Jejak Sunyi Pengabdian Fahira Idris: dari Senayan ke Jalanan Bersama 'Bang Japar'
- 17 Mei 2026 12:54 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Pintu ruang kerja di Kompleks Parlemen Senayan nyaris tak pernah benar-benar tertutup bagi Fahira Idris. Dari balik meja kerjanya sebagai Anggota DPD RI, agenda politik kerap berderet panjang.
Namun, bagi Fahira, hari kerja sering kali belum selesai ketika lampu di Senayan mulai meredup. Ia masih punya satu kantor lain yang menunggu, yakni, Markas Komando Pusat Bang Japar, di Jln H.Sa'abun Nomor 20 Jatipadang, Ps.Minggu, Jakarta Selatan.
Selain menjadi pusat koordinasi organisasi Bang Japar, kantor ini juga merupakan 'Rumah Aspirasi Fahira'. Selaku Senator Dapil DKI Jakarta, sehari-hari di sini Fahira menampung keluhan dan aspirasi warga Jakarta.
Di tempat ini pula, cerita tentang advokasi warga, ambulans gratis, hingga pendampingan hukum bergulir setiap hari. Organisasi yang dipimpinnya ini—akronim dari Kebangkitan Jawara dan Pengacara—lahir dari semangat menggabungkan kekuatan tokoh lokal dan intelektual hukum untuk membela masyarakat yang termarjinalkan.
Dari Warisan Politik ke Jalan Pengabdian
Fahira bukan nama asing di dunia politik. Ia adalah putri sulung politisi senior almarhum Fahmi Idris, yang tak lain adalah mantan Menteri Perindustrian. Sontak, Fahira yang Lulusan Universitas Padjadjaran ini tumbuh dalam atmosfer yang akrab dengan isu elite politik dan kebijakan publik skala nasional.
Namun, Fahira dalam perjalanan pribadinya justru menempuh jalur yang lebih membumi: advokasi sosial berbasis kerelawanan. Yang tak kalah menarik, Bang Japar resmi berdiri pada 1 Juli 2017, berawal dari sebuah gerakan relawan Pilkada DKI 2027.
Gerakan itu awalnya muncul dari kebutuhan sederhana—mengawal tempat pemungutan suara dan menjaga kondusivitas ibu kota. Setelah kemenangan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, Fahira memilih mengubah gerakan relawan tersebut menjadi organisasi berbadan hukum agar manfaatnya bisa terus dirasakan masyarakat.
Sejak saat itu, Bang Japar berkembang menjadi organisasi sosial yang bergerak di bidang advokasi hukum, kesehatan, pendidikan, keamanan lingkungan. Hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ketika Organisasi Dibangun dengan Hati
Sabtu pagi, 16 Mei 2026, di Graha Wisata TMII, Fahira berdiri di hadapan ratusan kader Bang Japar yang mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Angkatan ke-2.
Di ruangan itu, semangat relawan terasa hangat—lebih menyerupai keluarga besar ketimbang organisasi formal. Turut hadir membuka kegiatan, Ketua DPRD DKI Jakarta, Suhud Alynudin.
Tema kegiatan kali ini sederhana: Berbuat dan Bermanfaat. Namun bagi Fahira, maknanya sangat dalam.
“Bang Japar harus lebih besar dalam manfaat. Masyarakat harus merasakan kehadiran organisasi ini sebagai solusi,” ujar Fahira dikutip rri.co.id, Minggu 17 Mei 2026.
Bagi Fahira, kepemimpinan bukan tentang jabatan, melainkan tanggung jawab. Ia menekankan bahwa kader harus hadir saat masyarakat membutuhkan, siap bekerja, siap dikritik, dan tidak lari dari masalah.
Program Nyata di Tengah Warga
Selama hampir sembilan tahun perjalanan, Bang Japar menjejak lewat kerja nyata. Mulai dari bantuan hukum gratis, ambulans tanpa biaya, donor darah rutin, advokasi kesehatan dan pendidikan, hingga pengembangan UMKM.
Mereka juga aktif menjaga kondusivitas wilayah bersama Polda Metro Jaya dan Kodam Jaya. Di bidang budaya, organisasi ini turut melestarikan tradisi Betawi—menjaga akar lokal di tengah modernitas kota.
Semua kegiatan itu dirancang agar kader tidak sekadar dikenal. Tetapi juga dirindukan kehadirannya oleh masyarakat.
“Jangan hanya bangga memakai atribut organisasi,” kata Fahira kepada peserta LDK. “Bang Japar membutuhkan kader yang siap melayani,” kata Fahira menegaskan.
Keraguan yang Berubah Menjadi Bukti
Membangun organisasi berbasis relawan bukan perkara mudah. Fahira mengakui, di awal perjalanan banyak pihak meragukan Bang Japar bisa bertahan. Kerelawanan sering dianggap rapuh dan mudah pudar.
Namun, waktu justru membuktikan sebaliknya. Empati, kepedulian, dan semangat pengabdian menjadi fondasi yang memperkuat organisasi ini.
“Bang Japar tumbuh karena digerakkan oleh orang-orang yang bekerja dengan hati,” kata Fahira mengenang awal perjalanan Bang Japar.
LDK Angkatan ke-2 yang berlangsung hingga 17 Mei 2026 menghadirkan berbagai narasumber, termasuk peneliti dari BRIN, perwakilan pemerintah daerah, hingga tokoh hukum dan keamanan. Semua hadir untuk menyiapkan kader yang tangguh menghadapi tantangan organisasi yang terus membesar.
Lebih Besar dalam Manfaat
Menjelang penutupan sesi, Fahira menyampaikan pesan sederhana namun tegas: semakin besar organisasi, semakin besar pula ujian yang datang. “Kalau ingin menjadi pemimpin, jangan mudah menyerah, jangan mudah pecah, dan jangan mudah baper,” ucapnya.
Di balik kalimat itu, tersimpan filosofi yang membentuk perjalanan Bang Japar: organisasi bukan sekadar nama. Melainkan kerja sunyi yang terus bergerak—dari Senayan ke jalanan kota, dari ruang rapat ke rumah-rumah warga Jakarta yang membutuhkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....