Jeddah dan Al-Balad Jadi Gerbang Haji Masa Lampau

  • 18 Mei 2026 22:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Al-Balad sebagai gerbang haji masa lampau di Jeddah
  • Jeddah sejak abad ke-7 jadi pelabuhan utama dan pusat perdagangan
  • Rumah menara abad-19 gabungkan tradisi lokal dan jalur perdagangan

RRI.CO.ID, Jeddah — Aroma kayu lawas dan rempah bercampur dengan angin Laut Merah menyambut setiap langkah di lorong-lorong Al-Balad. Sebuah kota tua di Jeddah, Arab Saudi.

Al-Balad menjadi saksi perjuangan haji pada masa lampau ketika transportasi masih mengandalkan jalur laut. Bangunan tua, pintu besar, dan jendela rawasheen menuturkan sejarah panjang kota yang dijuluki “Gerbang Makkah”.

Menurut situs resmi UNESCO, sejak abad ke-7 Masehi, Jeddah menjadi pelabuhan utama jalur perdagangan Samudra Hindia. Sekaligus gerbang masuk jemaah haji dari berbagai belahan dunia.

“Sekitar abad ke-19, jemaah haji dari seluruh dunia. Termasuk Nusantara, Mesir, dan India, sudah melewati Al-Balad,” kata Anis Diyah Puspita, alumnus Universitas Al-Azhar Mesir dan petugas PPIH Arab Saudi 2026, di Jeddah, Jumat (15/5/2026).

Al-Balad berkembang menjadi pusat multikultural dengan arsitektur khas. Termasuk rumah menara dari akhir abad-19 yang menggabungkan tradisi lokal dan pengaruh jalur perdagangan.

“Jemaah tidak hanya menunaikan rukun Islam kelima, tetapi juga bertukar ilmu fiqih dan perkembangan Islam,” ujar Anis. Ia menyebut tokoh ternama Indonesia seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi pernah singgah di kota ini.

Perjalanan haji pada masa lampau sangat berat. Anis menuturkan jemaah Indonesia bisa menghabiskan waktu hingga satu tahun untuk perjalanan pulang-pergi haji. “Kalau saat ini bisa sembilan jam sampai di Makkah, dulu banyak jemaah yang meninggal karena transportasi terbatas,” kata Anis.

Sesampainya di Al-Balad, jemaah melanjutkan perjalanan ke Makkah dengan onta. Atau berjalan kaki jika tidak mampu.

Tradisi ‘pamitan haji’ di Indonesia muncul karena perjalanan yang berat tersebut. Di mana jemaah bisa saja tidak kembali ke keluarga mereka. (MCH)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....