Kisah Sri Juniarsih: Dari Ibu Rumah Tangga Jadi Bupati Berau

  • 05 Agt 2026 04:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Alasan Menjadi Bupati: Sri Juniarsih maju sebagai Bupati Berau untuk melanjutkan perjuangan sang suami yang wafat akibat COVID-19, meski awalnya ia hanyalah seorang ibu rumah tangga tanpa rencana masuk panggung politik.
  • Gaya Kepemimpinan Keibuan: Berlatar belakang Magister Pendidikan, ia memimpin dengan pendekatan ramah, merangkul lawan politik, serta menjadikan kritik publik sebagai sarana evaluasi dan introspeksi diri untuk bekerja lebih baik.
  • Dukungan Keluarga & Fokus Kerja: Anak-anak menjadi support system utama yang mengingatkannya akan amanah rakyat, mendorongnya fokus membangun Berau dari pariwisata hingga perdagangan karbon tanpa melanggar regulasi.

RRI.CO.ID, Jakarta - Dinding ruang kerja Bupati Berau kini menjadi saksi bisu perjalanan batin seorang Sri Juniarsih Mas. Di balik meja kerja bertumpuk dokumen negara itu, tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa seorang wanita yang menghabiskan mayoritas waktunya mengurus dapur, anak-anak, dan kehangatan rumah tangga, kini memegang kemudi arah pembangunan satu kabupaten di Kalimantan Timur.

Takdirnya berubah secara drastis pada rentang 2020—2021, saat badai pandemi COVID-19 melanda dunia. Kehilangan pendamping hidup—almarhum Muharram, Bupati Berau terdahulu—bukan hanya menghantam jiwanya sebagai seorang istri, tetapi juga meninggalkan ruang hampa bagi perjuangan pembangunan daerah yang belum usai.

"Pada waktu itu yang menjadikan saya seperti ini adalah almarhum suami saya. Karena COVID-lah almarhum suami saya pergi, dan karena COVID-lah saya harus menggantikan perjuangan suami saya. Saya hanya menjalani takdir dan berusaha sebaik-baiknya untuk menjalankan tugas ini," kenang Sri Juniarsih dengan nada suara teratur, menahan kenangan pahit yang pernah meremukkan hatinya.

Keberanian dari Puing Duka

Mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan di tengah duka cita bukanlah keputusan yang mudah. Sebelum menginjakkan kaki di panggung politik, Sri Juniarsih tidak pernah bercita-cita menjadi pejabat publik.

Impian sederhananya sejak kecil hanyalah menjadi seorang pengusaha UMKM lokal. Membantu perekonomian orang tua, dan mendidik anak-anaknya hingga dewasa.

Namun, panggilan nurani dan dorongan masyarakat yang menginginkan kesinambungan visi sang suami mengetuk pintu hatinya. Latar belakang pendidikannya sebagai lulusan Magister Pendidikan (M.Pd.) menjadi modal emosional yang tak ternilai.

Ia memadukan ketegasan administratif dengan pendekatan keibuan yang sarat empati.Sebagai seorang wanita dan ibu yang tiba-tiba terjun ke dalam rimba politik, hantaman kritik, prasangka, hingga tuduhan miring dari pihak berseberangan kerap menghampirinya.

Namun, jiwa keilmuannya sebagai seorang pendidik mengajarkannya untuk tidak merespons serangan dengan kemarahan.

"Kalau saya semakin diserang, saya justru semakin introspeksi diri. Saya harus introspeksi, kalau menurut mereka saya salah, di mana salahnya kita perbaiki. Mereka saya anggap masukan buat saya. Terima kasih banyak, berarti Anda sudah mengingatkan saya untuk bekerja lebih baik," tuturnya dengan senyum tenang.

Berdamai dengan Diri Sendiri

Menghadapi lawan politik atau pihak yang pernah melontarkan kecaman keras tentu membutuhkan ketahanan mental luar biasa. Sri Juniarsih mengakui, secara manusiawi, berdiri dan bersalaman dengan orang yang pernah menyudutkannya membutuhkan energi batin yang amat besar.

"Berhadapan dengan orang yang pernah menyerang kita itu bukan sesuatu yang nyaman sebenarnya," ungkapnya jujur. Namun, bagi Sri Juniarsih, kunci utama kepemimpinannya adalah kemampuan untuk 'berdamai dengan diri sendiri' demi kepentingan masyarakat yang jauh lebih besar. Ia menganggap dinamika politik tak ubahnya seperti seorang guru yang sedang berhadapan dengan murid-muridnya yang beraneka ragam karakter.

Anak-anak sebagai Barometer Nurani

Di balik ketegarannya memimpin ribuan ASN dan ratusan ribu warga Berau, ada support system paling jujur yang selalu menjaganya agar tetap berpijak di bumi: anak-anaknya sendiri.

Saat rasa lelah fisik dan mental menumpuk di penghujung hari, dan keinginan untuk beristirahat begitu kuat, anak-anaknyalah yang bertindak sebagai kompas moral. Ketika warga datang menemuinya ke rumah dinas hingga larut malam, sang anak akan membisikkan dorongan yang membakar kembali semangatnya.

"Anak-anak saya seperti mendoktrin saya. Mereka bilang, 'Ayo Mi, bangun Mi, enggak boleh gitu. Kasihan masyarakat sudah jauh-jauh datang, Umi pelayan rakyat, ini amanah buat Umi.' Mereka yang mengingatkan saya kalau saya lagi capek," ceritanya sambil tersenyum bangga.

Menuntaskan Janji hingga Garis Akhir

Kini, dari seorang ibu rumah tangga yang akrab dengan urusan dapur dan mengajar, Sri Juniarsih membuktikan kebolehannya. Mulai dari menata pariwisata berkelas dunia di Pulau Derawan dan Maratua, memacu ekspor kakao lokal, hingga memperjuangkan perdagangan karbon (carbon trade) hutan Berau ke tingkat internasional melalui pendampingan Bank Dunia.

Bagi Sri Juniarsih, setiap kebijakan yang ditandatanganinya bukan sekadar angka APBD atau laporan administratif, melainkan wujud cinta dan janji suci—baik kepada rakyat Berau, anak-anaknya, maupun kepada almarhum suami yang telah mendahuluinya.

Ia terus melangkah menembus batas-batas kemampuannya, membuktikan bahwa ketulusan kasih seorang ibu mampu menjadi fondasi yang kokoh dalam memimpin sebuah daerah.

Tonton Selengkapnya:

Simak kisah inspiratif dan wawancara eksklusif Bupati Berau Sri Juniarsih Mas selengkapnya di kanal YouTube RRI PRO3 melalui tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=k14DbE4xJq8

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....