Menanti dari Jauh, Menangis Saat Bertemu, Kisah Keluarga Relawan Gaza

  • 25 Mei 2026 15:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tangis keluarga pecah di Terminal 3 Soekarno-Hatta saat sembilan relawan Global Sumud Flotilla akhirnya kembali ke Indonesia.
  • Di balik pelukan hangat kepulangan relawan, tersimpan kecemasan panjang keluarga selama masa penahanan berlangsung.
  • Kepulangan relawan Global Sumud Flotilla menjadi jawaban atas doa panjang keluarga yang menanti dalam ketidakpastian.

RUANG kedatangan internasional Terminal 3 Soekarno-Hatta dipenuhi tangis haru keluarga relawan Global Sumud Flotilla, Minggu sore. Bendera Palestina berkibar berdampingan bersama buket bunga putih dan poster dukungan memenuhi area terminal bandara.

Di antara kerumunan keluarga, sebuah poster bertuliskan “Abi Herman Pahlawanku” tampak berdiri paling depan sore itu. Tulisan sederhana itu seolah menjadi penanda kerinduan panjang keluarga menunggu kepulangan relawan dari perjalanan kemanusiaan.

Satu per satu relawan akhirnya keluar melewati pintu kedatangan internasional dengan langkah perlahan dan wajah kelelahan. Pelukan hangat keluarga langsung pecah di tengah kepadatan awak media dan relawan kemanusiaan yang hadir.

Tangis pecah ketika para istri, anak, dan kerabat akhirnya kembali menyentuh anggota keluarganya masing-masing. Beberapa keluarga terlihat menggenggam tangan relawan erat seolah takut kehilangan mereka kembali untuk kedua kalinya.

Ketakutan yang Dipendam Keluarga

Khoziyah, istri Herman Budianto, tampak beberapa kali menyeka air mata ketika menunggu suaminya keluar terminal kedatangan. Perempuan itu mengaku misi kemanusiaan kali ini menjadi perjalanan paling membuat dirinya dihantui kecemasan mendalam.

Menurut Khoziyah, Herman sempat mengatakan kemungkinan terburuk sebelum berangkat mengikuti misi menuju Jalur Gaza. Ucapan tersebut terus teringat sepanjang dirinya memantau perkembangan penahanan relawan melalui berbagai pemberitaan internasional.

Khoziyah (memegang bunga) bersama anak-anak mereka membentangkan spanduk dan poster menunggu kedatangan suami dan ayah mereka, Herman Budianto tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu, 24 Mei 2026 (Foto: RRI/Afriani Respati)

“Ketika sudah menandatangani ikut misi ini, beliau bilang ada kemungkinan untuk tidak kembali,” katanya lirih. Kalimat itu, menurutnya, membuat seluruh kecemasan akhirnya hanya diserahkan kepada doa dan keyakinan kepada Tuhan.

Selama hampir sebulan keberangkatan Herman, komunikasi singkat melalui panggilan video menjadi penguat terbesar bagi keluarganya. Khoziyah mengaku berusaha tetap tersenyum setiap berkomunikasi agar sang suami tidak kehilangan semangat menjalankan misi.

Herman Budianto memeluk hangat isteri dan anak-anaknya sesaat setelah tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu, 24 Mei 2026 (Foto: RRI/Afriani Respati)

“Yang ada bagaimana supaya kita membahagiakan beliau,” ucap Khoziyah dengan mata berkaca-kaca di terminal kedatangan. Baginya, melihat Herman kembali menginjakkan kaki di Indonesia sudah menjadi kebahagiaan yang sulit digambarkan kata-kata.

Menunggu di Tengah Ketidakpastian

Perasaan serupa dirasakan Arie, istri relawan Ronggo Wirasanu, yang terus mengikuti kabar suaminya dari Indonesia. Ia mengaku selalu cemas sejak kapal relawan memasuki wilayah yang disebut para aktivis sebagai zona kuning.

Namun, setiap sambungan telepon dari Ronggo selalu membuat dirinya sedikit lebih tenang menghadapi situasi tidak menentu. Arie mengatakan keluarga hanya dapat menguatkan doa ketika para relawan berada jauh di kawasan konflik.

Arie, isteri Ronggo Wirasanu bersama Hanan anak mereka saat diwawancarai awak media sambil menunggu kedatangan Ronggo di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu, 24 Mei 2026 (Foto: RRI/Afriani Respati)

“Kalau untuk perasaan pasti ada rasa khawatir,” kata Arie saat menunggu kepulangan suaminya di bandara internasional. Meski demikian, ia memahami keputusan Ronggo membantu rakyat Palestina merupakan panggilan kemanusiaan yang diyakini sejak awal.

Keluarga lain juga terlihat menunggu dengan wajah cemas sambil menggenggam telepon genggam dan tas kecil masing-masing. Sebagian relawan kemanusiaan turut berdiri bersama keluarga membawa syal serta atribut solidaritas untuk Palestina.

Kepulangan yang Dinanti

Kakak relawan As’ad Aras Muhammad, Rafika Aras, mengaku bersyukur adiknya akhirnya kembali dalam keadaan sehat dan selamat. Ia mengatakan keluarga terus mengikuti perkembangan penahanan As’ad sejak kapal bantuan dicegat militer Israel beberapa hari lalu.

Menurut Rafika, tekanan mental selama penahanan menjadi ujian berat bagi para relawan kemanusiaan asal berbagai negara. Meski demikian, semangat As’ad membantu rakyat Palestina disebut tetap tidak pernah surut sedikit pun.

Rafika Aras, kakak Asad Aras Muhammad, salah satu relawan Global Sumud Flotilla tersenyum menyambut kedatangan adiknya di Bandara Soekarno-Hatta bersama delapan relawan lainnya, Minggu, 24 Mei 2026 (Foto: RRI/Afriani Respati)

“Beliau punya semangat juang yang tinggi,” ujar Rafika ketika menyambut kedatangan adiknya di terminal kedatangan internasional. Ia menyebut As’ad masih ingin melanjutkan perjuangan kemanusiaan setelah kembali pulang ke Indonesia nantinya.

Suasana terminal semakin emosional ketika sembilan relawan berdiri bersama keluarga untuk pertama kalinya setelah penahanan panjang. Sebagian keluarga terus memeluk anggota keluarganya sambil mengusap wajah yang terlihat letih akibat perjalanan panjang.

Menunggu Kabar di Tengah Keheningan

Di sudut terminal kedatangan, Noor dan Fidela berdiri menunggu sahabat mereka, Hendro Prasetyo, kembali pulang. Keduanya merupakan rekan satu tim Hendro dalam organisasi kemanusiaan SMART 171 yang ikut memantau pelayaran sejak awal.

Menurut Noor, Hendro termasuk relawan yang paling serius mempersiapkan keberangkatan menuju misi kemanusiaan untuk Gaza. Selama pelayaran berlangsung, Hendro masih rutin mengirim dokumentasi kondisi kapal kepada rekan-rekannya di Indonesia.

Beberapa foto dan kabar perjalanan masih sempat diterima tim sebelum komunikasi mendadak berhenti secara tiba-tiba. Keheningan itu menjadi tanda pertama yang membuat para relawan Indonesia mulai merasa ada situasi tidak biasa.

Fidela mengatakan Hendro dikenal aktif mengabarkan perkembangan perjalanan melalui percakapan grup relawan selama pelayaran berlangsung. Karena itu, hilangnya komunikasi secara mendadak membuat seluruh anggota tim langsung diliputi kekhawatiran mendalam.

Noor dan Fidela, teman satu gerakan Hendro salah seorang relawan Global Sumud Flotilla datang bersama rekan-rekannya untuk menyambut kedatangan Hendro di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu, 24 Mei 2026 (Foto: RRI/Afriani Respati)

“Iya bahkan di kapal pun dia masih aktif komunikasi,” ujar Fidela mengenang pesan terakhir rekannya sebelum hilang kontak. Ia mengatakan siaran langsung pelayaran dan pelacak kapal juga mendadak terputus sebelum kabar pencegatan diketahui.

Sejak kabar penangkapan tersebar, Noor mengatakan para relawan Indonesia terus memantau perkembangan kondisi seluruh peserta pelayaran. Mereka mencari informasi mengenai lokasi penahanan, kondisi kesehatan, hingga kemungkinan pembebasan para relawan kemanusiaan tersebut.

Menurut Noor, kabar kepulangan para relawan menjadi momen yang sangat dinanti seluruh anggota tim dan keluarga. Karena itu, mereka memastikan datang langsung ke Terminal 3 untuk menyambut sahabatnya kembali ke Indonesia.

“Sudah pasti karena bagian dari sahabat kita,” kata Noor sambil menunggu Hendro keluar dari area kedatangan internasional. Kalimat singkat itu menggambarkan ikatan emosional para relawan yang selama ini berjuang dalam misi kemanusiaan bersama.

Luka dari Perjalanan Kemanusiaan

Di balik pelukan hangat keluarga, para relawan membawa cerita panjang mengenai kekerasan selama masa penahanan berlangsung. Herman Budianto mengaku banyak relawan internasional mengalami luka berat sejak proses pencegatan kapal bantuan dilakukan.

Menurut Herman, sejumlah relawan mengalami patah tulang, luka tembak, hingga tindakan kekerasan fisik selama penahanan berlangsung. Ia menyebut para relawan diperlakukan tidak manusiawi ketika dipindahkan menuju lokasi penahanan oleh militer Israel.

Relawan lain, Ronggo Wirasanu, mengatakan para aktivis juga mengalami pukulan, tendangan, hingga ancaman selama ditahan. Para relawan bahkan melakukan mogok makan sebagai bentuk protes terhadap perlakuan yang mereka alami selama penahanan.

Meski membawa luka fisik dan tekanan mental, para relawan tetap menegaskan dukungannya terhadap perjuangan rakyat Palestina. Bagi mereka, penderitaan selama beberapa hari itu belum sebanding penderitaan panjang warga Gaza selama bertahun-tahun.

Kepulangan yang Menjadi Pengingat

Kepulangan sembilan relawan Indonesia sore itu bukan sekadar akhir perjalanan panjang dari kawasan konflik Timur Tengah. Bagi keluarga mereka, kepulangan tersebut merupakan jawaban dari doa panjang yang dipanjatkan setiap malam penuh kecemasan.

Tangis haru yang memenuhi Terminal 3 Soekarno-Hatta menjadi gambaran sederhana tentang arti sebuah kepulangan keluarga. Di tengah hiruk pikuk bandara internasional, pelukan hangat sore itu terasa lebih kuat dibanding suara apa pun.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....