Sekolah Rakyat dan Nama-nama yang Tidak Masuk Berita

  • 23 Jun 2026 17:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sekolah Rakyat mempertemukan anak-anak dengan latar belakang kehidupan yang berbeda-beda
  • Naila yang sempat viral kini melanjutkan pendidikan di SRMP 23 Makassar
  • Nurkholifahmi kembali bersekolah setelah dua tahun putus sekolah karena keterbatasan ekonomi
  • Anak-anak tidak hanya belajar akademik tetapi juga disiplin, kemandirian, dan kehidupan berasrama
  • Al-Qadri dan Zaki sempat membantu orang tua bekerja sebelum kembali mengenyam pendidikan

RRI.CO.ID, Jakarta - Sekolah Rakyat mempertemukan anak-anak dengan cerita yang berbeda-beda. Ada yang pernah viral, putus sekolah, membantu orang tua bekerja, bahkan belum pernah bersekolah sama sekali.

Nama mereka jarang muncul dalam pemberitaan. Namun melalui Sekolah Rakyat, cerita-cerita itu mulai menemukan ruang untuk didengar.

Nama Naila (12) sempat memenuhi linimasa media sosial. Namun seperti banyak kisah viral lainnya, perhatian itu perlahan menghilang ditelan unggahan baru.

Bagi Naila, sorotan singkat tersebut menjadi lebih dari sekadar trending. Kesempatan itu membawanya kembali ke bangku belajar.

Popularitas yang singkat membuka jalan menuju tempat yang lebih penting. Sekolah Rakyat menjadi ruang untuk menata masa depannya.

Nurkholifahmi (12) (tengah), Naila (12) (paling kanan) dan Ibunda Naila, Nurlia (paling kiri) saat ditemui di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis 23 Oktober 2025. (Foto: RRI/Alfreds Tuter)

Kini ia menjadi siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Sentra Wirajaya Makassar. Di sana, ia tinggal bersama anak-anak yang memiliki cerita hampir serupa.

"Enak tinggal di sini, seru dan nyaman, banyak teman-teman juga," katanya saat dijumpai RRI di di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis 23 Oktober 2025. Hari-harinya kini diisi dengan belajar dan berbagai aktivitas asrama.

Popularitas yang sempat datang tidak membuatnya lengah. Ia justru mulai fokus mengejar cita-cita.

"Sekolah di sini bisa menunjukkan cita-citaku," ucapnya. Naila ingin menjadi guru atau polisi.

Namun tidak semua anak sempat terlihat seperti Naila. Sebagian lainnya tumbuh dalam sunyi tanpa pernah menjadi perhatian banyak orang.

Dua Tahun yang Hilang

Salah satunya adalah Nurkholifahmi (12). Ia pernah berhenti sekolah selama dua tahun karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Ayahnya bekerja sebagai buruh harian. Sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga.

Dua tahun Nur menunggu di rumah tanpa kegiatan sekolah. Ia berharap suatu hari bisa kembali belajar seperti teman-teman seusianya.

"Kurang biaya," katanya saat menjelaskan alasan berhenti sekolah disamping Naila. Kalimat singkat itu mengakhiri masa sekolahnya selama dua tahun.

Nurkholifahmi (12), salah seorang siswi penerima manfaat Sekolah Rakyat saat ditemui di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis 23 Oktober 2025. (Foto: RRI/Alfreds Tuter)

Kesempatan itu datang ketika ia diterima di SRMP 23. Kehidupan sehari-harinya pun berubah drastis.

Kini Nur terbiasa bangun subuh setiap hari. Setelah itu ia mengikuti salat, senam pagi, dan persiapan masuk kelas.

"Senang dan lebih semangat lagi belajarnya karena sempat putus sekolah," ucapnya. Bahasa Inggris dan Matematika menjadi pelajaran favoritnya.

Nur juga aktif mengikuti kegiatan seni budaya dan olahraga. Ia mengaku kembali merasakan indahnya bersekolah.

Cerita seperti Nur tidak selalu terlihat dari luar. Perubahannya justru tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil setiap hari.

Belajar Menata Hidup

Para siswa dan siswi tengah mengikuti olahraga futsal di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis 23 Oktober 2025. (Foto: RRI/Alfreds Tuter)

Di SRMP 23, pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Anak-anak juga belajar menjalani kehidupan bersama di asrama.

Salah satu wali asrama, Resky Anggrianti menjadi salah satu yang mendampingi proses tersebut. Ia menyaksikan perubahan anak-anak dari jarak yang sangat dekat.

Mereka diajarkan gotong royong dan menjaga kebersihan. Anak-anak juga belajar merapikan kamar dan membantu teman.

"Sistem tiket kamar membantu anak-anak belajar disiplin," kata Resky saat dijumpai RRI di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis 23 Oktober 2025. Anak yang rajin dapat menjadi contoh bagi teman-temannya.

Pendampingan tidak hanya dilakukan untuk urusan kedisiplinan. Banyak anak juga membutuhkan dukungan emosional.

Ada yang rindu orang tua dan menangis diam-diam. Ada pula yang masih berusaha beradaptasi dengan lingkungan baru.

"Kami fasilitasi komunikasi dengan keluarga," ucapnya. Anak-anak juga mengikuti refleksi malam untuk berbagi perasaan.

Lambat laun mereka mulai merasa nyaman tinggal di asrama. Sebagian bahkan menganggap sekolah sebagai rumah kedua.

"Ada yang bilang, Ibu tidak usah datang tiap minggu," kata Resky. Mereka mengaku sudah betah tinggal di sekolah.

Guru BK SRMP 23, Yunike Megawati saat ditemui di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis 23 Oktober 2025. (Foto: RRI/Alfreds Tuter)

Perubahan serupa juga dilihat Guru BK SRMP 23, Yunike Megawati. Menurutnya, perkembangan anak sering muncul dari hal-hal sederhana.

"Awal-awal sulit karena latar belakang anak-anak berbeda-beda," katanya. Kini mereka mulai berani tampil dan menyampaikan pendapat.

Ada yang mulai menyiapkan tas sekolah sendiri. Ada pula yang mulai terbiasa melipat pakaian tanpa diminta.

Hal-hal kecil itu menjadi penanda perubahan yang besar. Anak-anak perlahan belajar bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

"Anak-anak datang belajar tanpa fasilitas," ujarnya. Namun mereka memiliki kemauan kuat untuk berubah.

Sebagian perubahan memang tidak terlihat dalam angka. Namun perubahan itu nyata dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Terlalu Cepat Dewasa

Muhammad Al-Qadri dan Zaki saat ditemui di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis 23 Oktober 2025. (Foto: RRI/Alfreds Tuter)

Perjalanan menuju bangku sekolah juga tidak selalu sama. Sebagian anak lebih dulu mengenal dunia kerja dibanding ruang kelas.

Muhammad Al-Qadri dan Zaki menjadi contohnya. Keduanya sempat membantu orang tua mencari nafkah.

Al-Qadri berjualan gulali keliling kampung. Sedangkan Zaki membantu ibunya berjualan nasi kuning.

Masa kecil mereka tidak sepenuhnya dihabiskan di sekolah. Sebagian waktu digunakan untuk membantu keluarga bertahan hidup.

Kini keduanya kembali belajar di SRMP 23. Hari-harinya diisi dengan pelajaran, olahraga, dan kegiatan seni.

"Senang bisa belajar dan bertemu teman baru," kata Al-Qadri. Keduanya juga mulai terbiasa bangun lebih pagi.

Mereka belajar mengatur waktu dengan lebih baik. Disiplin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

Sekolah memberi mereka kesempatan yang sempat tertunda. Kesempatan untuk menikmati masa belajar seperti anak-anak lainnya.

Ruang untuk Bermimpi

Faisal (kiri) dan Fatir (kanan), siswa kelas 10 Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 9 Jakarta Timur, melakukan latihan sparing ringan di halaman sekolah, Jumat 12 Desember 2025. (Foto: RRI/Alfreds Tuter)

Di Jakarta Timur, kesempatan itu hadir dalam bentuk berbeda. Dua remaja menemukan ruang baru melalui olahraga tinju.

Faisal dan Fatir merupakan siswa SRMA 9 Jakarta Timur. Keduanya baru mengenal olahraga tersebut beberapa waktu lalu.

Di halaman sekolah, mereka berlatih dengan penuh semangat. Sarung tangan yang dikenakan masih terlihat kebesaran.

Sesekali terdengar tawa di antara latihan mereka. Namun wajah keduanya berubah serius ketika mulai sparing.

Faisal mengidolakan Muhammad Ali. Sedangkan Fatir mengagumi Mike Tyson.

Faisal (kiri) dan Fatir (kanan), siswa kelas 10 Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 9 Jakarta Timur, berpose usai latihan tinju di halaman sekolah, Jumat 12 Desember 2025. (Foto: RRI/Alfreds Tuter)

Mereka berlatih tiga kali dalam seminggu. Perjalanan menuju lokasi latihan memakan waktu hampir satu jam.

"Pertama kali latihan saya takut gegar otak," kata Faisal di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 9 Jakarta Timur, Jumat 12 Desember 2025. Kini ketakutan itu perlahan berubah menjadi keberanian.

Fatir merasakan perubahan serupa. Menurutnya, tinju membuat fisik lebih kuat dan disiplin meningkat.

Bagi Faisal dan Fatir, tinju bukan sekadar olahraga. Latihan menjadi ruang untuk membangun kepercayaan diri.

Kesempatan untuk bermimpi kadang datang dalam bentuk sederhana. Seperti sarung tangan tinju dan keberanian untuk mencoba.

Anak yang Tidak Pernah Sekolah

Calon siswa Sekolah Rakyat asal Jakarta Timur, Muhammad Al Jabar (kedua dari kanan), tampak menangis dalam pelukan Seskab Teddy Indra Wijaya (kanan) saat menyampaikan keinginannya untuk kembali bersekolah, Rabu 22 April 2026 (Foto: Biro Humas Kemensos)

Di antara berbagai cerita tersebut, ada kisah yang menggambarkan siapa sebenarnya anak-anak yang dijangkau Sekolah Rakyat.

Namanya Muhammad Al Jabar. Ia berusia 15 tahun dan berasal dari Jakarta Timur.

Ayahnya telah meninggal dunia. Sementara ibunya bekerja sebagai buruh lepas untuk menghidupi enam anak.

Sehari-hari Al Jabar mengamen di lampu merah kawasan Klender. Ia melakukannya bersama sang adik untuk membantu keluarga.

Berbeda dengan anak-anak lain, Al Jabar belum pernah bersekolah. Bangku pendidikan hanya menjadi sesuatu yang ia lihat dari kejauhan.

Kesempatan itu datang ketika ia dijangkau dalam proses penerimaan siswa Sekolah Rakyat. Untuk pertama kalinya, ia memiliki peluang untuk belajar.

Saat bertemu Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Al Jabar tak kuasa menahan tangis. Ia menyampaikan keinginannya untuk bersekolah.

"Perkenalkan nama saya Aljabar, dipanggil Al. Saya asli Jakarta Timur," kata Aljabar sembari menangis, Rabu 22 April 2026.

Ia juga menyampaikan cita-citanya menjadi polisi. Mimpi yang selama ini hanya tersimpan dalam benaknya.

Al Jabar bukan satu-satunya anak yang ditemukan melalui proses tersebut. Namun kisahnya memperlihatkan bahwa masih ada anak yang belum tersentuh pendidikan.

Ketika Cerita-Cerita Itu Bertemu

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul disambut antusias para siswa saat menghadiri Open House di SRMP 2 Medan, Senin 15 Juni 2026 (Foto: Kemensos)

Kisah Naila, Nur, Al-Qadri, Zaki, Faisal, Fatir, dan Al Jabar bukanlah cerita yang berdiri sendiri. Mereka menjadi bagian dari perjalanan Sekolah Rakyat yang kini terus berkembang.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan pelaksanaan Sekolah Rakyat menunjukkan hasil positif. Perubahan terlihat setelah hampir 11 bulan pembelajaran berjalan.

Menurut pria yang akrab disapa Gus Ipul itu, perubahan paling nyata terjadi pada kesehatan dan karakter siswa. Mereka juga menunjukkan perkembangan akademik yang baik.

"Secara fisik siswa-siswa Sekolah Rakyat sekarang jauh lebih bugar," kata Saifullah Yusuf di Jakarta, Rabu 17 Juni 2026. Mereka juga lebih sehat, disiplin, dan percaya diri.

Sebagian siswa mulai menunjukkan prestasi di berbagai bidang. Mereka berkembang dalam sains, bahasa, olahraga, sosial, dan seni.

Perubahan itu turut dirasakan para orang tua. Banyak yang mengaku melihat perkembangan perilaku anak-anak mereka.

Menurut Gus Ipul, siswa menjadi lebih mandiri dan lebih tenang. Mereka juga lebih rajin membantu keluarga ketika berada di rumah.

Hingga awal Juni 2026, lebih dari 42 ribu calon siswa telah dijangkau. Jumlah itu melampaui kapasitas awal yang disiapkan pemerintah.

Pemerintah juga tengah menyiapkan 93 Sekolah Rakyat permanen. Sebanyak 69 sekolah ditargetkan rampung sepenuhnya pada tahun ajaran 2026/2027.

Sisanya akan beroperasi sebagai sekolah fungsional. Fasilitas utama pembelajaran dan asrama telah disiapkan secara bertahap.

Di balik angka-angka tersebut terdapat ribuan cerita yang serupa. Sebagian mungkin tidak pernah masuk berita atau menjadi perbincangan.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menghadiri Open House Sekolah Rakyat untuk Orang Tua dan Calon Siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 3 Pekanbaru dan Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 31 Pekanbaru di Sentra Abiseka, Jalan Kayangan, Rumbai, Pekanbaru, Riau, Minggu 14 Juni 2026 (Foto: Kemensos)

Ada Naila yang menemukan arah setelah sorotan media sosial mereda. Ada Nur yang menunggu dua tahun untuk kembali belajar.

Ada Al-Qadri dan Zaki yang kembali menikmati masa sekolah. Ada Faisal dan Fatir yang mulai berani bermimpi melalui olahraga.

Ada pula Al Jabar yang akhirnya memiliki kesempatan memasuki ruang kelas. Sesuatu yang selama ini hanya bisa ia bayangkan.

Mereka datang dari cerita yang berbeda-beda. Namun mereka menemukan kesempatan yang sama melalui Sekolah Rakyat.

Kesempatan untuk belajar dan tumbuh. Kesempatan untuk melanjutkan mimpi yang sempat tertinggal.

Barangkali itulah mengapa nama-nama tersebut jarang masuk berita. Mereka tidak sedang menciptakan sensasi, melainkan sedang berjuang menjalani kehidupan.

Namun di Sekolah Rakyat, cerita mereka akhirnya memiliki ruang. Ruang untuk didengar, dipahami, dan dilanjutkan menuju masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....