Di Cibun, Babad Pasir Luhur Kembali Menemukan Pewaris
- 10 Agt 2026 21:18 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Maestro Lengger Lanang Banyumas Rianto melakukan pertunjukan seni tradisional di Rumah Cibun diiringi kelompok gamelan masyarakat lokal.
- Pertunjukan melibatkan partisipasi spontan lintas generasi, dengan Pak Kedi (usia 70-an) dan Nanang (siswa kelas II SD) bergabung sebagai badut dalam pertunjukan.
- Seni tradisional Lengger Lanang Banyumas menunjukkan nilai-nilai komunal dan keterlibatan masyarakat dalam melestarikan warisan budaya lokal.
ADA yang menarik di tengah tarian Rianto sore itu.
Maestro Lengger Lanang Banyumas itu sedang menari di dalam Rumah Cibun, diiringi kelompok gamelan masyarakat setempat. Tiba-tiba Pak Kedi, lelaki berusia 70-an tahun, masuk dan ikut menari. Tak lama kemudian Nanang, siswa kelas II SD, menyusul. Keduanya mengambil peran sebagai badut.
Seorang maestro, lelaki tua, dan seorang anak kecil menari bersama.
Beberapa jam kemudian, di area terbuka Rumah Cibun, tiga anak berdiri di atas batu dan melantunkan Macapat Babad Pasir Luhur. Mereka Aditia Rifqi, 10 tahun, cucu Mbah Sikun; Dwi Nanang Setiawan, 8 tahun; dan Ismey Jumiati, 12 tahun.
Dua adegan itu seperti menggambarkan apa yang sedang terjadi di Dukuh Cibun, Desa Sunyalangu, Karanglewas, Banyumas: sebuah tradisi yang nyaris putus sedang mencari jalan menuju generasi berikutnya.
Sabtu 8 Agustus 2026, Rumah Cibun menggelar Nyore Sandekala | Twilight Dinner #3 – Kenduren Budaya Dukuh Tjiboen. Sekitar 30 orang hadir, mempertemukan masyarakat Cibun dengan seniman, akademisi, pegiat lingkungan, jurnalis, dan pelestari budaya.
Dari tembang Kinanthi, tari dan rembug budaya, jamuan pangan lokal, live painting lanskap Cibun, suling bambu Rahman Khan, hingga lantunan Babad Pasir Luhur, seluruh rangkaian acara seperti membawa satu pesan: budaya di Cibun bukan sekadar pertunjukan.
Dari Satu Pemaca yang Tersisa
Babad Pasir Luhur bukan sekadar cerita rakyat. Ia merupakan bagian dari ingatan sejarah masyarakat Banyumas—wilayah yang kini berpenduduk tak kurang dari 1,85 juta jiwa.
Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah menyebut Babad Pasir Luhur sebagai babad tertua Banyumas. Kabupaten Banyumas—yang dahulu merupakan Kadipaten Banyumas—berdiri pada 1571. Sementara salah satu naskah penting Babad Banyumas, Serat Babad Banyumas Mertadiredjan, baru ditulis sekitar 1816–1824.
Ironisnya, tradisi melantunkan Babad Pasir Luhur hampir punah. Di Cibun pernah hidup Mbah Sikun, salah seorang pemaca Babad Pasir Luhur. Ketika Nisa Roiyasa mengenal Cibun pada 2019, tradisi tersebut sudah berada di ujung tanduk.
Nisa bukan warga Cibun. Ia ibu dua anak, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman, dan berasal dari Kabupaten Tegal.
Ia tidak langsung mengajak anak-anak membaca babad. Nisa terlebih dahulu mencari jejak teksnya.
Naskah Babad Pasir Luhur di masyarakat Cibun ternyata sudah banyak dibuang. Sebagian terserak dan hilang. Yang tersisa antara lain beberapa bagian yang sudah dilatinkan serta buku tulisan tangan Mbah Sikun dalam aksara Jawa.
Jejak itu membawa Nisa menelusuri literatur, menemui Prof. Sugeng Priyadi, salah satu peneliti penting Babad Pasir, dan menelusuri sebuah penerbit di Yogyakarta yang menerbitkan teks Babad Pasir Luhur yang kemudian digunakan di Cibun.
Dalam penelitian Babad Pasir, J. Knebel, peneliti Belanda, menerbitkan Babad Pasir pada 1900 berdasarkan manuskrip Banyumas. Menurut Nisa, teks yang kini dibaca di Cibun merupakan hasil kompilasi Knebel yang kemudian direvitalisasi Prof. Sugeng Priyadi.
Dalam proses awal itu, Nisa didampingi dalang jemblung Agung Wicaksana, Iang Kie Bae yang melatih anak-anak untuk Festival Tunas Bahasa Ibu Jawa Tengah, serta dua koleganya di kampus, Dr. Chusni Hadiati dan Enni Nur Aeni, M.A.
Nisa lalu mengawal lahirnya kembali kelompok pemaca di kalangan orang dewasa. Setelah itu, pewarisan diperluas kepada anak-anak.
Tidak lama kemudian, pada 2022, Mbah Sikun meninggal. Namun pengetahuannya tidak ikut terkubur.
Pengetahuan itu diteruskan kepada generasi yang lebih muda. Pada tahun yang sama, kelompok anak-anak Cibun bahkan tampil dalam Festival Tunas Bahasa Ibu Jawa Tengah di Bandungan, Kabupaten Semarang, membawakan kisah Raden Kamandaka dan Dewi Ciptarasa melalui maca babad dan jemblungan, tradisi akapela yang dikenal dalam kebudayaan Banyumas.
Babad yang Masih Hidup
Di Cibun, Babad Pasir Luhur tidak berhenti sebagai teks yang dibaca. Sejumlah pengetahuan dan praktik kehidupan yang terkait dengan kisah di dalamnya masih dikenal dan dijalankan masyarakat hingga kini.
Hal itu diceritakan Era Prima Nugraha dari komunitas Sthanaluhur Indonesia, yang bergerak dalam kajian dan pengembangan masyarakat, ketika menjelaskan sajian dalam Twilight Dinner. Salah satu hidangannya berupa ikan hasil marak, yakni ikan yang ditangkap dengan cara membendung atau mengalihkan aliran sungai.
Praktik itu juga memiliki jejak dalam Babad Pasir Luhur. Dalam kisah tersebut diceritakan aktivitas menangkap ikan di Sungai Logawa dengan membendung alirannya. Dari aktivitas itu kemudian dikisahkan pertemuan Kamandaka dan Dewi Ciptarasa, dua tokoh utama Babad Pasir Luhur.
Di Cibun, pengetahuan itu bukan sekadar cerita. Sungai masih digunakan, cara menangkap ikan masih dikenal, dan hasilnya tersaji di meja makan.
Menu lainnya juga berasal dari pengetahuan pangan lokal Cibun, seperti Sega Tutu, Cimplung Dawegan, Ayam Burus, Jangan Pakis Kecombrang, Umbut Warak dan Tempe Ireng.
Malam itu Babad Pasir Luhur bukan hanya dibaca. Sebagian dunia yang diceritakannya masih dimakan.
Ketika Alam Terancam
Hubungan budaya dengan alam itu pula yang membuat persoalan pembangunan menjadi penting.
Rianto mengatakan Cibun memiliki “energi” dan terasa sangat “organik”. Ia pernah datang bersama Pak Tarmaji dan menari di tengah sawah.
Sekitar dua bulan sebelumnya, Rianto masih melihat sebuah pohon besar yang diperkirakan berusia ratusan tahun berdiri di Cibun. Ketika kembali lagi pada 8 Agustus, pohon itu sudah ditebang. Yang tersisa hanya potongan kayu.
Masyarakat mencatat, dalam kurang dari dua tahun sedikitnya empat pohon besar yang diperkirakan berusia ratusan tahun telah ditebang berkaitan dengan persiapan pembangunan jembatan.
Bangkit Ari Sasongko, Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya dan Lingkungan Hidup (LPPSLH), mengingatkan bahwa pembangunan yang keliru dapat menghilangkan kekayaan alam Cibun.
“Kalau salah dalam merencanakan pembangunan, semua yang indah ini akan hilang,” ujarnya.
Karena itu, aspirasi masyarakat perlu disampaikan kepada para wakil rakyat agar rencana pembangunan jembatan dan pengaspalan jalan dikaji lebih lanjut.
Menjadi Pergerakan Bersama
Rembug budaya yang dipandu Dr. Nurul Hidayat, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama dan Alumni Fakultas Teknik Unsoed, membahas bagaimana budaya masih sering ditempatkan bukan sebagai prioritas. Padahal budaya bukan hanya kesenian.
Apa yang diselamatkan Cibun adalah bagian dari warisan kebudayaan sebuah wilayah yang memiliki 27 kecamatan dengan 331 desa dan kelurahan. Jika sebuah dusun kecil mampu menyelamatkan tradisi yang nyaris punah, pemerintah daerah semestinya melihatnya sebagai aset kebudayaan bersama.
Nasirun Purwokartun dari Bale Pustaka, pelestari Babad Banyumas, datang dengan pengalaman menyelamatkan naskah. Sejak 2014 ia mengumpulkan sekitar 100 naskah babad Banyumas dan menerjemahkan lebih dari 25 di antaranya, yang kemudian dikembangkan menjadi lebih dari 100 judul Serial Babad Banyumas.
Menurut Nasirun, tradisi maca babad anak-anak Cibun istimewa karena bukan hanya langka, tetapi menunjukkan bahwa pengetahuan lama masih dapat diwariskan langsung kepada generasi muda.
Perjalanan Nisa dan para inisiator Rumah Cibun tidak selalu mulus. Ada pasang surut, kelelahan, bahkan penolakan dari sebagian warga yang belum memahami pentingnya tradisi tersebut. Dalam proses itu, Nisa harus mengawal latihan, tidak jarang berjalan kaki sendirian melewati jembatan gantung menuju Cibun pada malam hari.
“Ketika saya merasa kecapekan dan hilang semangat, datang dukungan dari teman-teman yang lain,” katanya.
Kini dukungan itu semakin luas.
Di antara mereka ada Rianto, maestro Lengger Lanang Banyumas yang telah membawa seni tradisi Banyumas ke berbagai panggung nasional dan internasional. Ada pula akademisi, seniman, pelukis, jurnalis, pegiat lingkungan, pelestari babad, mahasiswa, hingga pegiat-pegiat budaya dari berbagai daerah.
Dalam sesi diskusi, Tedjo dari Perkumpulan Hidora Banyuwangi, komunitas yang bergerak dalam pemberdayaan masyarakat melalui kebudayaan dan lingkungan hidup, mengingatkan:
“Yang paling penting, habis ini kita mau melakukan apa? Apakah hanya puas di diskusi, atau mau berbuat sesuatu?”
Pertanyaan itu dijawab sebelum peserta pulang. Mereka menandatangani Prasasti Cibun, komitmen untuk bergerak bersama melestarikan dan mengembangkan budaya Cibun.
Malam itu, anak-anak kembali membaca Babad.
Di sebuah dusun kecil, suara leluhur yang nyaris hilang ternyata belum padam.
Namun masa depannya bukan hanya bergantung pada apakah anak-anak masih mau membaca. Ia juga bergantung pada apakah sungai tetap mengalir, pohon-pohon tua tetap berdiri, lanskap tetap terjaga, dan negara mau memahami bahwa kebudayaan bukan ornamen pembangunan.
Ia adalah akar yang membuat sebuah masyarakat tahu dari mana mereka berasal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....