Sukacita Iduladha, Ada Perjalanan Panjang Arifin Menapaki Amanah Jagal Kurban
- 30 Mei 2026 06:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Momen Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, masyarakat berbondong-bondong menyerahkan hewan kurban kepada panitia kurban Masjid Al-Husna, di Bintaro, Jakarta, pada, Rabu, 27 Mei 2026.
- Mengingat saat ini, pihak yang sangup dan mampu menjadi pemotong atau jagal hewan kurban saat ini telah menghadapi krisis kaderisasi.
- Menjadi tukang jagal hewan kurban, Arifin mengatakan, sudah dilakukannnya sejak tahun 2013.
- Kita harapkan, pemerintah turun ke masyarakat secara aktid, memberikan fasilitas atau memfasilitasi bagi calon-calon pemotong ini.
DERU suara takbir allahuakbar, allahuakbar, allahuakbar, laillahaillah huallah huakbar, allahuakbar walillah ilham, bergema jelang pemotongan hewan kurban. Momen Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, masyarakat berbondong-bondong menyerahkan hewan kurban kepada panitia kurban Masjid Al-Husna, di Bintaro, Jakarta, pada, Rabu, 27 Mei 2026.
Hingga selesai Salad Iduladha sekitar pagi pukul 08.00 WIB, masyarakat terutama baik dewasa maupun anak-anak sudah ramai dipelataran Masjid Al-Husna. Pada momen penyembelihan hewan kurban, sering larut dalam pandangan masyarakat, jika pihak yang memotong hewan kurban tidak bisa sembarangan.
Mengingat saat ini, pihak yang sangup dan mampu menjadi pemotong atau jagal hewan kurban saat ini telah menghadapi krisis. Mengingat pula, tidak banyak orang yang kuat melihat darah dan tidak tega menyembelih hewan kurban.
Ustaz Arifin selaku tokoh agama,guru agama, dan juga pihak yang bertahun-tahun dipercaya menyembelih hewan kurban angkat bicara. Arifin tidak menampik, jika saat ini banyak pengelola masjid kesulitan mengkaderisasi anggotanya untuk menjadi jagal hewan kurban.
Kepada RRI.co.id, Arifin menjelaskan, menyembelih hewan kurban tidak bisa sembarangan dan harus menjalankan syariat Islam. Jika proses pemotongan pada leher hewan kurban salah, hal tersebut bisa menyebabkan tidak sah.
Menjadi tukang jagal hewan kurban, Arifin mengatakan, sudah dilakukannnya sejak tahun 2013. Tepatnya, ketika suatu acara akikah anak, terdapat kejadian kondisi daging hewan kurban berbau perengus (tidak sedap), padahal itu daging segar.
"Dapat inspirasi (keberanian dan mental) dari salah seseorang itu pada tahun 2013 itu ada orang punya hajatan akikah. Dia sudah tiga kali melaksanakan itu untuk anaknya, tapi hasil dagingnya itu, tiga kali (pemotongan kurban) itu bau perengus," kata Arifin kepada RRI.co.id, Rabu malam, 27 Mei 2026.

Panitia kurban Masjid Al-Husna mempersiapkan hewan-hewan kurban yang akan dikurbankan pada Iduladha 1447 Hijriah, di kawasan Bintaro, Jakarta, Selatan, Rabu, 27 Mei 2026 (Foto: RRI/Dedi Hidayat)
Ketika dirinya yang memotong dengan ketentuan syariat Islam, doa dan atas izin Allah SWT, daging hewan itu tidak lagi bau perengus. Ketika daging itu tidak berbau, daging itu sah memenuhi syarat, bisa dimasak dan dihidangkan kepada masyarakat.
Oleh karenanya, Arifin menekankan, pentingnya menciptakan generasi penerus pemotong hewan kurban untuk Iduladha. Di Masjid Al-Husna, dirinya mengaku, sudah mengajak masyarakat terutama anak-anak untuk berani menjadi jagal hewan kurban.
"Generasi-generasi (muda) itu harus bisa motong, minimal setiap Iduladha itu. Saat ini krisis tukang potong kurban, (kaderisasi) itu tidak berjalan sampai sekarang," ucap Arifin.
Pada Iduladha 2025 lalu, Arifin menceritakan, dirinya menjagal hewan sebanyak hampir 30 kambing dan 4 sapi sendirian. Dalam menyembelih hewan kurban sebanyak itu, di tengah usia dan tenaga yang tak lagi muda, diakunya tidak mudah.
"Itu, kalau sampai menyembelih kurban tenaga habis, golok yang memotong leher hewan kurban terangkat, itu tidak sah. Jadi harus tetap ditekan sampai selesai syarat pemotongan hewan kurban," ujar Arifin.
Kemudian, Arifin juga bersuara, terkait pungutan iuran untuk biaya pemotongan hewan kurban yang diminta dari pemilik hewan kurban. Arifin menjelaskan, uang tersebut sebenarnya untuk membiayai konsumsi para panitia kurban.

Panitia kurban Masjid Al-Husna saat memisahkan kulit hewan kurban kambing setelah proses penyembelihan hewan kurban saat Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, Rabu, 27 Mei 2026 (Foto: RRI/Dedi Hidayat)
Di satu sisi, Arifin menjelaskan, dalam menyembelih hewan kurban lebih baik itu dilakukan sendiri. Yakni, dilakukan oleh si pemilik hewan kurban yang ingin mengorbankannya pada momen Iduladha.
Namun, disadarinya, tidak semua orang paham menyembelih hewan kurban dengan syariat Islam. Oleh karenanya, diwakilkan kepada para panitia kurban di masjid.
"Pengorbanan itu lebih baik, lebih afdol, jika dirinya memotong sendiri. Tapi karena mereka menitipkan kepada panitia, panitia meminta uang seikhlasnya, tidak dipatok biaya," kata Arifin.
Lalu, Arifin menceritakan, pada hari yang sama, dirinya harus memotong di dua titik lokasi. Bukan lokasi yang dekat, dari Bintaro, Jakarta Selatan, dirinya harus pergi ke Cipayung, Jakarta Timur untuk memotong hewan kurban.
Oleh karenanya, dalam mengatasi krisis tukang jagal hewan kurban saat Iduladha ini, ia mengharapkan, pemerintah aktif turun gunung. Pemerintah melalui Kemenag RI, MUI, hingga ormas keagamaan seperti NU, diharapkan masif melakukan pelatihan untuk mencetak pihak pemotong hewan kurban.
"Kita harapkan, pemerintah turun ke masyarakat secara aktif, memberikan fasilitas atau memfasilitasi bagi calon-calon pemotong ini. Saya sangat prihatin ke depannya, karena saya sadar tidak bisa hal ini saya lakukan terus menerus," ucap Arifin.
Tidak lupa, Arifin mengingatkan, pentingnya sertifikasi untuk pemotong hewan kurban. Mengingat, banyak pemotong hewan kurban saat ini belum memiliki sertifikat dari pihak-pihak kompeten seperti Zulaikha dan MUI.
"Setahu saya, terdapat tiga lembaga yang mensertifikasi (pihak pemotong hewan kurban). Ada tiga Zulaikha, NU, sama Majelis Ulama Indonesia tapi itu baru hanya sekian persen ini belum semuanya belum menyeluruh," ujar Arifin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....