Ika Natassa, Bicara Kesejahteraan Penulis dan Tantangan Literasi di Indonesia

  • 06 Jun 2026 15:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ika Natassa, lahir di Medan, 25 Desember 1977, sudah memulai kebiasaan menulis sejak usia belia
  • Pemerintah berikan insentif pajak bagi penulis buku berupa Pajak Penghasilan (PPh) final atas royalti sebesar 1,5 persen
  • profesi penulis ibarat 'anchor' (jangkar) dalam ekosistem ekonomi kreatif. Mulai dari penerbitan buku hingga industri film

RRI.CO.ID, Jakarta - Nama Ika Natassa bukan nama yang asing di dunia penulisan. Sosoknya dikenal sebagai salah satu penulis papan atas Indonesia dengan karya-karya novelnya yang populer.

Beberapa novelnya, bahkan sudah diangkat ke layar lebar, yakni Critical Eleven (2017), Twivortiare (2019). Kemudian Antologi Rasa (2019), The Architecture of Love (2024) dan Heartbreak Motel (2024).

Akhir Mei kemarin, Ika Natassa juga baru saja menggelar konferensi pers bersama rumah produksi Avarta Media. Rumah produksi yang didirikan artis Acha Septriasa itu akan mengadaptasi novel karya Ika berjudul Satine ke layar lebar.

Novel-novel karya Ika Natassa menarik diangkat ke layar lebar , bisa jadi karena kisah-kisahnya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kisah tentang hubungan antar manusia dengan segala dinamikanya, mulai dari cinta, persahabatan, kehilangan atau kesepian.

Tak heran kalau novel-novel yang ditulis Ika banyak yang menjadi novel bestseller, sejumlah penghargaan pun dianugerahkan padanya. Nama Ika Natassa juga pernah masuk sebagai nominasi "Penulis Muda Berbakat" penghargaan Sastra Khatulistiwa di tahun 2008.

Sebagai penulis, Ika punya perhatian besar terhadap dunia kepenulisan, buku dan literasi di Indonesia. Sejak tahun 2017, Ika bersama penulis Indonesia lainnya juga memperjuangan nasib penulis yang dibebankan pajak royalti yang tinggi.

Perjuangan itu membuahkan hasil, setelah pemerintah mengumumkan insentif pajak bagi para penulis. Khususnya penulis buku yang bukunya memiliki International Standard Book Number (ISBN).

Sekarang penulis hanya perlu membayar Pajak Penghasilan (PPh) final atas royalti sebesar 1,5 persen. Sebelumnya, para penulis dikenakan pajak royalti yang sifatnya progresif sebesar 6 persen.

Penulis adalah Penggerak Ekosistem Ekonomi Kreatif

Ika Natassa (kanan) bersama penulis Dewi Lestari (kiri) dan Ahmad Fuadi (tengah) (Foto: IG Ika Natassa)

Ika Natassa, lahir di Medan, 25 Desember 1977, sudah memulai kebiasaan menulis sejak usia belia. Penulis yang berlatar belakang sarjana ekonomi dari Universitas Sumatera Utara ini, mulai menulis novel tahun 2006.

"A Very Yuppy Wedding" adalah novel pertamanya yang terbit tahun 2007. Perjalanan panjang Ika sebagai penulis, membuatnya paham bagaimana beban pajak yang harus ditanggung penulis.

"Jujur, dulu aku tuh kurang bayar pajakku setiap tahun bisa puluhan juta, teman-teman penulis lain juga mengalami hal yang sama. Kemudian kita mikir, ini fair gak sih buat penulis yang juga berperan dalam menggerakan ekosistem ekonomi kreatif," kata Ika saat dimintai tanggapannya terkait kebijakan pajak baru untuk penulis.

Sejak itulah, Ika bersama penulis Indonesia lainnya seperti Dewi Lestari dan Ahmad Fuadi, mulai menyuarakan 'keadilan' untuk penulis. Secara intens, Ika dan teman-teman penulis melakukan pendekatan, khususnya ke Kementerian Ekonomi Kreatif.

Pada pemerintah, Ika dan kawan-kawan menjelaskan beratnya beban pajak royalti 6 persen bagi penulis. Para penulis membutuhkan insentif pajak yang bisa mendorong para penulis untuk lebih produktif.

Ika mengatakan, profesi penulis ibarat 'anchor' (jangkar) dalam ekosistem ekonomi kreatif. Mulai dari penerbitan buku hingga industri film.

"Kita bilang, enggak akan ada penerbit kalau enggak ada penulis, enggak akan ada percetakan kalau enggak ada penulis. Enggak akan ada toko buku kalau enggak ada penulis, bahkan mungkin enggak akan ada film kalau enggak ada penulis," ujar Ika.

Karenanya Ika mengaku sangat bersyukur, pemerintah akhirnya membuat kebijakan pajak yang berpihak pada penulis. Berupa PPh final sebesar 1,5 persen yang cukup dibayarkan sekali oleh penulis saat menerbitkan buku.

"Tentu kami sangat menyambut dengan suka cita, dengan bahagia. Insyaallah ini akan menjadi pemicu kami untuk semakin produktif, berkarya untuk Indonesia," kata Ika dengan nada suara gembira.

Menurutnya, insentif pajak ini bukan hanya memberikan dampak positif bagi mereka yang sudah lama berkarir sebagai penulis. Tapi juga dapat mendorong semakin banyak orang untuk memilih profesi sebagai penulis.

"Selama ini kan profesi penulis bisa dibilang belum seksi ya, belum bisa memberikan jaminan secara ekonomi," ucap Ika. Padahal, lanjutnya, menulis buku itu menyenangkan karena membiasakan diri dalam menuangkan gagasan ke dalam tulisan.

"Tulisan yang tidak hanya memperkaya pengetahuan kita sendiri, tapi juga mentransfer pengetahuan ke masyarakat. Karena tidak akan ada peradaban tanpa adanya tulisan (buku)," ujar Ika mengungkapkan filosofi menulis versinya.

Bagi Ika yang juga berprofesi sebagai bankir ini, PPh final 1,5 persen bukan akhir dari perjuangan para penulis. Karena masih ada tantangan lain bagi para penulis, yaitu bagaimana meningkatkan budaya membaca buku di kalangan masyarakat.

Ika dan Keprihatinannya

Ika Natassa mengatakan masih banyak tantangan yang dihadapi penulis buku di Indonesia (Foto: IG Ika Natassa)

Dalam percakapan via telepon, Ika mengungkapkan keprihatinan tentang minimnya budaya membaca buku di Indonesia. Rasio antara jumlah penduduk Indonesia dengan buku yang dibaca angkanya masih sangat kecil.

Menurutnya, dari sekitar 278 juta penduduk Indonesia, buku yang terjual baru sekitar 16 juta eksemplar. Jadi rasio antara penjualan buku ke jumlah populasi baru sekitar 5,8 persen.

Ika membandingkannya dengan negara lain seperti Inggris, yang jumlah populasinya hanya 67 juta. Tapi buku yang terjual sekitar 669 juta eksemplar, jadi satu orang membaca sekitar 10 buku.

Di kawasan Asia, khususnya Korea Selatan, tambah Ika, jumlah penduduknya sekitar 51 juta jiwa. Jumlah buku yang terjual mencapai 200 juta eksemplar, atau satu orang membaca sekitar 4 buku.

"Ini yang menjadi 'concern' kita bersama, kenapa orang Indonesia belum banyak baca buku. Kenapa belum banyak karya yang hadir," ucapnya.

Ika melihat budaya membaca buku yang minim di kalangan masyarakat dipengaruhi banyak hal. Apalagi di era sosial media seperti sekarang ini, banyak orang menghabiskan waktunya dengan scrolling media sosial daripada baca buku.

Selain itu, kata Ika, di jaman sekarang ada isu semakin sempitnya 'atensi' seseorang karena distraksi media sosial tadi. Karena baca buku itu perlu konsentrasi dan butuh waktu yang tidak sebentar.

"Kita baca buku 200 halaman butuh sekian jam. Tapi kalau scroling medsos, tek..tek.. tek...enggak terasa waktu terbuang sia-sia," ujar Ika sambil mengingatkan pentingnya persoalan ini mendapat perhatian serius.

Ika juga menyebut akses masyarakat Indonesia terhadap buku masih sedikit dibandingkan di negara-negara lain. Sehingga masih ada gap yang cukup besar antara jumlah buku yang dibaca dengan jumlah penduduknya.

Ia melihat jumlah toko buku dan taman-taman bacaan serta perpustakaan belum mampu menjangkau populasi yang luas. Koleksi bukunya juga jarang yang diperbarui sehingga orang juga enggan datang karena bukunya cuma itu-itu saja.

Dan yang paling ironis, harga buku di Indonesia, ungkap Ika, masih relatif mahal. Mahalnya harga buku, tidak lepas dari bahan baku kertas yang masih impor sehingga harganya mahal.

Belum lagi masalah pembajakan buku yang masih marak. Pembajakan ini, tegas Ika, harus segera diberantas karena bukan hanya merugikan penuli tapi mematikan seluruh ekosistem.

'Kesadaran masyarakat untuk menghargai hak kekayaan intelektual masih rendah. Harapan kita nantinya juga ada kebijakan khusus dari pemerintah untuk memberantas pembajakan," kata Ika berharap.

Ika Natassa dan juga para penulis Indonesia lainnya, tidak hanya memikirkan soal kesejahteraan penulis. "Tapi kami juga memikirkan bagaimana agar minat baca masyarakat makin meningkat, akses terhadap buku juga makin luas," kata Ika menutup perbincangan hari itu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....