayah.
Untung mengenang ibunya sebagai sosok yang luar biasa karena mampu membesarkan anak-anak setelah kehilangan pasangan hidup. “Akhirnya kita dibesarkan oleh Ibu, seorang wanita, tapi itu Ibu yang paling hebat, ya,” ujar Untung dengan bangga mengingat Ibundanya.

Di balik sosoknya yang tegas, Untung tetap menyimpan kenangan tentang ayah yang memiliki cara tersendiri dalam mendidik anak-anaknya. Ia mengingat Achmad Yani sebagai ayah yang disiplin dan keras, tetapi tidak memperlakukan anak-anaknya dengan kekerasan.
“Dia bukan galak yang suka mentak-mentak gitu, tidak. Dia bukan yang suka pukul anak-anaknya, disiplin iya,” ujar Untung mengenang cara sang ayah mendidik dirinya dan saudara-saudaranya.
Salah satu kenangan tentang ketegasan sang ayah terjadi ketika Untung pernah pulang sambil menangis setelah berkelahi. Pengalaman kecil tersebut menjadi bagian dari ingatan Untung tentang cara Achmad Yani membentuk dirinya ketika masih kanak-kanak.
“Waktu itu saya pernah berkelahi di Kompleks, ya nangis dong saya pulang, bertemu sama ibu, ‘kenapa kamu nangis?’ Berantem sama itu. Pak Yanni ada, datang, ‘kamu jangan nangis, balik lagi,’ Suruh berantem lagi, itu Bapak saya,” kenang Untung tentang salah satu pengalaman masa kecil bersama ayahnya.
Bagi Untung, sosok ayah tidak hanya hadir melalui kenangan besar, tetapi juga lewat kejadian sederhana yang melekat dalam ingatannya. Salah satu yang masih diingatnya adalah ketika tangannya pernah terjepit pintu mobil saat masih kecil.
Peristiwa tersebut semakin membekas karena reaksi Achmad Yani ketika melihat kondisi anaknya saat itu. Kejadian sederhana itu kemudian menjadi salah satu kenangan tentang sang ayah yang terus dibawa Untung hingga dewasa.
“Bapak itu sempat pingsan, lihat saya berdarah, nangis,” kenang Untung. Baginya, kejadian tersebut akhirnya bukan hanya menjadi cerita masa kecil, tetapi menjadi salah satu kenangan berharga tentang perhatian sang ayah.
Kenangan tentang Achmad Yani juga hadir melalui sosok ayah yang tegas dan disiplin dalam mendidik anak-anaknya. Namun, bagi Untung, ketegasan itu tetap menjadi bagian dari sosok ayah yang menyayangi anak-anaknya dengan caranya sendiri.
Waktu bersama Achmad Yani memang hanya lima tahun bagi Untung, tetapi kenangan itu tidak ikut hilang ketika sang ayah pergi. Dari aroma parfum hingga kejadian-kejadian kecil masa kanak-kanak, sosok ayah tetap tinggal dalam ingatan anak-anaknya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....