'Legenda Bukit Bejungor' Antar Desri Raih Juara Nasional Gala Cerita Rakyat 2026

  • 26 Jun 2026 00:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Desri Susilawani meraih Juara 1 Nasional Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026 melalui karya Legenda Bukit Bejungor dan mengungguli lebih dari 2.000 peserta.
  • Cerita yang diangkat mengandung pesan tentang bahaya perundungan dan dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat berbagai usia.
  • Selain aktif sebagai Ketua Kampung Dongeng Bangka Belitung, Desri juga konsisten mengembangkan literasi serta melestarikan cerita rakyat daerah melalui berbagai kegiatan budaya.

RRI.CO.ID, Jakarta - Desri Susilawani mengaku tidak menyangka bahwa dirinya dinobatkan menjadi juara satu nasional dalam ajang perlombaan Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026. Pendongeng asal Kepulauan Bangka Belitung itu tampak tenang—duduk menunggu giliran namanya disebutkan sebagai pemenang dalam ajang bergengsi tersebut.

Ia meraih penghargaan tersebut melalui karya tutur berjudul "Legenda Bukit Bejungor" dan berhasil mengungguli lebih dari 2.000 peserta dari berbagai daerah. Prestasi tersebut membuktikan tradisi lisan dan cerita rakyat Bangka Belitung memiliki daya saing serta relevansi tingkat nasional.

"Acara ini terasa sangat spesial dan istimewa karena mempertemukan saya dengan banyak tokoh hebat yang menginspirasi. Pengalaman tersebut menjadi pemantik untuk terus berkarya dan semakin bersemangat mengabdikan diri bagi kebudayaan di Kepualauan Bangka Belitung," katanya saat ditemui RRI usai acara Puncak Apresiasi Karya Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026, Gedung Kemendikdasmen, Jakarta Selatan, Rabu, 24 Juni 2026.

Di balik keberhasilannya, ia memilih mengangkat cerita yang belum banyak dikenal masyarakat luas selama ini. Ia menemukan 'Legenda Bukit Bejungor' sebagai kisah yang menyimpan pesan penting tentang dampak perundungan dalam kehidupan.

Menurutnya, tema perundungan dipilih karena masih menjadi persoalan yang sering ditemukan pada berbagai lingkungan masyarakat. Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di kalangan anak-anak, tetapi juga dapat melibatkan orang dewasa dalam keseharian.

Ia menilai bentuk perundungan tidak selalu berupa tindakan fisik yang terlihat secara langsung oleh masyarakat sekitar. Perundungan verbal juga dapat meninggalkan dampak panjang yang memengaruhi kondisi psikologis seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Ia merasa cerita rakyat dapat menjadi sarana edukasi yang mudah diterima berbagai kelompok usia. Pesan moral yang disampaikan melalui cerita dinilai lebih dekat dengan pengalaman dan kehidupan masyarakat.

"Saya merasa cerita ini harus disampaikan karena perundungan masih menjadi masalah yang sangat umum saat ini. Tidak hanya terjadi pada anak-anak, orang dewasa juga dapat melakukan perundungan secara fisik maupun verbal," ucapnya.

Pendongeng asal Kep. Bangka Belitung, Desri Susilawani saat menerima penghargaan Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026 dari Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, Gedung Kemendikdasmen, Jakarta Selatan, Rabu, 24 Juni 2026. (Foto: Dokumentasi/Kementerian Kebudayaan)

Ia menjelaskan dampak perundungan sering kali berlangsung dalam jangka panjang dan memengaruhi kehidupan para korbannya. Kondisi tersebut mendorongnya menjadikan cerita rakyat sebagai media untuk menyampaikan pesan pencegahan kepada masyarakat.

Ia menyampaikan, bahwa karya yang membawanya menjadi juara bukanlah cerita yang sepenuhnya dibuat dari awal secara mandiri. Ia menemukan kisah tersebut dari masyarakat setempat kemudian menuliskannya kembali menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami.

Menurutnya, proses penulisan ulang dilakukan dengan menyesuaikan penyampaian cerita agar lebih ramah bagi berbagai kalangan pembaca. Beberapa bagian yang mengandung unsur kekerasan diperhalus tanpa menghilangkan pesan utama yang terkandung dalam cerita.

"Sebetulnya saya tidak membuat sendiri cerita ini karena kisahnya sudah ditemukan dari masyarakat setempat sebelumnya. Saya kemudian menulis ulang menggunakan bahasa yang lebih mudah diterima oleh pembaca dari berbagai kalangan," ucapnya.

Meski harus menyesuaikan bahasa dan penyampaian cerita, ia mengaku tidak mengalami kendala selama proses penulisan ulang. Latar belakangnya sebagai penulis membantunya menyusun kembali cerita rakyat tersebut dengan lebih mudah.

Ia mengatakan, pengalaman menulis yang dimilikinya selama ini menjadi bekal penting dalam mengolah cerita tradisional. Kemampuan tersebut memudahkannya menjaga keseimbangan antara pesan asli cerita dan kebutuhan pembaca masa kini.

"Karena basic saya juga seorang penulis dan seorang penulis. Jadi saya pribadi tidak merasa kesulitan untuk hal itu." ucapnya.

Pengalaman mengikuti Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026 meninggalkan kesan mendalam bagi Desri Susilawani. Ia berharap ajang serupa dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan pada tahun-tahun mendatang.

Menurutnya, kompetisi tersebut tidak hanya menjadi ruang apresiasi bagi pegiat budaya, tetapi juga wadah belajar. Melalui kegiatan itu, para peserta dapat saling bertukar pengalaman serta memperluas jejaring dalam bidang kebudayaan.

"Tentu berharap sekali event-event seperti ini, ajang-ajang seperti ini tetap ada. Tetap dilaksanakan dan semoga kita tetap bisa ikut, tetap berpartisipasi karena ini rasanya sangat seru sekali," ucapnya.

Sebagai pegiat literasi sekaligus Ketua Kampung Dongeng Bangka Belitung, Desri tidak hanya aktif bercerita di berbagai kesempatan. Ia juga konsisten menghidupkan kembali cerita rakyat daerah melalui kegiatan literasi, pendampingan anak, dan pelestarian budaya.

Pendongeng Desri Susilawani saat membawakan cerita 'Tradisi Nanggung Dulang'. (Foto: Youtube/Kampung Dongeng)

Di tangan Desri, kisah-kisah lama yang nyaris terlupakan kembali menemukan ruang untuk didengar generasi masa kini. Gaya bertuturnya yang hangat dan dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat pesan budaya lebih mudah diterima anak-anak.

Kemampuannya merangkai cerita dengan pendekatan yang humanis menjadikan setiap dongeng terasa relevan dengan berbagai persoalan kekinian. Melalui cara itu, nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur dapat dipahami tanpa kehilangan makna aslinya.

Baginya, mendongeng bukan sekadar menyampaikan cerita kepada pendengar dalam sebuah pertunjukan. Mendongeng merupakan ikhtiar merawat ingatan budaya agar tetap hidup dan bertumbuh di tengah perkembangan zaman.

Komitmen itulah yang akhirnya mengantarkannya meraih penghargaan tertinggi pada Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa cerita rakyat daerah masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Dalam kesehariannya menjadi pendongeng, Desri juga diketahui aktif dalam kegiatan literasi. Kedekatan Desri dengan dunia literasi juga terjalin melalui Program Ruang Sastra di PRO 1 RRI Sungailiat.

Melalui program tersebut, ia berbagi kisah inspiratif sekaligus menjadi salah satu inisiator buku kumpulan cerita berjudul Yo Kite Bekisah. "Saya bukan penyiar, tapi sering di undang ke RRI Sungailiat sebagai narasumber," ujarnya.

Kemenangan pada Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026 juga melengkapi sejumlah prestasi nasional yang pernah diraih Desri. Pada 2020, ia meraih Juara 2 Nasional Lomba Penulisan Novel Dewasa melalui karya "Perempuan Kacung".

Pada tahun yang sama, ia juga memperoleh penghargaan Video Terbaik kategori "Tradisi Nganggung Dulang". Penghargaan tersebut diperoleh dalam Festival Kampung Dongeng yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Tidak hanya itu, ia tercatat sebagai pemenang Sayembara Gerakan Literasi Nasional. Ajang ini diselenggarakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pada 2024 dan 2025.

Sementara itu, Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Restu Gunawan, mengapresiasi capaian yang diraih Desri dalam kompetisi tersebut. Menurutnya, prestasi tersebut menunjukkan potensi besar pegiat budaya daerah dalam mengangkat cerita rakyat ke tingkat nasional.

"Kami mengapresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh peserta, khususnya Ibu Desri Susilawani sebagai Juara 1. Ketika seorang pendongeng dari daerah mampu memukau 2.000 peserta lain, itu artinya akar budaya kita masih hidup dan relevan," ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....